Langsung ke konten utama

Kaum TUBBA' = Suku TUBBAK = Suku TOBA.

Ilustrasi Gambar: wikipedia

Dari FB Sutan Bandaro Sati

Teori lama asal kata TOBA begini :
Kata TO berakar dari kata TAO.
'Tao' artinya tepian danau atau perairan dekat tepian seperti Tao Balige, Tao Muara, Tao Silalahi.
Sedang nama danaunya pada masa itu adalah 'Lawut Tawar'.
Orang Toba jaman dulu kalau ditanya "Mau pergi kemana.?"
Maka jawabnya:
"Au mau ke TAO bah..."
Selalu ada tambahan kata 'Bah'.
Lama-lama akhirnya negeri mereka oleh orang luar dinamakan TAOBAH dan akhirnya disebut TOBA, maknanya adalah 'orang dari Negeri Toba'.
Kata 'Toba' akhirnya dipakai juga untuk nama danau, menggantikan sebutan tradisional 'Lawut Tawar'.
Kata 'Toba' pada awalnya memang bukan sebutan untuk nama 'suku'.
Dan menurut John Anderson, nama suku di pinggiran danau Toba itu adalah SUKU TUBBAK (Tribe Tubbak).
Orang-orang dari Suku Karo dan Pakpak menyebut TEBBA.
Tradisi Pagaruyung menyebut 'Tubba Nan Ampek Suku'. Hanya sebutan, karena dijaman itu hanya ada 4 persukuan saja di suku Tubbak yakni Sumbah, Pohan, Tamba dan Lottung.
Tidak ada yg namanya Siraja Sumbah,
Tidak ada yg namanya Siraja Pohan,
Tidak ada yg namanya Siraja Tamba,
Tidak ada yg namanya Siraja Lontung.
Itu jaman yg jauh sebelum jaman Tarombo Batak ciptaan WM Hutagalung yg meletakkan nama ke 4 suku itu sebagai dasar dari Tarombo Batak karangannya.
Itu jaman sebelum suku Tubbak menjadi Batak Toba.
Toba awalnya hanya nama danau, bukan nama suku.
Sedang Batak Toba hanya suku rekonstruksi ciptaan Belanda.
Dan suku Tubbak jauh lebih tua dari Siraja Batak Pusuk Buhit.
Gak masalah jika ada yg ngotot bilang 'Suku Toba' itu tidak ada, tapi sejarah mencatat nama SUKU TUBBAK itu ada dan telah lama eksis dan jauh lebih tua dari sekedar sebutan 'Batak Toba'.
Hanya saja entitas Suku Tubbak itulah yang kemudian sudah biasa disebut SUKU TOBA.
Suku Tubbak = Suku Toba.
Dan pada akhirnya Belanda jugalah yg merekonstruksi Suku Toba menjadi Batak Toba.
Begitulah kronologi sejarahnya..
Nah, jika istilah 'Toba' itu hanya nama danau, bukan nama suku, maka sebutan 'Batak Toba' itu juga salah.
Apakah 'Batak Toba' adalah kaum yang menghuni dan hidup di dasar danau Toba.?
Atau bisa juga disebut kaum 'Ihan Batak'.
Hehe...
Sudah tentu sebutan yang lebih logis adalah 'Batak Tubbak'.!
Oke..!
😀😁😆
Jadi..
Orang Batak Toba (harusnya disebut 'Batak Tubbak') yang selalu bilang Suku Toba (Tubbak) itu tidak ada maka sama saja dia telah durhaka dan menafikan leluhurnya sendiri.
Orang Batak Toba yang masih selalu ngotot bilang Suku Toba (Tubbak) itu tidak ada, disarankan agar segera bertobat.
👉
Perbedaan antara Suku Toba (Tubbak) vs Batak Toba.
Apa perbedaan antara Suku Toba dg Batak Toba.?
Perbedaannya adalah:
- Suku Toba jauh lebih tua dari sekedar Batak Toba.
- Suku Toba adalah suku yang tumbuh alami dalam masa yang panjang dari sebuah peradaban manusia.
- Batak Toba hanya suku rekonstruksi baru oleh Belanda, dengan melekatkan label 'Batak' pada Suku Toba.
- Suku Toba terdiri dari kumpulan beberapa etnis yang berbeda asalnya dan sudah pasti tidak berleluhur tunggal ke Siraja Batak Pusuk Buhit dan 3 telor manuk hulambujati.
- Batak Toba telah direkayasa agar berleluhur tunggal ke Siraja Batak Pusuk Buhit dan 3 telor manuk hulambujati.
👉
Asal kata TUBBAK.
Dari mana asal kata 'Tubbak' pada suku Tubbak.?
Menurut sementara ahli, kata Tubbak berasal dari kata Tubba' atau Kaum Tubba'.
Kata Tubba' dibaca Tubbak.
Yakni kaum yang pertama sekali migrasi ke pinggiran Danau Toba.
Kaum Tubba' datang dan berlayar dari seberang lautan yang sangat jauh.
Dari kaum Tubba' inilah pertama kali terbentuknya Suku Tubbak di tanah Toba.
Namun seiring waktu yang berlalu, terjadi jugalah pencampuran (asimilasi) dengan etnis-etnis lain yang datang kemudian, diantaranya adalah kelompok besar Klan Borbor, yakni klan pedagang terkenal beretnis Tamil yang migrasi dari Lobu Tua Barus.
Etnis-etnis pendatang yang lebih baru itu kemudian berbaur dan menjadi bagian dari Suku Tubbak.
Dan menurut penjelasan sejumlah ahli tafsir, kaum Tubba’ yang datang ke negeri Toba ini adalah berasal dari orang-orang Himyar (Kabilah Himyar) yang sebelumnya menetap di daerah Yaman.
Dan, sebutan Tubba’ itu sendiri pada awalnya merupakan gelar raja-raja mereka di Yaman.
Kaum Tubba’ di Yaman ini diperkirakan telah ada sekitar seribu tahun sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW, beberapa abad sebelum kelahiran Isa AS bin Maryam.
Sementara itu, menurut Syauqi Abu Khalil dalam bukunya Atlas Alquran, Tubba’ adalah gelar yang diberikan kepada raja-raja di negeri al-Himyar di Yaman.
Disana, mereka dikenal dengan sebutan kaum Tubba’. Orang Tubba’ di Yaman telah hidup pada abad ke-10 sebelum masehi (SM).
Wallahu a'lam...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...