Langsung ke konten utama

Tatkala Imam Ahmad Bin Hambal di Penjara


Kesabaran dan Ketabahan Imam Ahmad ibn Hanbal ketika disiksa dan dipenjara.

Mendengar nama Ahmad ibn Hanbal mungkin sudah tak terasa asing ditelinga kita. Yap, Dia lah Imam Ahmad ibn Hanbal seorang Ulama yang menjadi peletak dasar satu diantara empat mazhab utama fikih sunni.
Tak hanya itu, beliau juga dikenal ahli dalam bidang teologi, fikih, tafsir dan utamanya hadits.
Abu Abdillah ahmad ibn Hanbal dilahirkan dari keturunan Arab Bani Shayban, kabilah Rabi’ah Adnaniyah yang nasabnya bertemu dengan Nabi Muhammad pada Nazzar. Ia lahir pada bulan Rabi’ul Awwal 164 H / Desember 780 M, di kota Baghdad.
Nama Imam Ahmad tidak ternisbatkan pada ayahnya (Muhammad) sebagaimana yang dilakukan bangsa Arab pada umumnya. Melainkan, nama kakeknya (Hanbal ibn Hilal) seorang gubernur Umayyah di Persia lah yang dinisbatkan pada nama Imam Ahmad dengan alasan tentunya karena kakek beliau amat terkenal di Baghdad pada masanya.
Ayahnya (Muhammad ibn Hanbal) adalah seorang pemimpin militer Khurasan yang syahid di medan pertempuran melawan Byzantium dan meninggalkan Ahmad sedari kecil sehingga tanggung jawab atas beliau ada pada pundak sang ibu.
Imam Ahmad mendapat pendidikan pertamanya di Kota Baghdad yang saat itu menjadi pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan Timur Tengah, di samping menjadi pusat pemerintahan Daulah Abbasiyah dibawah pimpinan Khalifah Harun Ar-Rasyid.
Pada Usia 19 tahun, Imam Ahmad melakukan rihlah (perjalanan) untuk mencari guru ke berbagai daerah di Syam dan Jazirah Arab. Guru-guru yang didatanginya antara lain Imam Syafi’i, Syekh Abu Yusuf murid Imam Abu Hanifah, syeikh Abdur Razzaq seorang Ulama penyusun Kitab Hadits.
Di akhir hayatnya Imam Hambal menderita sakit selama kurang lebih 9/10 hari kemudian wafat pada tanggal 22 Rabiul Awal tahun 241H/855 M dalam usia 75 tahun.
Namun, tahukah kamu bahwa ada salah satu pengorbanan terbesar yang pernah Imam Ahmad lakukan dalam perjalanan hidupnya seperti yang telah osmanli paparkan diatas.
Edit & Translated by @osmanlimedia | Media Informasi Dakwah dan Sejarah Islam.

Disalin dari Osmanli Media

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...