Langsung ke konten utama

Tumbuak Lado

FB Sejarah Sumatera & Andalas Tumbuk Lado, Simbol Keperkasaan Pria Melayu Tumbuk Lado atau yang juga dikenal Tumbuk Lada adalah salah satu senjata tradisional yang berasal dari Sumatera Barat. Namun demikian, Tumbuk Lado telah tersebar di masyarakat Melayu dan juga masyarakat Semenanjung Melayu.

Tidak heran jika Tumbuk Lado ini memiliki kemiripan dengan senjata yang berasal dari daerah di semenanjung melayu lainnya, bahkan dengan negara tetangga, yaitu Malaysia.
Tumbuk Lado adalah sejenis senjata tikam yang memiliki ukuran 27 – 29 cm dengan lebar sekitar 3.5 – 4cm. Senjata ini memiliki kesamaan dengan badik. Sebuah senjata tradisional milik masyarakat Bugis.
Hal yang membedakan antara Tumbuk Lado dengan senjata badik hanyalah pada segi bentuk dan motif sarungnya. Selebihnya, kedua senjata tradisional ini sama.
Persebaran senjata tradisional Tumbuk Lado tidak hanya di wilayah Riau maupun di masyarakat Sumatra Barat saja melainkan juga menjadi salah satu senjata tradisional di Malaysia.
Hal ini tak lepas dari latar belakang masyarakat Melayu yang tersebar di Negara Indonesia, Malaysia, Filipina, Vietnam dan juga sepanjang semenanjung Melayu. Sama halnya dengan keris, Tumbuk Lado juga merupakan salah satu identitas yang mencirikan bangsa Melayu.
Tidak diketahui secara pasti kapan awal mula Tumbuk Lado ini digunakan sebagai senjata oleh orang Melayu. Akan tetapi, sejak dahulu orang Melayu terutama dimasyarakat Sumatera Barat memakai Tumbuk Lado untuk berburu dan juga mempertahankan diri dari serangan musuh.
Tumbuk Lado mempunyai fungsi estetis. Tidak hanya sebagai pelengkap pakaian adat, tumbuk lado juga dianggap sebagai simbol keperkasaan dan juga kegagahan dari seorang pria Melayu.
__Badik Tumbuk Lado merupakan senjata tradisional khas Kepulauan Riau. Sebagai salah satu senjata, Badik Tumbuk Lado sering digunakan untuk pembelaan diri dari serangan musuh serta untuk mempertahankan harga diri seseorang atau keluarga.
Sebenarnya nama ‘badik’ merujuk pada sebutan untuk senjata tradisional. Istilah ini cukup dikenal dan sering digunakan dalam masyarakat Bugis dan beberapa daerah di Pulau Sumatera.
Menurut Rahmat M dalam buku Mengenal Senjata Tradisional (2010), badik bentuknya seperti pisau belati. Bahan utama pembuatannya berasal dari campuran besi, baja, serta pamor. Ukuran bilah badik sekitar 20 hingga 30 sentimeter. Ukuran ini belum termasuk bagian hulu badiknya.
Badik Tumbuk Lado diberikan sarung sebagai penutupnya. Sarungnya terbuat dari bahan kayu lunak, yang kemudian dilapisi dengan lempengan emas atau perak.
Selain penutupnya, bagian hulu badik juga ada yang dilapisi emas atau perak. Bahkan ada pula yang diberikan permata sebagai hiasannya.
Bisa dikatakan Badik Tumbuk Lado juga menjadi salah satu senjata tradisional khas suku Bugis. Namun, senjata ini juga digunakan di beberapa wilayah Indonesia lainnya, seperti Kepulauan Riau, Sulawesi Selatan dan lain sebagainya.
Dalam jurnal Eksistensi Badik dalam Kepercayaan Masyarakat Bugis di Desa Sanglar Kecamatan Reteh Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau (2018) karya Heri Sandi, badik memiliki bagian sisi yang tajam. Senjata ini agak mirip seperti keris, hanya saja bentuknya asimetris.
Walau badik termasuk senjata tradisional, namun fungsinya tidak hanya digunakan untuk pembelaan atau melindungi diri.
Melainkan juga digunakan dalam upacara adat, benda pusaka dan identitas diri pemiliknya. Badik juga sering dipakai dalam baju adat tradisional sebagai properti atau pelengkap.
Masyarakat Kepulauan Riau juga sering memanfaatkan Badik Tumbuk Lado untuk kegiatan berburu serta bercocok tanam. Kini badik lebih banyak dipakai untuk aktivitas lain dibandingkan untuk berkelahi, karena dianggap kurang efisien kita dibawa.
Badik dibagi menjadi beberapa jenis, tergantung pada daerahnya. Badik Tumbuk Lado di Kepulauan Riau biasanya diberi racun dibagian bilah badik.
__Tumbuk lada dipercayai berasal dari Sumatera. Ia dianggap istimewa dan hanya di pakai oleh pembesar negeri. Di Negeri Sembilan, tumbok lada menjadi senjata utama dalam majlis adat istiadat dan merupakan salah satu elemen pelengkap pakaian rasmi diraja. Perkembangan perdagangan di Kepulauan Nuasantara pada Zaman Kesultanan Melayu Melaka merupakan salah satu faktor utama penyebaran dan penggunaan tumbok lada di Tanah Melayu. Pedagang-pedagang Melayu dari Sumatera yang menjaja dan cara bertukar barang dalam perniagaan telah membawa masuk peralatan senjata bersama dengan hasil mahsul sebagai pertukaran barangan dagangan.
Tumbok lada diambil nama daripada bentuk ulunyayang menyerupai alat untuk menumbok lada.
Ada juga pendapat yang menyatakan nama ini diperolehi hasil daripada tusukan yang pedih. Perbezaan nyata tumbok lada dengan senjata-senjata pendek lainnya terletak pada hulu, mata dan sarongnya. Matanya berkelok tebal, tajam dan runcing. Bentuk tersebut sesuai dengan fungsinya sebagai senjata khas untuk menikam. Hulu senjatanya biasa diperbuat daripada kayu ataupun Tandok. Hujung hulunya diukir dengan ukiran-ukiran yang bertingkat-tingkat. Senjata pendek yang mempunyai bentuk yang sama ialah Sewar dan Rencong Aceh.
Tumbok lada yang biasa dimiliki oleh raja atau pembesar-pembesar negeri selalunya dihias dengan pahatan bermutu tinggi. Motif bunga pahatan awan timbul dikenali dengan nama 'awan larat' dan dawai pintal sekelilingnya diguna sebagai hiasan. Hujung hulunya ditambah dengan hiasan permata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...