Langsung ke konten utama

MUARA TAKUS DALAM CATATAN EKSPEDISI F. M. SCHNITGER DI SUMATRA PADA 1935, 1936, DAN 1938

 


Disalin dari kiriman FB A'al


Penghuni tertua Candi Muara Takus ialah keturunan Putri Seri Dunia yang datang dengan keluarganya dari Pariangan Padang Panjang (Minangkabau). Kecantikannya yang begitu masyhur membuat penguasa Hindu (raja) di sana pada saat itu ingin meminangnya. Putri Seri Dunia menerima pinangan raja tersebut dengan syarat dia harus membangunkan sebuah istana untuk Putri Seri Dunia. Raja memenuhinya dan bekas istana tersebut masih dapat dijejaki di Muara Takus. Raja kembali ke tempat asalnya untuk mempersiapkan pernikahan itu.
Dalam pada masa itu, sekelompok pasukan Batak datang ke Muara Takus. Seorang kerabat Putri Seri Dunia yang bernama Sutan Palembang, menuliskan surat kepada penguasa Hindu dengan memberikan pengirim segantang biji (benih) dalam sebuah keranjang untuk menyampaikan pesan ke penguasa Hindu betapa banyaknya pasukan Batak yang datang ke Muara Takus, malah jumlah pasukan Batak yang ada lebih banyak daripada jumlah biji dalam keranjang yang dikirimkan. Namun, penguasa Hindu tidak kembali lagi ke Muara Takus.
Ketika pasukan Batak itu tiba di Muara Takus, kota dalam keadaaan sepi. Putri Seri Dunia dan pengikutnya telah melarikan diri ke dalam hutan dan dia telah menikah dengan seorang datuk dari Minangkabau. Dia kemudian melahirkan seorang putra yang bernama "Indo Dunia" dan sampai hari ini ada sebuah tempat di Muara Takus yang disebut "Galangan Indo Dunia". Indo Dunia tumbuh menjadi seorang pemuda dan pemuda inilah yang kelak menjadi penguasa Muara Takus dan diteruskan oleh Raja Pamuncak (Datuk di Balai) ketika seluruh negeri telah beralih ke Islam.
Kisah legenda lainnya ialah sebagai berikut. Salah satu penguasa terakhir Muara Takus bernama Raja Bicau. Dia tidak memiliki anak laki-laki. Ketika anak perempuannya yang tua akan menikah dengan Maharaja Johor, semua orang datang untuk menghadiri pesta dan sabung ayam.
Di antara tamu yang hadir ialah dua orang bersaudara yang bernama Singa Menjadian dan Singa Mendedean yang baru saja menetap di Gunung Malelo di hulu Sungai Kampar. Mereka berasal dari Rao. Sementara yang lainnya menyatakan bahwa mereka berasal dari Palembang. Salah seorang dari mereka ingin menikahi salah seorang anak perempuan Raja Bicau. Namun ditolak karena orang tersebut memiliki penyakit kulit yang mengerikan.
Raja Bicau kemudian mengirimkan sekeranjang benih atau biji-bijian dan selembar sapu tangan miliknya kepada kemenakannya yang bernama Singa Merdekeh, Raja Kuamang (Panti, Pasaman) dan meminta dia untuk mengirimkan pasukan sebanyak jumlah benih atau biji-bijian yang Raja Bitjau itu kirimkan padanya, karena pasukan Batak datang dengan senjata besar dan menyerang Muara Takus. Dalam pertempuran itu, raja terakhir, Panjang Jungur, mati.
Di Batu Bersurat, pasukan Batak melemparkan sebuah batu kaligrafi ke sungai dan berkata, "Jika batu itu muncul lagi ke permukaan air, maka kita akan kembali ke Muara Takus."
Di Pematang Gadang, pasukan Batak mendapat perlawanan. Pokok-pokok besar dilemparkan dan ditimpakan kepada pasukan Batak. Mayat-mayat Batak memenuhi sungai dan menimbulkan bau busuk sehingga sungai itu dinamakan "Sungai Sibusuk". Dari sini, mayat-mayat Batak tersebut masuk ke Kampar dan hanyut melewati tempat yang kemudian bernama Bangkai-inang atau Bangkinang (Mayat Batak). Dalam bahasa Batak, "Inang", artinya "Ibu".
Di masa lampau, selalu dikatakan bahwa ada aliran bawah tanah yang menghubungkan Kampar Kanan dengan Kampar Kiri. Ada satu cerita yakni seorang yang bernama Indo Chatib dari Suku Bendang (salah satu suku/clan yang ada di Minangkabau) pergi memancing di sekitar Koto Air Tiris. Dia mengejar sebuah ikan yang masuk ke dalam sebuah lubang di tepi sungai. Dia memegang erat-erat tali yang digunakan untuk menangkap ikan dan dengan mudahnya dia mengikuti ikan tadi, namun akhirnya Indo Chatib sampai di Kampar Kiri.
Cerita lain yang lebih kredibel dan dipercaya ialah dahulu ada gua stalaktif di dekat Kampung Batu Balah. Air yang menetes dalam gua membentuk aliran air yang mengalir ke bawah tanah menuju Gunung Sahilan.
Sebelumnya, Muara Takus disebut "Si Jangkang" (sebuah tumbuhan) atau "Telago Undang". Nama tersebut berasal dari kata "Takut", nama sebuah anak sungai Kampar, disebut begitu karena di tempat itu, orang-orang merasa takut dengan penguasa Muara Takus.
Muara Takus memerintah negeri-negeri yang ada di sekitar. Misalnya, Rokan harus melakukan ziarah ke Muara Takus sebelum melakukan penobatan agar calon raja diolesi oleh semacam air lemon yang teksturnya mirip dengan air jus. Pada saat hari lahir permaisuri, seluruh penghulu di Bangkinang datang untuk mengadakan sebuah adat istiadat atau prosesi yang dipimpin oleh penghulu Muara Takus di bawah payung kuning.
Catatan:
1) Kisah ini diambil dari Buku "Forgotten Kingdoms in Sumatra" yang ditulis oleh F. M. Schnitger, Ph.D, dan diterbitkan di Leiden, Belanda, pada 1939, halaman 39-43.
2) F. M. Schnitger pernah menjabat sebagai konservator Museum di Palembang dan pemimpin ekspedisi arkeologis dan antropologis di Sumatra pada 1935, 1936, dan 1938. Sumber asli dalam teks berbahasa Inggris dan saya tuliskan kembali dalam Bahasa Indonesia (bukan menerjemahkan teks secara literal).
Daftar Pustaka:
Schnitger, F. M. 1939. Forgotten Kingdoms in Sumatra. Leiden: E. J. Brill


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...