Dongeng Sabai Nan Aluih, Refleksi Perempuan Minangkabau dalam Cerita Sastra
GoodNews | Kaba Sabai nan Aluih[1] merupakan cerita rakyat dari Padang Tarok, Baso, Agam yang terletak di Provinsi Sumatra Barat (Sumbar). Cerita bertema kepahlawanan ini ditulis oleh Tulis Sutan Sati pada tahun 1920.
Cerita ini merupakan refleksi bagaimana perempuan Minang seharusnya.[2] Kisah ini termasuk kaba yang paling populer dan seringkali diangkat dalam pementasan randai.
Cerita ini menceritakan tentang aksi kepahlawanan Sabai Nun Aluih dalam membalaskan kematian ayahnya kepada musuhnya yaitu Rajo Nan Panjang. Sementara itu Sabai adalah nama anak perempuan dari Rajo Babanding dan Sadun Saribai.
Sabai dikisahkan sebagai perempuan yang memiliki paras cantik dan rupawan. Karena kecantikannya ini, dirinya banyak ditaksir oleh beragam kalangan termasuk Raja Nan Panjang.
Raja Nan Panjang adalah seorang yang sangat disegani di kampung Situjuh. Dirinya lalu mengutus tiga orang anak buahnya untuk melamar Sabai. Tetapi lamaran ini ditolak dengan halus oleh ayah Sabai, Rajo Babandiang.[3]
Pasalnya saat itu Sabai belum cukup dewasa untuk menikah, dirinya pun belum mau berumah tangga. Walau alasan sebenarnya adalah sikap dari Raja Nan Panjang yang sombong, mata keranjang dan selalu membanggakan akan kekayaan dan harta bendanya.
Mendengar penolakan dari Rajo Babandiang seperti mencoreng muka dari Rajo Nan Panjang. Dirinya lalu menantang ayah Sabai nan Aluih untuk berduel. Ayah Sabai menyetujui dengan syarat hanya dengan tangan kosong.[4]
Duel itu terjadi dengan sengit, kedua pendekar ini mengeluarkan kesaktian teknik silat masing-masing. Saling menyerang dan saling bertahan. Setiap yang melihat yakin duel keduanya akan berlangsung lama.
Tetapi Rajo nan Panjang berbuat curang. Peluru dari anak buah Rajo nan Panjang menembus dada Rajo Babandiang. Dia terkapar dan menemui ajalnya disana. Letusan ini terdengar oleh seorang gembala.
Gembala ini kemudian pergi ke rumah Raja Babanding untuk memberitahukan kejadian tersebut kepada keluarga Raja Babanding. Di sana dirinya bertemu dengan Sabai, lalu menceritakan apa yang terjadi kepada ayahnya.
Sabai lalu lari ke tempat kejadian. Di tengah jalan, perempuan ini bertemu dengan Raja Nan Panjang dan pengawalnya. Dirinya bertanya tentang perlakuan curang Raja Nan Panjang, tetapi malah dibalas dengan tertawaan seolah-olah mengejek kematian Raja Babanding.
Sabai yang naik pitam, lalu menarik pelatuk senapan yang dia bawa dari rumah. Peluru mengenai dada Raja Nan Panjang dan dia langsung terjatuh dari kuda. Pengawal Raja Nan Panjang pun langsung berlari.
Riwayat Rajo nan Panjang akhirnya berakhir, dia mati di tangan seorang perempuan yang halus jiwanya, Sabai nan Aluih. Dengan senjata yang merenggut jiwa ayahnya.
Tokoh perempuan dalam Kaba Sabai nan Aluih
Di dalam Kaba Sabai Nan Aluih tokoh utama, yaitu Sabai Nan Aluih digambarkan sebagai sosok perempuan yang berparas cantik, lemah lembut dalam bertutur dan santun saat bersikap.
Di dalam teks kaba dikatakan bahwa sulit mencari perempuan yang bisa menandingi kecantikan Sabai. Kecantikannya diumpamakan dengan kiasan menggunakan tumbuhan dan hewan.
