Langsung ke konten utama

𝗡𝗮𝗴𝗮𝗿𝗶 𝗕𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗹𝗮𝗺: 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗠𝗶𝗻𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗯𝗮𝘂, 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗗𝗶𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻

Picture: Langgam

 

𝗡𝗮𝗴𝗮𝗿𝗶 𝗕𝗶𝗱𝗮𝗿 𝗔𝗹𝗮𝗺: 𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗲𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺𝗮𝗻 𝗠𝗶𝗻𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗯𝗮𝘂, 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗗𝗶𝘀𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻

Inilah Rumah Lama Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Rumah ini dijadikan markas persembunyian bagi pimpinan PDRI, Sjafruddin Prawiranegara, dan sebagai pos keamanan serta tempat berlangsungnya sidang kabinet PDRI dari Januari sampai April 1949. Rumah ini berada di Nagari Bidar Alam, Solok Selatan, Sumatra Barat.
Dijadikannya Bidar Alam sebagai basis perjuangan berawal dari peristiwa pengeboman pusat PDRI di Bukittinggi oleh Belanda. Untuk tetap bertahan, Sjafruddin dan kawan-kawan memutuskan untuk bergerilya menghindari serangan Belanda guna menyusun kekuatan. Perjalanan rombongan merapah hutan-hutan dan kampung-kampung di pedalaman Sumatra Barat.
Di Bidar Alam, banyak peninggalan sejarah PDRI. Antara lain Rumah Jama Sjafruddin Prawiranegara, surau Bulian yang menjadi stasiun pemancar radio AURI yang dibawa dari Bukittinggi, masjid Nurul Falah Mr. Sjafruddin Prawiranegara, tugu peringatan basis PDRI Bidar Alam, dan beberapa rumah penduduk yang pernah ditempati oleh Sjafruddin Prawiranegara.
𝗗𝗮𝗿𝗶 𝗦𝘂𝗿𝗮𝘂 𝗕𝘂𝗹𝗶𝗮𝗻, 𝗦𝗲𝗯𝘂𝗮𝗵 𝗦𝘁𝗮𝘀𝗶𝘂𝗻 𝗥𝗮𝗱𝗶𝗼 𝗠𝗲𝗻𝗴𝘂𝗺𝗮𝗻𝗱𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝗻 𝗕𝗮𝗵𝘄𝗮 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗠𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗔𝗱𝗮
Tak jauh dari rumah Jama, berseberangan jalan sekitar 50 meter, terdapat surau Bulian. Di surau itu dipasang pemancar radio AURI sebagai alat komunikasi utama PDRI di Bidar Alam pada tahun 1949 dengan pejuang lain di Indonesia dan luar negeri. Tim operasional sebanyak lima orang dan dipimpin oleh Dick Tamimi.
Melalui radio itu, pimpinan PDRI, Sjafruddin Prawiranegara, berhubungan dengan pusat di Kototinggi serta anggota-anggota PDRI di Jawa dan Aceh yang menyampaikan radiogram PDRI ke luar negeri.
Ketika pejuang PDRI bergerilya, dua stasiun radio AURI turut dibawa bersama oleh rombongan. Namun stasiun radio AURI pimpinan Lahukay saat tiba di Halaban tidak sempat mengudara, karena dibumihanguskan oleh Belanda. Sementara stasiun radio AURI pimpinan Dick Tamimi diserahkan kepada Sjafruddin Prawiranegara untuk melayani komunikasi radio rombongan PDRI yang tengah bergerilya. Stasiun radio itu ikut bergerilya hingga ke tempat pengungsian di Bidar Alam.
Radio PDRI yang turut mengawal perjalanan perjuangan PDRI, akhirnya menjelma menjadi Radio Republik Indonesia stasiun Bukittinggi, Sumatra Barat. Radio yang bersejarah dan berperan penting dalam menjalin komunikasi antar daerah di Indonesia dan turut berjuang menjaga keutuhan Negara Indonesia. Radio yang mengumandangkan kepada dunia bahwa Indonesia masih tetap berdiri teguh meski para pemimpinnya ditahan.
Stasiun radio yang patut diberi label "radio perjuangan" dalam menyampaikan pesan-pesan pembangunan demi tujuan memberikan informasi yang bermanfaat kepada masyarakat. Sayangnya, radio PDRI di Bidar Alam hanya tinggal nama belaka.
Sumber: Harian Haluan 19 Desember 2011 dan berbagai sumber
Foto: Instagram
Disalin dari kiriman: Hajral Sofi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...