Langsung ke konten utama

Kebohongan atas Aceh

Picture: Historia
Razali Dulah si anak paya sedang berpaya memilintir sejarah Aceh demi sebuah pengakuan dan kebenaran atas segala pengkhinatan terhadap perjuangan rakyat Aceh bersama Sultannya. Sebagai mana kita semua ketahui bahwa Tgk Chik Ditiro Muhammad Saman ikut berperang melawan Kaphe[1] Belanda setelah beliau kembali dari Tanah Suci. Beliau berjuang mulai tahun 1881-1891

Kebohongan yang terus-menerus disuarakan akan di terima sebagai sebuah kebenaran.

Golongan si anak paya ini menolak Daud Syah sebagai Sultan terakhir disebab karena kebencian yang tiada jelas. Mareka lebih senang mengikuti suara Van Swieten yang mengangap Sultan Daudsyah sebagai pretenden Sultan. Antara Van Sweiten dengan mereka hanya beda tipis dalam merusak sejarah untuk kepentingan kelompoknya yang sekarang dianggap pecundang oleh suksesor Nederland Indie (Hindia Belanda)

(A) -Tengku ’Tjhik di Tiro Mohammad Saman, Wali Negara Achèh Ke-I (1874-1891),

---- "Sejarah Achèh Tikar tidurm Sejarah Kuta Réh, Berselimutlah dengan Roh Syuhada! ----

Teuku Meuntroë,

Sepatutnya Teuku Meuntroë, telahpun meresponkan dan menjelaskannya prihal:

Tengku ’Tjhik di Tiro Mohammad Saman, Wali Negara, Negara Achèh Sumatra Ke-I (1874-1891), sementara Dr Tengku Zaini Adullah MD, Dr Tengku Husaini Hasan MD, Ir Asnawi Ali, Mr Amir Ishak SH dan Tengku Malik Mahmud Al Haytar, mereka-mereka para mantan Kabinet Pertama Negara Achèh Sumatra lainnya, belum berkesempatan menjelaskannya tentang tulisan kotor dan jahat dari Adifa Sumowidigdjo van Boyolali, Solo, Surakarta, Jawa Tengah itu, siapa orangnya, yang kerja ke-profesionalan-nya, sebagai Pemulung, tulisan-tulisan lama dari internet, terutama data semasa pendudukan Agressor Penjajah Belanda, keatas Kerajaan (Negara) Achèh.

Dunia mengetahui, yang Agressor Penjajah Belanda, mengagressi Achèh, setelah menyogokkannya Gold Coast (sekarang Ghana) pada Kerajaan (Negara) Inggeris, agar segera membatalkan Treaty of London (1619), sebuah perjajanjian pertahanan bersama antara kedua negara berdaulat itu: Kerajaan (Negara) Achèh dan Kerajaan (Negara) Inggeris, serta agar dengannya akan memberikan laluan pada Agressor Penjajah Belanda untuk menyerang Achèh.

Agressor Penjajah Belanda, sebelumnya telah mengambil langkah awal kearah itu, dengan membuat gerak tanding lewat Traktaat Siak (Treaty of Siak): Antara Agressor penjajah Belanda dengan Sultan Siak, yang sebelumnya juga dibawah ketiak Kerajaan (Negara) Achèh, tempat dimana Pang Tibang, sianak ronggerng dari India, yang dipungut dan dibesarkan oleh Sultan Achèh, dalam Istana Kerajaan (Negara) Achèh itu, mula "menelanjangi" kesetiaannya terhadap Kerajaan (Negara) Achèh dan pihak Kerajaan Siakpun, mula memufarakah terhadap Kerajaan (Negara) Achèh, kerajaan kecil, yang pernah dilindungi oleh Kerajaan (Negara) Achèh, dimana Kerajaan (Negara) Achèh telah meletakkan Pertahanan Laut Selat Melaka yang terjauhnya di Muara Sungai Indragiri.

Dan selanjutnya diikuti dengan Traktaat Sumatra (Treaty of Sumatra) antara Agressor Penjajah Belanda dan Agressor Penjajah Inggeris, dengan membuat tukaran: Agressor Penjajah Belanda dengan Melaka-nya (Semenanjung Malaya) dan Singapura-nya, dan Inggeris dengan Bengkulunya, sehingga dengannya Sumatra sepenuhnya dibawah ketiak Agressor Penjajah Belanda dan Melaka (Semenanjung Malaya) dan Singapura, sepenuhnya dibawah ketiak Agressor Penjajah Inggeris.