Misalnya wajahnya seperti daun bodi yang merupakan tumbuhan dengan daunya bundar sempurna. Sementara keningnya diumpakan layaknya taji, yaitu sejenis senjata seperti pedang yang terbuat dari besi, sehingga menggambarkan kening yang mengkilat seperti taji tersebut.
"Dapat disimpulkan bahwa Sabai Nan Aluih adalah sosok perempuan yang memiliki kecantikan yang sempurna tanpa memiliki kekurangan satupun," tulis Yolani Erawati dan Yenni Haya dalam skripsi berjudul Tokoh Perempuan dalam Kaba Sabai Nan Aluih.
Selain berparas cantik, Sabai memang mewakilkan karakter perempuan Minangkabau pada masa itu. Perempuan Minangkabau pada zaman dahulu, jarang keluar rumah.
Hal ini ditampilkan dalam sosok Sabai yang digambarkan hanya berdiam diri dan bekerja di rumah untuk bertenun, melukis, menjahit, atau sekadar membantu orang tua. Selain itu merupakan anak yang berbakti, patuh, dan mendengarkan perkataan orang tua.
Walau begitu, karakter Sabai juga ditampilkan sebagai perempuan yang ramah, bijaksana, dan pemberani. Hal ini terlihat pada saat Sabai membalaskan dendam atas kematian ayahnya yang dibunuh oleh sahabatnya sendiri.
Rajo Nan Panjang membunuh Tuanku Babanding (Ayah Sabai) karena tidak mengizinkannya untuk menikahi dan menjadikan Sabai istrinya. Sabai dengan berani melawan Rajo Nan Panjang dan menembaknya hingga tewas.
Sosok Sabai merupakan penggambaran perempuan Minangkabau yang ideal, yaitu sosok perempuan yang berbudi luhur, lemah lembut dalam bertutur, sopan santun dalam berperilaku, dan berani dalam bertindak.
"Sebagai seorang perempuan bukan berarti harus selalu berdiam diri dan tidak dapat menyelesaikan suatu masalah atau hanya mengandalkan laki-laki saja. Seorang perempuan harus bisa mengambil sikap, mandiri dan kuat," jelasnya.
Refleksi wanita Minangkabau dalam kisah Kaba
Minangkabau tidak hanya bisa dipahami sebagai tempat tinggal, tetapi sebuah kawasan budaya, di mana penduduk dan masyarakatnya menganut sistem kekerabatan matrilineal.
Sistem matrilineal adalah suatu sistem yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yang terikat dalam suatu jalinan kekerabatan dalam garis ibu. Seorang anak laki-laki atau perempuan merupakan keturunan dari perkauman ibu.
Menurut Raudiah dalam skripsi berjudul Ideologi Feminisme dalam Kaba Cindua Mato menyebut budaya Minangkabau, mempunyai pandangan tersendiri terhadap perempuan. Perempuan di Minangkabau mempunyai gambaran yang kuat, kukuh, dan anggun.
Peran perempuan cukup penting karena tidak terlepas dari kodratnya baik secara agama maupun sebagai seorang penerus keturunan di Minangkabau. Masyarakat Minangkabau yang menganut sistem kekerabatan matrilineal, di mana ikatan kekeluargaan didasarkan atas hubungan darah yang ditarik dari pihak ibu.
"Perempuan berada dalam posisi yang terhormat sehingga seorang anak mengikuti garis keturunan ibu. Apabila dalam satu keluarga tidak ada lagi perempuan, keluarga itu dianggap punah," papar mahasiswa dari Universitas Negeri Malang, Indonesia.
Cerminan perempuan juga terungkap dalam kesustraan Minangkabau. Bagi masyarakat karya sastra merupakan refleksi kehidupan masyarakat yang melatar belakangi lahirnya karya sastra.
