Langsung ke konten utama

Undang Undang dalam nagari

Picture: https://komisiinformasi.go.id


 Undang Undang dalam nagari

🖍️🖍️🖍️🖍️
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Undang-undang dalam nagari dibuek bertahap-tahap, disesuaikan dengan perkembangan, kemajuan, dan kepentingannya :
A. Mula-mula berbunyi :
Bataratak bakapalo koto, bakorong Jo bakampulang,
balabuah batapian
B.Pada tahap berikutnya dilengkapi lagi:
Bacupak bagantang,
baradat balimbago,
bataratak bakapalo koto,
bakorong Jo bakampuang,
ba labuah batapian.
C. Kemudian lebih dirinci lagi:
Inggirih bakarek kuku
Dikarek Jo pisau sirauik
Pangarek batuang tuonyo
Batuang tuo ambiak ka lantai

Suku bapangulu
Dalam suku Ado baparuik
Kampuang dibari banantuo
Rumah dibari batungganai
D. Setelah Islam masuk dilengkapi lagi:
Kampuang nan baumpuak,
korong nan bajorong,
barumah batanggo,
basawah baladang
babanda bamuatan,
basasok bajarami
Bapandan bapakuburan,
balai bamusajik.
Maka ditetapkanlah Undang-undang nagari tersebut berdasarkan yang diatas sampai sekarang menjadi :
Suku bapangulu,
dalam suku Ado baparuik,
Kampuang banan tuo,
rumah batungganai,
Bacupak Jo bagantang,
baradat balimbago,
Bataratak bakapalo koto,
bakorong Jo bakampuang,
balabuah batapian,

kampuang nan baumpuak,
korong nan bajorong,

barumah batanggo,
basawah baladang
babanda bamuatan,
basasok bajarami,
bapandan bapakuburan dan
babalai bamusajik.

Penjelasan : sebuah nagari bermula dari Taratak, dusun, koto, kampuang, kumpulan dari kampuang itu baru bernama nagari. Nagari yang pertama menurut Tambo Alam Minangkabau ialah Nagari Pariangan dan Padang Panjang yang terletak di daerah gunung Merapi, di lurah batang bangkaweh dan yg kedua adalah Bunga Setangkai, baru sudah itu bermunculan nagari lain.

Tapi kini nagari tersebut ibarat kata pepatah:

Batang karatau dirambah urang
Padi lumuik nan kadi tanam
Dagang dirantau lakeh lah pulang
Alah tingga rumpuik di halaman
Dari batagak ka padang lua
Lalu manurun ka bukiktinggi
Sajak Parak indak bapaga
Alah habih tanaman dipijak jawi
Gulai kacang dalam balango
Masak sanjo dimakan pagi
Dimakan anak Rajo Cino
Aso adat duo limbago
Pakaian urang di nagari
Babudi labiah dari ameh Jo Puro
Wassallam dan sekian mudahan berguna kok kencong tolong dipaluruih, kok sadel dibari tunjuak ajari

Disalin dari kiriman FB : Dt. Panduko Reno

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...