FB Indonesia Tempo Doeloe | Artikel di harian Indonesia Raya tanggal 12 Januari 1974 oleh Indra Mahmoeddin tentang suatu pekerjaan dan hubungannya dengan asal daerah pelakunya. Penulisnya mengambil contoh sbb:
1. Tukang kredit – dari daerah Tasikmalaya
2. Tukang sol sepatu/tk. Cukur- dari daerah Garut
3. Tukang daging – dari daerah Banten
4. Tukang Becak- dari daerah Tegal/Indramayu
5. Tukang sayur - dari daerah Bogor
6. Tukang asah pisau/gunting - dari daerah Yogya
7. Tukang bunga - dari daerah Rawabelong/Jakarta
8. Tukang soto - dari daerah Surabaya
9. Sopir bus/kondektur/calo – dari daerah Tapanuli
10. Pedagang kaki lima - dari daerah Minang
11. Kuli bangunan – dari daerah Sindang
12. Kuli Pelabuhan - dari daerah Banten, Makassar
13. Dst
Entah opini sang penulis tersebut masih relevan atau tidak di zaman sekarang.
=========
Tulisan lengkap:
Pekerjaan Orang-orang di Jakarta, Umumnya Dapat Menunjukkan Dari Daerah Mana Mereka Datang
Oleh: Indra S. Mahmoeddin
Kalau anda membaca tulisan ini, janganah anda mempunyai prasangka bahwa kita sengaja menulis hal-hal yang bersifat provinsiaslime. Akan tetapu tulisan ini semata-mata hanya sekedar menggambarkan sketsa kehidupan masyarakat di kota Metropolitan Jakarta yang beraneka warna coraknya. Jadi tulisan ini hanya mengungkapkan fakta yang sesungguhnya.
Jakarta sebagai kota besar, serba lux, dan serba menggairahkan setelah mengundang orang-orang daerah untuk datang ke kota ini sehingga berduyun-duyunlah orang-orang berurbanisasi. Urbanisasi yang kompleks ini, akhirnya menciptakan penduduk Jakarta yang unik dan beraneka ragam. Pendatang-pendatang ini yang dari dalam Pulau Jawa sendiri (Jabar-Jateng-Jattim), ada dari Sumatera, Ambon Sulawesi, dan dari pulau-pulau lain. Masalah yang sebenarnya yang menyebabkan orang daerah hijrah ke Jakarta adalah karena masalah kesempatan kerja. Adalah suatu kenyataan bahwa di daerah kesempatan kerja amat kecil, sedangkan di Jakarta kita akui kesempatan kerja lebih terbuka.
Orang di Jakarta tak akan kelaparan, asal saja tidak malu dalam mencari nafkah, apakah sebagai tukang parkir, tukang koran, tukang becak, tukang rokok, maupun sebagai penjual code. Inilah 'seni' hidup di Jakarta, dimana kemiskinan atau kemelaratan seseorang tidak begitu kelihatan. Hal ini membuat orang daerah enggan pulang ke kampungnya, disamping 'optimisme' akan hidup yang sukses selalu menyala di hatinya. Masalah urbanisasi ini amat memusingkan Bang Ali,[1] sehingga akhirnya diproklamirkanlah Jakarta sebagai kota tertutup pada tahun 1970.
Sebagai akibat urbanisasi ini, secara tidak langsung atau secara otomatis timbullah pergaulan sesama orang daerah. Pertukaran informasi terjadi. Keadaan ini adalah logis, mengingat kota Jakarta yang luas ini menyebabkan komunikasi/pergaulan yang intim dengan orang yang bukan satu daerah adalah sulit. Hal ini juga terdapat di kalangan mahasiswa, pelajar dan bahkan dalam kalangan kaum intelek sekalipun. Jadi komunikasi yang paling mudah dan berhasil adalah dengan sesama orang daerah, karena dikaitkan oleh kesamaan tradisi, adat istiadat, kesamaan bahasa, kesamaan toleransi maupun kesamaan nasib.
Prosesnya adalah begini. Mula-mula seorang pendatang baru berkumpul dengan familinya, kawannya atau orang kampungnya. Proses ini berlangsung bukan saja dalam pergaulan sehari-hari, akan tetapi juga dalam menanggulangi kebutuhan hidup atau dalam mencari nafkah, sehingga di Jakarta ini dengan mudah kita dapat menebak identitas daerah seseorang pencari nafkah.
Sebagai implikasi dari hal yang kita uraikan di atas tadi, maka di Jakarta secara tidak tertulis terbentuklah sindikat pencari-pencari nafkah yang berasal dari daerah yang sama. Tetapi ini bukanlah suatu ketentuan, tetapi kita ambil bahagian yang terbesar.
Sekedar anda ketahui, baiklah kita sebutkan saja perihal pencari-cari nafkah ini dikaitkan dnegan daerah asalnya. Untuk ini kita ambil saja contoh-contoh yang populer yang kita ambil dari tingkat orang kebanyakan:
1. Tukang kredit – dari daerah Tasikmalaya
2. Tukang sol sepatu/tk. Cukur- dari daerah Garut
3. Tukang daging – dari daerah Banten
4. Tukang Becak- dari daerah Tegal/Indramayu
5. Tukang sayur - dari daerah Bogor
6. Tukang asah pisau/gunting - dari daerah Yogya
7. Tukang bunga - dari daerah Rawabelong/Jakarta
8. Tukang soto - dari daerah Surabaya
9. Sopir bus/kondektur/calo – dari daerah Tapanuli
10. Pedagang kaki lima - dari daerah Minang
11. Kuli bangunan – dari daerah Sindang
12. Kuli Pelabuhan - dari daerah Banten, Makassar
13. Dst
Itulah gambaran yang dapat anda saksikan tentang profesi pencari nafkah di Jakarta. Ada baiknya gejala-gejala tersebut dapat menjadi bahan research bagi mahasiswa jurusan Sosiologi kita, sebab masalahnya cukup interesant tetapi multi complex. Mudah-mudaha tulisan ringan ini dapat menjadi pengetahuan populer bagi para pembaca, sambil mengetahui bakat, watak, serta pembawaan kawan-kawan kita dari daerah. Itulah Jakarta "the big village"
===========
Catatan kaki oleh Admin:
[1] Panggilan untuk Ali Sadikin, Gubernur Jakarta masa 1966-1977


Tidak ada komentar:
Posting Komentar