Langsung ke konten utama

Maklumat MUI Sumbar ttg Ibadah Puasa 2021



No: 01/MUI-SB/IV/2021 

Maka kami menyampaikan maklumat dan taushiyah sebagai berikut:

Maklumat:
1. Kaum muslimin tetap wajib menjalankan kewajiban puasa Ramadhan walaupun dalam kondisi wabah COVID19 selama tidak memiliki ‘udzur syar’i yang membolehkan tidak berpuasa dengan kewajiban meng-qadha di luar bulan Ramadhan atau ‘udzur syar’i yang membolehkan untuk tidak berpuasa dengan kewajiban membayar fidyah.
2. Pelaksanaan qiyam Ramadhan di malam hari seperti sholat tarawih, witir, tadarus Al-Qur`an dan berbagai ubudiyah lainnya dapat dilakukan di masjid, mushalla ataupun surau, namun dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan penularan Covid-19.
3. Setiap kegiatan berjamaah yang dilakukan oleh kaum muslimin, baik di Masjid maupun di luar masjid, begitu pula di tempat-tempat berhimpunnya masyarakat, tetap melaksanakan protokol kesehatan secara disiplin.
Termasuk dalam protokol kesehatan itu adalah menjaga jarak di saat berada di dalam masjid kecuali ketika menunaikan sholat berjamaah, dimana kaum muslimin dituntut merapatkan shaff untuk kesempurnaan sholat sebagaimana tuntunan Rasulullah saw namun dibolehkan memakai masker untuk mengurangi resiko penularan Covid-19.
4. Bagi jamaah yang dalam keadaan sakit (demam atau sejenisnya yang mengindikasikan kepada ciri-ciri penderita Covid-19, diharapkan tidak beribadah di masjid, mushalla, surau, atau tempat keramaian lainnya, sehingga tidak menularkan penyakitnya kepada orang lain.
5. Mengingat adanya kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) setelah vaksinasi COVID-19 yang bisa berdampak kepada kelemahan fisik dan lainnya, maka kami menganjurkan vaksinasi dilakukan di luar waktu puasa karena puasa Ramadhan adalah kewajiban sedangkan vaksinasi adalah salah satu alternatif yang bersifat anjuran.
6. Para imam, khathib dan ulama serta seluruh umat Islam sudah sepatutnya memperbanyak do'a agar Allah swt mengangkat bala' dari negeri kita dan dari seluruh negeri kaum muslimin terutama di waktu-waktu yang mustajab seperti di bulan Ramadhan sesuai dengan kaifiyyat yang diajarkan oleh syari'at Islam.
Taushiyah:
1. Mendorong umat untuk menyambut bulan Ramadhan dengan meningkatkan iman, menambah ilmu dan meningkatkan ibadah serta menghentikan segala perbuatan maksiat.
2. Mengajak umat Islam agar memaksimalkan shiyam dan qiyam Ramadhan dengan meningkatkan ibadah-ibadah yang disyari'atkan baik secara berjamaah maupun secara pribadi.
3. Mengajak kaum muslimin untuk menggunakan kesempatan berkumpulnya keluarga sebagai ajang pembinaan akidah, ibadah dan akhlaq sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim as dan Ya'qub as terhadap anak-anaknya.
4. Menyarankan kepada para da'i agar lebih mempertimbangkan sampainya pesan dakwah dalam waktu yang efektif sehingga tidak terlalu berlama-lama dalam penyampaian taushiyyah atau ceramah.
5. Mengajak umat Islam untuk meningkatkan ukhuwwah Islamiyyah dan saling membantu antar sesama muslim, khususnya di antara tetangga di suatu kawasan, baik dalam hal menjaga kesehatan bersama, saling menjaga ketertiban dan keamanan, serta saling menanggung dan membantu kebutuhan (at-takaful wat-ta’awun).
6. Mengajak umat Islam untuk tetap menjalankan tugas al-amru bi al- ma'ruf al-nahyu 'an al-munkar sesuai dengan peran dan fungsi masing-masing karena di antara penyebab turunnya bala adalah kemaksiatan yang dilakukan oleh manusia.
Demikianlah maklumat dan taushiyah ini kami sampaikan semoga menjadi perhatian.
حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير











Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...