Langsung ke konten utama

Suku Nan Ampek Palangai Tumpuan Niniak 60

Nagari Ujuang Darek Kapalo Rantau Alam Surambi Sungai Pagu, mancancang latiah (kerja dan usaha) ke negeri pesisir baruh[1] mata angin untuk dijadikan bandar-bandar  kualo-kualo pelabuhan guna menyalurkan hasil bumi, memperluas tempat pertanian untuk keberlangsungan hidup, dan kekuasaannya.

Pada perjalanan itu terjadilah peristiwa antara Kerajaan Sungai Pagu dengan Kerajaan Indrapura. Raja Indrapura meminangkan anaknya dengan seorang putri dari Kerajaan Sungai Pagu. Berjalan dengan semestinya adat timbang tando kedua belah pihak dan memutuskan suatu ketetapan hari, bulan, tahun untuk melakukan acara “alek pernikahan”. Suatu janji, ketetapan dua belah pihak telah diputuskan. Hari berjalan demi hari, bulan berganti bulan, tahunpun berganti tahun. Tibalah masanya perjanjian dan ketetapan itu akan dilakukan.

Oleh Raja Indrapura diutus seorang pembesar dari Kerajaan Indrapura untuk meninjau kembali perjanjian “timbang tando” yang dahulu dilakukan. Pembesar itu bernama Rangkayo Karanggo Bagigi Basi, datang bersama pengiring dan kawan-kawanya. Setiba di Sungai Pagu, buah kata yang telah diterima dari Raja Indrapura disampaikan kepada Raja Sungai Pagu, ditingkek janjang ditapiak bandua, menyambah dan disampaikan buah kata dari Kerajaan Indrapura kepada Raja Sungai Pagu.

Mendengar sambah dan buah kata dari Rangkayo Karanggo Bagigi Basi, Raja Sungai Pagu, menolak buah kata itu, mengatakan perjanjian itu belum tepat pada waktunya, pun masih lama harinya sesuai ketetapan timbang tando dahulunya. Mendengar perkataan dari Raja Alam Surambi Sungai Pagu. Membuat hati Rangkayo Karanggo Bagigi Basi panas (naik darah) kemudian memutuskan untuk keluar dari rumah Raja Surambi Sungai Pagu.

Ketika Rangkayo Karanggo turun dari jejang dan tiba di halaman rumah, kemudian pada saat itu melihat anak dari Rajo Sungai Pagu, mau pergi mandi beserta dayang-dayangnya. Timbulah niat untuk menculik Puti dari Sungai Pagu. Disaat Puti sudah mandi didatangi oleh Rangkayo Karanggo Bagigi Basi, dipaksa dan dibujuk pergi bersama ke  Kerajaan Indrapura untuk melihat dan menemui kekasihnya di sana. Paksaan dan bujukan itu berhasil dan Puti (putri) dari Kerajaan Surambi Sungai Pagu berasil dibawa ke Kerajaan Indrapura.

Dayang-dayang dari seorang putri lalu bergegas untuk menyampaikan peristiwa yang terjadi. Mendengar perkataan dari dayang-dayang membuat hati Raja Sungai Pagu panas “ampeh mareh” (marah besar) dan memanggil pula seorang pembesarnya untuk menyerang Kerajaan Indrapura (Rangkayo Karanggo Bagigi Basi). Membawa kembali putrinya dari Kerajaan Indrapura. Keputusan itu dari Raja Sungai Pagu, membuat pembesar Kerajaan Sungai Pagu mengumpulkan (memanggil) seluruh pembesar-pembesar yang lain, dan pembesar-pembesar itu pun mengumpulkan hulubalang-hulubalang kerajaan beserta toboh-tobohnya.

Kemudian berangkat menuju Kerajaan Indrapura, melalui mendaki Bukit Musueh sampai kepada Bukit Pasikai-an, lalu dititi pematang bukit itu berjalan menepi beberapa bukit menuju ke barat baruh mata angin, maka sampai di Bukit Sikai kemudian diteruskan perjalanan ke baruh sampailah di Indrapura.

Pada saat sampai di Lubuak Obai, perperangan itu dikepalai oleh Rangkayo Karanggo Bagigi Basi, Hulubalang yang sangat kuat dan mempunyai benteng di Lubuak Obai yaitu di Bukit Kuda Tajun. Melihat kekuatan itu, Pembesar, Hulubalang-hulubalang  Sungai Pagu beserta toboh-tobohnya tidak sanggup menghadapi kekuatan dan beteng yang dikepalai oleh Rangkayo Karanggo Bagigi Basi sangatlah kuat. Memutuskan untuk kembali, di suatu perjalanan hendak kembali ke Kerajaan Sungai Pagu, pada sebuah bukit yang bernama Bukit Sikai (Lagan) Sikai dipenuhi air. sebagian kecil yang memutuskan untuk kembali ke Sungai Pagu, dan sebagian besar (Suku Malayu, Suku Tigo Lareh, Suku Kampai, Suku Panai) tidak mau kembali ke Sungai Pagu akibat malu tidak bisa melakukan tugas, dan ingin untuk membuat kampung dan ulayat bagi Kerajaan Sungai Pagu (memperluas Rantau) dan mendirikan kualo-kualo. Membuat Taratak di Bukit Sikai, Kayu Arang, sampai ke Lagan Kecil, Lagan Gadang dan Kampuang Akat.  

Referensi: Adat Monografi Nagari Palangai. 


________________________

Catatan Kaki oleh Agam van Minangkabau


[1] Baruh berasal dari kata Baruah, yang merujuk ke lokasi geografis yang terletak di bawah atau lebih rendah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...