Mayor Udara Soeyono (Kiri) dan Kartosoewirjo (Kanan)


FB Kang Imam | Bertindak sebagai saksi dalam perkara Letkol Untung bin Syamsuri, Mayor Udara Suyono mengungkapkan bukti bahwa PKI merupakan dalang dibalik G30S/PKI.

Dalam persidangan Mahmilub, Mayor Sujono memaparkan beberapa hal diantaranya:

- Dirinya adalah instruktur program pelatihan militer bagi sukarelawan/sukarelawati di Lubang Buaya.

- Pelatihan yang dilaksanakan mencakup penggunaan senjata ringan hingga senjata berat.

- Para sukarelawan/ti yang menjalani pelatihan merupakan anggota ormas underbouwnya PKI (Pemuda Rakyat, SOBSI, BTI juga GERWANI).

- Meskipun menjabat sebagai instruktur, namun dirinya tak bisa menggunakan pasukan yang telah dilatihnya tanpa seizin pimpinan PKI.

- Sukarelawan/ti yang telah dilatih kemudian dipersenjatai dan dipergunakan dalam aksi G30S/PKI.

- Tanggal 30 September 1965, sekira pukul 21:00 dirinya diperintahkan oleh Kol Latief untuk menjemput DN Aidit dan Mayjen Pranoto di kediaman Syam untuk dibawa ke wilayah Lanud Halim.

- Di gedung Penas, Mayor Sujono bertemu dengan Kol Latief, Syam dan Letkol Untung, dirinya juga menyaksikan kedatangan kurir yang dikirim oleh Kol Gatot Soekrisno dari Lubang Buaya yang melaporkan bahwa pasukan Pasopati sudah tiba dengan membawa 3 orang sasaran dalam kondisi tewas dan 4 orang lainnya dalam kondisi masih hidup. Selanjutnya Kol Latief memberi perintah kepada Kol Gatot Soekrisno untuk menghabisi 4 orang yang masih hidup.

- Mayor Sujono juga mendengar Kol. Latief dan Syam mengutarakan rencana untuk membunuh Presiden Soekarno, Letkol Untung terlihat menyetujui. Namun rencana itu ditolak oleh Mayor Sujono seraya menyampaikan dampak yang akan terjadi jika rencana itu dilaksanakan.

Berdasarkan kesaksian Mayor Udara Sujono, dirinya juga aktif menghadiri rapat persiapan G30S/PKI. Dalam rapat-rapat tersebut selalu melibatkan anggota PKI, yang paling sering hadir adalah Syam dan Pono.

Juga melalui kesaksian tersebut terungkap bahwa Mayjen Pranoto (yang pada kesempatan berikutnya diangkat oleh Bung Karno menjadi care taker Menpangad menggantikan Letjen A Yani) merupakan bagian dari G30S/PKI.

Menurut Syam, ide pembunuhan terhadap Bung Karno yang diutarakan oleh Kol Latief merupakan perintah dari DN Aidit.

Rencana keji itu urung dilakukan setelah Mayor Sujono menguraikan potensi perubahan situasi yang bakal terjadi jika ide Aidit itu dilaksanakan, secara otomatis akan memperluas front gerakan dan artinya akan membuat mereka tak hanya menghadapi pasukan Nasution dan Soeharto, melainkan juga akan berhadap-hadapan dengan loyalis Bung Karno.

Fakta-fakta tersebut jarang diungkapkan dalam buku-buku sejarah, sehingga memberikan ruang bagi PKI Gaya Baru untuk melakukan agitasi di era reformasi sambil berkamuflase diantara pendukung Bung Karno.

Terlebih lagi generasi muda yang 2 dekade ini tak lagi memperoleh asupan pendidikan sejarah yang memadai, sehingga rentan dimanfaatkan oleh kaum komunis yang berusaha membangkitkan kembali komunisme di Indonesia.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar