Langsung ke konten utama

Jika Menegakkan Yang Haq dikatakan Radikalis

 


TIDAK ADA ULAMA DI SUMATERA BARAT YANG PUNYA PAHAM RADIKALISME
(kajian kesalahan dan Hukuman menurut Adat Minangkabau)

Ciloteh Tanpa suara- “Assalamulaikum Pak Haji Saiful Guci , ado nan taguriah-guriah di dalam hati nan ingin ambo tanyoaan ka Pak Haji, sebab Pak haji Saiful tingga di Lima Puluh Kota dan dakek dengan Kota Payakumbuh, yaitu tentang ulama di Payakumbuh, ambo adolah urang Koto Nan Ampek nan tingga di Riau, sebab ambo baco berita oktober Tahun 2024 berjudul“ MUI Payakumbuh tolak kedatangan Ustadz Abdul Somad (UAS) ke Payakumbuh” dan Oktober tahun 2025 “Ulama kecam panitia konser di Payakumbuh buntut ubah lirik Tuhan den Paso”, membaca dua berita ini seolah-olah ulama mempunyai paham radikalisme, bagaimana pendapat dari pak Saiful Guci ?” tulis Sahbudin dalam kotak percakapan.

“Kalau menurut pendapat saya, tidak ada Ulama di Payakumbuh dan Sumatera Barat yang mempunyai paham Radikal atau Radikalisme, sebab falsafah hidup mereka “ Adat basandi syarak, Syarak basandi Kitabulllah (ABS-SBK) dalam buku Tambo Surau bertulisan arab-melayu singkatannya (Ain Ba syin – Syin Ba kaf ).

Berbeda di zaman Paderi dulu di awal abad ke 19 (1803-1837) jargonnya “Syarak mangato, adat memakai“ apa yang tidak sesuai dengan syarak tidak diperbolehkan dilaksanakan di bumi Alam Minangkabau. Kelompok Paderi (kaum Putih) berusaha untuk mengganti tatanan nilai yang ada di dalam masyarakat sesuai dengan ideologi yang dianutnya. Simbol perjuangan yang mereka usung ialah jihad untuk melawan bid’ah dan kekafiran.[1]

Istilah radikal dan radikalisme berasal dari bahasa Latin “radix, radicis”. berarti akar, sumber, atau asal mula radikal sama dengan menyeluruh, besar-besaran, keras, kokoh, dan tajam. Hampir sama dengan pengetian itu, radikal diartikan sebagai “secara menyeluruh”, “habis-habisan”, “amat keras menuntut perubahan”, dan “maju dalam berpikir atau bertindak”. didefinisikan sebagai faham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Radikalisme dengan arti paham dalam politik yang ekstrem dan dengan menggunakan cara kekerasan, atau paham keagamaan yang fanatik hingga memaksa orang lain, jelas bertolak-belakang dengan Islam. Di dalam al-Quran disebutkan: Lâ ikrâha fî ad-dîn (Tak ada paksaan dalam memeluk Islam) (QS al-Baqarah [2]: 256). Memaksakan agama Islam kepada orang lain adalah larangan keras di dalam Islam. palagi mengganggu, menteror, dan mengebom orang-orang kafir yang hidup berdampingan dengan umat Islam. Itu jelas dilarang keras dalam Islam. Jadi, Islam menolak radikalisme. Islam menolak cara-cara kekerasan dalam perubahan sosial-politik dan juga dalam pemaksaan agama seseorang. Mungkin terkesan tidak konsisten: radikal tetapi menolak radikalisme. Dan Minangkabau menolak paham Radikalisme” Terang saya.

“Ohya, apa pendapat Pak Saiful tentang konser kemarin ada lirik kata “Tuan den paso yang terdengarnya Tuhan den paso, sehingga ulama mengencam panitia konser “ tulis Sahbudin lagi.

“Itu adalah nasehat ulama buat anak muda, suatu hal biasa dalam menjaga marwah Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabulah. Jika tidak ulama siapa lagi yang akan memberi nasehat dan peringatan. Sebuah nasehat dari ulama ibaratnya "Hati-hati bajalan malam kok tataruang dek duri" bermakna harus berhati-hati dalam melakukan sesuatu, terutama saat melakukan tindakan yang berisiko, agar terhindar dari masalah atau kerugian. Nasihat ini adalah pengingat untuk selalu berhati-hati dan berwaspada dalam setiap tindakan, agar tidak jatuh dalam masalah atau kesulitan yang tidak diinginkan. “ tulis saya.
“Tetapi menurut berita yang saya baca. mereka akan menuntut tindakan hukum, bagaimana bentuknya apakah sudah direalisasikan ?.” Tulis Sahbudin lagi.[2]
“Jika terkait dengan ABS-SBK tentu dikaji dulu letak kesalahannya menurut adat, baru di kaji dengan syarak “ Jawab saya.

“Bagaimana mengkajinya menurut adat ?"
“Harus ditilik hukum tempat kejadian kesalahan mereka, karena konser dilakukan di tempat terbuka, bukan di ruang tertutup maka Tempat berdirinya kesalahan ada empat , yaitu :

1. Salah fi'il (salah kejahatan). Terjadi pada perbuatan, seperti mencuri, membunuh dan sebagainya.
(fiil salah kejahatan) ada tiga macam:
Yang pertama disebut undang lalu melayuri. Yaitu perbuatan kejahatan oleh seseorang cukup saksi dan keterangannya. Jadi si penjahat tidak dapat mengeraskan daun, tidak bisa memungkiri perbuatan salahnya itu, tidak ada jalan baginya untuk menolak da'wa.
Yang kedua, undang surut menghangusi. Yaitu kesalahan ternyata kepada penda'wa atau terbalik da'wa. Setelah diperiksa dapatlah keterangan, bahwa si penda'wa yang melakukan kejahatan. Tetapi untuk melindungi dirinya, maka dia menda'wa seseorang atau memberikan keterangan, bahwa sesorang itu yang melakukan kejahatan. Dikatakan oleh peribahasa Minang: "panggang babaliak, kaji berulak."
Yang ketiga, undang tertumbuk berkubangan. Yaitu orang yang mengakuí membelí barang asal curian darí orang lain (penadah), sedangkan dia yang dída'wa. Manakala día tidak bisa menyatakan dari siapa atau tidak nyata dia membeli, maka itu dinamakan undang tertumbuk, yaitu tidak bisa menyalurkan kesalahan itu kepada orang lain. Dialah yang berbuat jahat. Itulah yang dinamakan undang tertumbuk, yaitu perbuatan jahat telah tertumbuk atas diri orang yang mengaku, dia hanya pembeli, dialah yang menjadi kubangan undang (perbuatan jahat).
Itulah yang disebut perjalanan undang, yang dilindungi oleh orang yang mengerjakannya dengan jalan menda'wa orang lain, dan ada pula yang mangaku hanya sebagai sipembeli.
Nama undang atau nama fiil kejahatan ada tiga banyaknya:
Yang pertama, undang putih tampak hari. Artinya, perbuatan jahat yang nyata, yang kelihatan oleh orang banyak, atau kejadian dimuka umum. Semua orang menampak, dapat memandangi, dan tahu caranya terjadi dan tahu pula siapa yang melakukan.
Yang kedua, undang lumpuh tidak berkaki. Artinya, tidak terang orang yang melakukan kejahatan, tidak didapat jejaknya sedikit juga, pada hal yang dicurigai ada, tetapi tak ada jalan untuk menda'wanya.
Yang ketiga, undang membubung tiada sunyi. Yaitu setelah berlakunya kejahatan, maka si jahat melarikan diri jauh ke negeri lain dan tidak bisa ditangkap untuk dida'wa dan diadili. Kejahatan demikian tidak habis dengan begitu saja, Apabila si jahat kembali ketempat dia berbuat kejahatan itu, maka dia akan dida'wa dan diadili.
Itulah maka disebutkan jauh berhambatan dan hampir bertungguan. Dimasa dia melarikan diri saja dia tidak dituntut, tetapi sekembalinya tentulah akań diadakan tuntutan sehingga tercapai keadilan.
2. Salah Kurenah, yaitu perangai tubuh yang menjadi pelaksanaan (terpakai) selalu hari. Jadí perbedaan fi'il dengan perangai ialah perangai sebagai diatas; dan yang fi'il yaitu perbuatan tubuh sesudah jadi dia lenyap.
3. Salah kato (kata), seperti memaki, menghina, salah mengucapkan lirik lagu “Tuan den paso terdengar Tuhan den paso “ sehingga viral di dunia maya dan sebagainya. Jika tidak ada jenis kesalahannya dalam adat ini baru jatuh kepada “sumbang salah”
4.Salah i'tikad, yaitu salah maksud. Yang i'tikad ialah guris-guris hati yang menjelma menjadi maksud dan belum lahir pada perbuatan yang nyata. I'tikad itu ada dua macam.
Partamo I’tikat jalan syaiäh, dan Kaduo I’tikat jalan hasanah.
1. Itikat menurut Jalan syaiäh itu terbagi empat, yaitu :
