Langsung ke konten utama

Sang Hedonis; Abu al-Hasan Ali ibn Nafi

Ilustrasi Gambar: Alif


Seorang laki-laki menempuh perjalanan sejauh 2180 kilometer menyusuri Afrika Utara, dari Mesir sampai ke Tunisia! Di zaman belum ada pesawat, apa tujuannya pergi sejauh itu? Ternyata lelaki itu ingin melancong ke Cordoba, pusat peradaban dan intelektual Islam di Andalusia

Laki-laki itu 'terusir' dari Baghdad, pusat pemerintahan Abbasiyah. Bukan karena melakukan kesalahan, tetapi disebabkan bakat cemerlangnya yang mengundang pengakuan para petinggi, namun menenggelamkan gurunya dalam perasaan iri.
Orang-orang memanggilnya Ziryab (The Blackbird), sebab ia terkenal memiliki suara merdu seperti burung Blackbird. Ziryab bukan hanya piawai dalam musik, ia juga seorang sastrawan, ahli geografi, astronomi dan gastronomi. Namun kini Ziryab terpaksa pergi meninggalkan semua pencapaian di tanah kelahirannya sendiri

Harapan hidup yang baru datang, kala pemimpin Andalusia di Cordoba, Khalifah Al-Hakem mengundang Ziryab untuk menetap di sana. Meski Ziryab tak berhasil bertemu karena sang sultan wafat, penerusnya, Sultan Abdul Rahman II tetap menyambut Ziryab dengan tangan terbuka.
Laki-laki yang terusir ini, kemudian menjadi orang tersohor di negeri rantau. Ziryab menciptakan banyak hal yang berkaitan dengan gaya hidup. Potongan rambutnya diikuti, mode baju rancangannya diminati dan musik ciptaannya dipelajari.

Ziryab juga mengenalkan, permainan catur, polo, alat musik lute, gelas kristal, dan pasta gigi

Ziryab bahkan menciptakan tata cara makan (fine dining). Makan dimulai dengan hidangan pembuka (appetizer) lalu dilanjut menu utama (main course) kemudian ditutup dengan makanan penutup yang manis (dessert)

Sesuatu yang selama ini orang kira berasal dari Barat, padahal orang Barat justru mengadopsinya dari peradaban Islam.
Ziryab tak ubahnya seorang influncer di masa sekarang. Ia menciptakan tren dan merevolusi gaya hidup masyarakat di Andalusia sampai ke Eropa. Laki-laki yang dulu sempat terusir ternyata memiliki pengaruh besar mewarnai peradaban dunia. Semua tren yang dia ciptakan masih kita pakai sampai sekarang

Sumber: muslimheritage.com | tirto.id | islamicspain.tv
________________________
Content ini didukung oleh BPRS Al-Salaam

(www.bprsalsalaam.co.id)  

Baca Juga:

  1. Musik Penyebab Runtuhnya Islam di Andalusia
  2. Ziryab, Sosok Multi Talenta yang Mengubah Andalusia
  3. Burung Hitam dari Bagdhad


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...