Langsung ke konten utama

Yahudi Di Bumi Serambi Mekkah.

Gambar: tirto.id

FB Sejarah Kesultanan Aceh Darussalam — Tak banyak yang tertarik meneliti keberadaan Yahudi di Indonesia. Namun, tidak demikian dengan Romi Zarman. Lebih dari 10 tahun ia meneliti jejak keberadaan mereka di Indonesia.

Dalam buku Di Bawah Kuasa Antisemitisme, Orang Yahudi di Hindia Belanda (1861—1942) yang ditulisnya, Romi mencatat beberapa temuan terkait keberadaan orang Yahudi di Nusantara, khususnya di Aceh, Bumi Serambi Mekkah.
Pada awal abad ke-10, seorang pedagang Yahudi dari Muscat (Oman) bernama Ishak Yahuda berlayar menuju Cina. Namun, ia dikabarkan tewas dirampok saat singgah untuk berdagang di Sriwijaya. Inilah kali pertama orang Yahudi menginjakan kaki di bumi Nusantara, meski hanya singgah.
Karena berasal dari Timut Tengah, yang identik dengan Arab, oleh orang Tionghoa di Sriwijaya ia disebut ya Arabi. Saat itu, etnis Arab telah lebih dulu dikenal di Sumatera. Selain karena asal kedatangan dan bahasa, kemiripan corak fisik juga menjadi penyebab Yahudi itu diidentifikasi sebagai Arab.
Data lain yang ditemukan Romi menyebut bahwa seorang Yahudi yang tak diketahui namanya mendampingi James Lancaster, utusan Ratu Elisabeth, ke Kesultanan Aceh sebagai juru bahasa pada abad ke-17.
Tak ada nama diri sang Yahudi itu dalam laporan perjalanan mereka yang menumpang kapal Inggris bernama The Red Dragon itu. Dalam laporan, juru bahasa yang dipuji Lancaster lantaran sangat fasih berbahasa Arab itu disebut sebagai a Jew, atau a man who was a Jew, serta he.
Perang Aceh yang meletus pada 1873—1904 menyebabkan Belanda membutuhkan banyak sumber daya. Orang-orang Yahudi dari berbagai belahan Eropa dan Asia didatangkan Belanda sebagai serdadu bayaran.
Romi menemukan bahwa tentara-tentara yang pada saat itu banyak tersebar Pantai Barat Sumatra merupakan orang-orang Yahudi yang berasal dari Rusia, Romania, Austria, Hungaria, India, serta Persia.
Salah satu bukti kuat keberadaan etnis Yahudi di Indonesia adalah pahatan aksara Ibrani pada nisan Van Der Zijl di komplek pemakaman Peutjut, Kutaradja, Banda Aceh. Dikatakan, ia tewas dalam sebuah pertempuran di Krueng Kale pada tahun 1882.
Bukti yang lebih jelas yang dikemukakan sejarahwan lulusan Universitas Andalas itu adalah foto yang didapatnya dari sebuah berkala Yahudi terbitan Amsterdam, De Vrjdagavond, edisi 22 Agustus 1924.
Dalam foto tersebut terdapat tulisan “Dithek Heeft Wylena M. Bulchover. Overl, 24 Juni 1897 Aan Het Israelitische Kerkhoften Geschenke Gegeven” yang menurut keterangan terpampang di depan makam Wylena M. Boulchover di Kerkhoft (Pemakaman) Peutjut, Kutaradja, Banda Aceh pada akhir abad ke-19.
Kata Israelitische dalam tulisan tersebut merujuk pada etnis Yahudi. Romi menyatakan makna tulisan tersebut adalah bahwa Wylena M. Boulchover, sebelum meninggal pada 24 Juni 1897, mendonasikan sebidang tanah untuk pemakaman Yahudi.
Hal ini juga dimaknai Romi sebagai pernyataan tersirat bahwa keluarga Boulchover yang dikenal di Tanah Rencong sebagai tuan tanah asal Eropa tersebut merupakan keturunan Yahudi.
Berbicara tentang keturunan Yahudi di Indonesia, portal edukasi sejarah, Neo Historia, mengunggah keterangan terkait hal tersebut melalui akun instagram @neohistoria pada 3 Juli 2020.
Dalam unggahannya, mereka menyebut beberapa nama pesohor Indonesia sebagai keturunan Yahudi. Mereka termasuk Yapto Suryosumarno (Ketua Majelis Pimpinan Nasional Pemuda Pancasila), Reuben Elishama Hadju (aktor dan penyanyi), Ahmad Dhani (Musisi), dan Nafa Urbach (aktris dan penyanyi).
Selain nama-nama tersebut, terdapat pula nama Yaakov Baruch Pailingan (Pendiri Jewish Community North Sulawesi), Elisheva Wiriaatmadja (Pendiri Eits Chaim Indonesia), dan Monique Rijkers (Pendiri Haddassah of Indonesia) yang disebut sebagai keturunan Yahudi[]
Photo of Pandu Radea Send an email06/07/2020 114 2 minutes read

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...