Nan partamo hawa yaitu bapantang kalintasan. Dimaksud dengan hawa, yaitu tidak suka dan tak senang perasaan hati dan jiwa jika sesuatu buah pemikiran atau pendapatnya dibantah dan dibanding, walaupun pendapatnya itu tak benar. Dia suka apa-apa saja yang timbul dari padanya jangan dibantah. Baginya tak mengapa membantah sesuatu yang diterbitkan oleh buah pemikiran orang lain, sebab bukan berasal dari dia. Sifat seperti itulah yang terpakai oleh penghulu yang pembantah yang merupakan larangan penghulu.
Nan kaduao nafsu yaitu bapantang kakurangan. Menurut nafsu yaitu nafsu disegala bidang tak mempunyai batas, asal mungkin diperbuat dan dilangsungkan terus saja dilaksanakannya. Día tidak mengenal malu, sopan, peri kemanusiaan dan keTuhanan dan sebagainya. Walapun bagaimana rintangan yang akan menghalangi, namun nafsu itu dengan segala daya upaya si bernafsu mesti menyampaikan hasratnya. Disitulah timbulnya salah dan yang menjadi sebab terjadinya selisih. Dan ítulah yang dihukum.
Nan katigo dunia yaitu bapantang kalangkahan (karandahan). Menurut dunia ialah hati dan jiwa tidak mau kelangkahan (kerendahan). Hendaknya kíta melebíhi terus dari pada orang lain, baik mengenaí pakaian, perumahan dan lain-lain berupa material atau moral. Padahal orang lain, jíka berkelebíhan memang sudah sepantasnya menurut keadaannya, memang berkelebihan dalam segala bidang. Tetapi anai-anai hendak menyamai enggang dan berlomba-lomba terbang kelangit atau hendak mencapai gunung. Itulah yang menímbulkan perbuatan jahat yang menjadikan salah yang dihukum.
Nan kaampek syaitan yaitu bapantang kalah. Menurut syaitan yaitu walaupun telah nyata bersalah dan sebagainya, meskipun hati telah tahu bahwa perbuatannya itu salah, namun pantangannya untuk mengakui kesalahannya itu, tak mau surut kepada yang benar, walau apapun resiko yang akan diterimanya akibat perbuatan dan fahamnya itu. Dia seperti syaitan yang tak mau mengikut perintah Tuhan dan tak peduli akan balasan yang kekal dan abadi dalam neraka jahannam nanti, di yaumil akhirat. Itulah jalan syaiäh yang menjadi pokok pangkal kejahatan yang dihukum disebut didalam adat telaga undang.
2. Itikad Menuruti jalan hasanah, yang menuju kepada segala kebaikan, terbagi empat (4), yaitu :
Nan Partamo menuruti syari'at, perjalanan kebaikan yang nyata, patuh diri melaksanakan pebuatan baik yang diakui pikiran sendiri bahwa itu harus dikerjakan. Bukan hanya sekedar mengakui patut dikerjakan saja, bahkan disertai oleh perbuatan.
Nan Kaduo,menurut hakikat yaitu pekerjaan yang dikerjakan itu adalah sebenarnya dari hati yang mengetahui dan menginsafi, bahwa itu harus diperbuat.Bukanlah perbuatan itu timbul lantaran menurut orang saja, seperti kata pepatah: "bondong air bondong dedak", tetapi sebenarnya adalah dari dalam. Walaupun pertumbuhan itu baru terbit didalam saja dan belum lahir menjelma jadi perbuatan, yaitu menjadi syari'at, maka itu telah hakikatnya dan setelah lahirnya adalah hakikat yang telah disyari'atkan. Ada pula syari'at yang lebih dahulu. Adapula syari'at yang dahulu dari hakikat pada pelaksanaannya. Seperti mengadakan tanda-tanda dijalan seperti tanda larangan, misalnya dengan menanam lantak, lenggundi, batu pada watas tanah, yang disebut baiyinah. Seperti itu adalah syari'atnya yang dahulu dan hakikatnya kemudian.Setelah dibuat tanda-tanda itu, lantak, lenggundi dan sebagainya, baru lah orang tahu, bahwa itu hakikatnya pelarangan atau pernyataan. Za'hirnya kelihatan tanda-tanda lantak, lenggundi dan sebagainya, hakikatnya nyatalah orang mengadakan tanda itu untuk melarang. Dan pada baiyinah nyata orang yang menanam lantak, lenggundi dan batu itu mengatakan inilah watas, yang tak dapat diganggu gugat dan bukan harta pegang gadai.
Nan katigo menurut tariqat, yaitu segala perjalanan zahir yang ada hakikat itu mesti dengan perjalanan ilmu. Sesuatunya harus dilaksanakan dengan ilmu dan pengetahuan cara-cara dalam teori dan prakteknya.
Nan Kaampek menurut ma'rifat, yaitu mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Suatu pekerjaan atau yang akan dilaksanakan mestilah dikenalkan dengan keredaan Tuhan, jangan sampai terlanggar perintah dan tertempuh laranganNya.
Akhimya kita faham, bahwa segala yang kita usahakan dan seterusnya dírí kita sendiri semuanya adalah dalam kekuasaan Tu-han dan mílíkNya. Jadi ma'rifat itu bukanlah hanya ketika dalam sem-bahyang yang líma waktu saja, atau dalam membaca zikir atau lainnya dalam beribadah saja. Kita harus memakai ma'rifat dalam melaksanakan segala sesuatunya, baík dalam bidang ekonomi, kebudayaan, pendidikan,perníagaan dan pemerintahan, Kita kenal Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan sila pertama dari Pancasila dasar Negara kita.
Manakala syari'at itu tidak mempunyai hakikat, jadilah seperti tubuh yang tak berjiwa. Hakikat tak punya syari'at tak obahnya seperti roh yang tak punya tubuh. Dan syari'at yang dilaksnakan dengan
hakikat tetapi tidak disertai oleh tariqat, adalah seperti tubuh 7bernyawa, tetapi bodoh tidak berakal yang akan mengemudikan hidupnya dari itu dia akan menemui kebinasaan.
Jika tubuh hidup lagi berakal, yaitu syari'at ada hakikatnya tak obahnya seperti manusia berakal yang dirongrong oleh hawa nafsunya,batasnya hanya menurut akal dan kemauannya saja, ibarat kuda mengenderai tuannya.
Itikad jalan hasanah yang menjadi bulakan cupak,tempat terbitnya (sumber) segala perbuatan baik dan segala kebaikan yang dikasihi oleh negeri. Itulah yang disebut undang bertelaga cupak yang bulakan, atau telaga undang bulakan cupak.
Hukuman dalam kajian Adat Minangkabau
Jika telah dapat kajian tempat berdiri kesalahannya baru dibuat cara meminta maafnya dengan empat katagori :
Nan partamo - salah kapado panghulu, bahutang. Hutang itu ado 3 parkaro
1. Basilah rugi, yaitu tahu hati di kasalah.an diri. Mako dijalanglah urang nan tampat basalah, lah nak mangganti sakimatnyo, lah nak manyiliah sapatuiknyo.
2. Bicaro sipuhun pangka, yaitu tahu hati di-kasalahan diri, mako dipanggialah datuak-datuak dalam nagari sarato datuak-datuak kaampek suku. Dijamu minum jo makan;lah sudah minum jo makan mako dibukaklah bicaro. Datang tak rago dijapuik, tibo tak rago dituntuik, marangkak sajo bak da-limo, bahaso diri kadi suci.
3. Sambah andiko, yaitu tahu awak dikasalahan urang, atau tahu urang di kasalahan awak. Mako ditukuiklah carano, dilangkokkan siriah jo pinang, sarato gambia jo sadah nyo. Mako dipasambahkanlah kamujalih datuak kaampek suku,bahaso tatampuah di larangan.
Nan Kaduo, salah kapado Allah mintak tobat, yaitu diikrarkan dengan lidah mamintak ampun pado Tuhan. Ditasdikkan dengan hati,nan salah tidak kadiulangi lai. Disasali dengan hati pakarjaan sa-lah nan lah lalu. Dinyatokan jo piil syariatnyo mengikuik su-ruah mahantikan tagah; barulah tobat sabananyo.
Nan Katigo ,salah kapado manusia mintak maaf; ado tigo macam maaf.
1. Dikatokan baso jo basi, yaitu tahu hati dikasalahan di ri kapado samo-samo manusia. Mako dijalanglah urang nan tam-pat basalah, dimintak maaf banyak-banyak, dimintak ampun ga-.dang-gadang, banamo baso jo basi.
2. Dikatokan jamu barunuik, yaitu tahu hati di kasalahan diri kapado manusia, mako dijalanglah urang itu jo nasi saka-tidiang, jo panggang ayam san saikua. Dalam kutiko nan elok,samo duduak bahadapan, dimintak maaf banyak-banyak, dimin-tak ampun gadang-gadang. Banamo jamu barunuik.
3. Dikatokan do'a salamat, yaitu tahu hati di kasalahan diri kapado sidang manusia, mako dipanggialah urang itu sara-to alim jo ulama, dijamu makan jo minum. Sasudah minum jo.ma kan, mako dibukaklah bicaro, bahaso nan buruak ka dibuang,dihanyuikkan kaaia hilia, diluluih katanah lakang, jo du'a malin nan sapatah, jo asok kumayan nan sakabun. Nan sahing-go iko kaateh nan sabarih iko naiak, nan elok nan kadipakai,nan baiak nan ka dicinto, banamo do'a salamat.
Nan Kaampek salah kapado rajo mati. Mati itu ado tigo bagian.
1. Hukuman nan labiah barek, yaitu kabau saikua, bareh sa-ratuih, cukuik jo asam jo garamnyo.
2. Nan dikatokan dando nan labiah kareh, yaitu dando nan sakati limo, diat nan salapan'ratuih, apuang nan tidak disa-buikkan.
3. Nan dikatokan taksiran nan labiah sangat, yaitu tibo diu-rang nan salah tak amuah dihukum, hutang tak amuah mamba-yia, sabab tinggi bak langik, kareh bak batu, jatuah kapado buang nan anam.
Buang nan anam yaitu:
1. Nan dikatokan buang bilah, yaitu buang nan buliah diam-biak-ambiak. Sabagai urang nan tidak amuah sahilia samudiak,tidak amuah sabarek saringan, salatak satariak, atau tidak suko baiyo-batido. Mako urang nan baitu dibuang nan banamo buang bilah.
2. Nan dikatokan buang siriah, yaitu buang kamanakan kapado mamaknyo. Yaitu mamak tidak manjalankan kawajiban, tidak ma-makaikan martabat nan anam, sarato sipat nan ampek. Aniayo kapado harato pusako, tidaklah suko anak kamanakan. Mako di cabiakkanlah siriah, dididihkan pinang, ditukuikkan carano.Mako dipasambahkanlah kapado mujalih datuak kaampek suku nan bahaso pusako ka dilipek.
3. Nan dikatokan buang hukum, yaitu urang nan salah tak namuah dihukum, hutang tak amuah mambayia, sabab tinggi nan bak langik, kareh nan bak batu. Samantaro hutang balun dibayianyo,sabalun salah ditimbangnyo, urang itu dibuang sapanjang adat, tidak dibao sahilia samudiak, tidak dibao sahutang sapiutang, tidak sahino jo samalu, ditinggakan dalam pargaulan. Kalau hutang alah dibayia, jikok salah alah ditimbangnyo,baru dibao sahilia samudiak, sahutang sapiutang, suruik bak asa nan saisuak.
4. Nan dinamokan buang tingkarang, yaitu buang salamo-lamonyo, tidak dapek diambiak lai, tidak buliah dipagunokan.
5. Nan dinamokan buang puluih, yaitu buang mamak kapado kamanakan nan tidak warih nasab, yaitu nan batali adat.Sabab kamanakan tidak saparentah mamak, kok kusuik tak amuah di-salasai, karuah tak suko di pajaniah, lah malua dari bana,ado papatah dikanduangnyo: Kabau tagak kubangan tingga,mati anau tinggalah hutan, ameh suruik katambangan, baju tasaruang ka nan punyo.
6. Nan dikatokan buang bidak, yaitu: urang nan mamiilkan lah urang itu kaduonyo pakaian nan balain dari biaso dipakai urang, sabagai baju karisiak dan lainnyo. Mako diaraklah ka-duonyo jo gandang tampuruang, hilia koto mudiak koto, nak tahu urang dinagari. Kudian dari pado itu, mako dihantakanlah nan laki-laki sahari pajalanan adok hilia, dan nan padusi sahari pajalanan adok mudiak, satahun kamudian baru buliah pu-lang.
Itulah nan dinamokan buang nan anam didalam adat.
Ditulis kembali oleh Saiful Guci Dt.Rajo Sampono di Lapau eSPe Kasiah Bundo Jorong Pulutan Nagari Koto Tuo Kecamatan Harau, Kabupaten Lima Puluh Kota, 10 Oktober 2025

===============

Baca juga:

Kontroveri Lirik Tuhan den Paso.

=============

[1] Hal ini masih dapat diperdebatkan, sejarah Perang Paderi masih diperdebatkan hingga sekarang. Terutama bagi yang dipengaruhi sumber-sumber kolonial dengan yang mengandalkan sumber-sumber lokal.

[2] Cara berfikir seperti ini menggiring opini atau framing, dimana apabila ada ulama yang kritis dan berani berbicara mengenai yang haq dan bathil, maka langsung dituduh radikalis, fundamentalis, atau mungkin teroris.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...