Inggeris pernah coba dibawa masuk oleh Ketua Adat di Indrapura, tetapi terpaksa memundurkan pasukannya, dikarenakan pasukan Marinir Achèh di Pertahanan Lautnya di PAINAN, dikerahkan kesana.

Dan sebagaimana dimaklum, pasukan infantri Achèh, ditangsikan di Dataran Tinggi AGAM dan di Dataran Tinggi APASAMAN, di Tiku dan di Selido.

Satu-persatu wilayah status quo anté bèllum Kerajaan (Negara Achèh), terlepas satu persatu, sebaik kedatangan kuasa Eropah: Portugis, Spanyola, Belanda, Inggeris, Perancis ke Nusantara.

Setelah Agressor Penjajah Belanda berhasil menyogok Inggeris dengan Ghana, maka Agressor Penjajah Belanda itupun, mengumumkan --- Pernyataan Perang terhadap Kerajaan (Negara) Achèh, setelah Sultan Mahmud Shah, menantang dengan kerasnya Ultimatum Agressor Penjajah Belanda, yang dibawa oleh Raden Mas Sumowidigdjo, demi generasi Achèh mendatang - Generation to Come!

SULTAN MAHMUD SHAH, adalah sultan terakhir Kerajaan (Negara) Achèh, beliau wafat di tahun 1874 itu jjugqa setelah terserang kolera, diantara bakteria yang ditebarkan oleh Agressor Panjajah Belanda, sebagai senjata perangnya.

Tuanku Hasyim Banta Muda ,yang sepatutnya ternobat sebagai Sultan Achèh, sultan penerus, tetapi telah memilih medan perang, ketimbang duduk disinggahsana raja, karena sedang melihat dan menyaksikan negara dalam bahaya.

Lantas, sebaik Tengku Haji Muhammad Saman, kembali dari menunaikan ibadah hajinya ke Makah, langsung dimintakan oleh Majelis Negara Achèh, untuk meneruskan perlawanan perang, menantang.

Maka pada tahun itu juga 1874, Tuanku Hasyim Banta Muda, selaku calon Sultan Achèh dan selaku Ketuha Madjelis Negara Achèh, telah memohon kehadapan Tengku Haji Muhammad Saman dan melantiknya sebagai Wali Negara Achèh (Ke-I).

Setelah pelantikan itu dan setelah beberapa hari bersama-sama dengan Tengku 'Tjhik di Tiro Mohammad Saman, maka Tuanku Hasyim Banta Muda bersama (Teuku) Njak Hasan, berangkat menuju ke Pangkalan Pertahanan Laut Manyak Paéëd.
............................................................................................

(Dibawah ini adalah tulisan dari Adifa Sumowidigjo, yang kami kutip seutuh dan sepenuhnya)

------------- "sekalipun kraton telah djatuh.
Sebqgai lambang keradjaan diangkat Muhammad Daud, cucu almarhum Sultan Mansur Sjah jang masih kecil, dimesdjid' Lamteungoh Aneuk Galong menjadi Sultan Acjeh pada 22 Muharram 1292 H. (4 Maret 1875).14 tahun setelah pengangkatan Daudsyah menjadi Sultan Aceh

Tgk chik ditiro setelah pulang dari tanah suci pada tahun 1881 beliau terjun ke Arena perang memimpin Rakyat dalam perang Sabil melawan Belanda.beliau memimpin perang selama sepuluh tahun sampai tahun 1891 beliau wafat karena diracun oleh cuak Belanda bernama Nyak Ubit.dalam masa 10 itu beliau mengakui Daudsyah sebagai sultan Aceh yang bertahta di Keumala Dalam

Pertanyaan nya tahun berapa Tgk chik ditiro diangkat sebagai wali Nanngro pertama kerajaan Aceh ?sedangkan sultan masih memerintah Aceh di istana keumala?dan Sultan Daudsyah menghentikan perjuangannya tahun 1903" -------

........................................................................

{bersambung: (B) -Tengku ’Tjhik di Tiro Mohammad Saman, Wali Negara Achèh Ke-I (1874-1891)}

Disalin dari kiriman FB: Adi Fa

___________________________
Catatan kaki:

[1] Bahasa Aceh untuk 'Kafir'

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...