Salah satu susastra Minangkabau yang membahas mengenai perempuan adalah kaba. Kaba dalam bahasa Minangkabau sama dengan kabar dalam bahasa Indonesia.
Kata ini berasal dari bahasa Arab yang berarti “berita”, “pesan”, "warta”, atau laporan mengenai suatu kejadian. Dengan penyebutan kaba berarti ini mulai digunakan oleh masyarakat Minangkabau setelah mereka memeluk agama Islam.
Kaba tidak hanya membahas kehidupan raja dengan asal usul keturunannya, tetapi juga membahas kehidupan perempuan Minangkabau. Perempuan Minangkabau tidak hanya melayani suami semata, akan tetapi mempunyai peranan dalam kaumnya seperti menjaga, dan memelihara harta pusaka yang menjadi tanggung jawab.
Karya sastra yang mengungkapkan tentang perempuan dalam kaba Minangkabau sangat banyak. Bahkan ada beberapa yang diberi judul tokoh perempuan seperti Kaba Siti Risani, Kaba Siti Baheran, Kaba Sabai Nan Aluih, dan Kaba Siti Kalasun.
Sc: GoodNews
========
============
Catatan Kaki oleh Admin:
[1] Kaba merupakan salah bentuk karya sastra dari Minangkabau yang biasanya berupa bait-bait syair atau prosa berirama. Sebagian besar kaba dalam Minangkabau tidak diketahui penulis ataupun pengarangnya dan pada beberapa tempat satu cerita kaba dapat saja memiliki beberapa perbedaan dalam segi penggambaran tempat, karakter, ataupun tokoh namun pesan, tokoh dan penokohan, serta alur cerita masih sama. Pada masa-masa awal abad dua puluh, para pujangga asal Minangkabau banyak membuat karya sastra berbentuk Kaba seperti Tulis Sutan Sati dengan Kaba Sabai Nan Aluih dan Buya Hamka dengan Kaba Siti Baheram.
[2] Karya ini meangkat suasana zaman ketika ia dikarang oleh sang pengarang, mengkritisi kesewenangan yang dilakukan para penguasa tradisional, hal sama juga dilakukan oleh penulis dalam Roman karangannya; Sengsara Membawa Nikmat. Kaba ini juga mencerminkan sikap ketidak berpihakan si penulis terhadap sistem Matrilineal karena menafikan peran mamak, hal sama juga ia lakukan di romannya yang disebutkan tadi.
[3] Pola semacam ini dalam sistem sosial Minangkabau, baik sekarang apalagi dimasa lalu tidak dijumpai. Karena untuk melamar seseorang banyak hal yang mesti dilakukan, dan lazimnya dalam Adat Minangkabau, yang melamar ialah Fihak Perempuan (bukan si perempuan yang hendak menikah yang melamar si lelaki). Kejadian yang digambarkan dalam Kaba ini sesungguhnya cemoohan atas sikap, kepribadian, atau mentalitas barbar dari sang penguasa karena menempuh cara tak beradat (beradab) dalam meminang seorang perempuan.
[4] Hal ini juga tak lazim atau tersua dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, apabila kita asumsikan kedua tokoh yang menyandang nama 'Rajo' ialah Orang Besar/Pemuka/Penghulu. Dalam struktur sosial masyarakat Minangkabau, yakni pranta dan lembaga sosial terdapat empat unsur atau dikenal dengan nama Urang Ampek Jinih yakni Penghulu, Manti, Malin, & Dubalang. Masing-masing memiliki tugas dan fungsi, pemimpin dari keempat ini ialah Penghulu, jadi apabila kita measumsikan gelar 'Rajo' yang disandang kedua tokoh ini setara dengan Penghulu (dimana di daerah Luhak posisi Penghulu setara dengan Raja) maka tidak lazim (penghulu memiliki banyak pantangan/larangan, salah satunya ialah berkelahi) apabila terkait permasalahan yang melibatkan penindakan mereka tangani sendiri karena mereka memiliki 'Dubalang' atau 'Hulubalang'.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar