Langsung ke konten utama

LAMBANG GARUDA YANG MIRIP DENGAN LAMBANG SAMUDRA PASEE

Ilustrasi gambar: Target hukum Online

Disalin dari kiriman FB Melawan Lupa

LAMBANG GARUDA YANG MIRIP DENGAN LAMBANG SAMUDRA PASEE
sejak tahun 2017, tanggal 1 Juni, resmi menjadi hari libur nasional untuk memperingati hari "Lahirnya Pancasila". Di mana, Burung Garuda merupakan Lambang Negara Republik Indonesia, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh Presiden Soekarno, dan diresmikan pemakaiannya sebagai lambang negara pertama kali pada Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat pada 11 Februari 1950.
Menurut keterangan salah seorang anggota DPR sudah diverifikasi bahwa Burung Garuda merupakan lambang Kerajaan Samudra Pasai di abad 12, kemudian diadaptasi oleh Sultan Abdurrahman Hamid Alkadrie II menjadi lambang Garuda Pancasila.
Selain itu, ia menilai, ada kedekatan hubungan antara para ulama dengan lahirnya bangsa ini. "Hikmahnya, dekatnya hubungan para ulama terdahulu dng bangsa ini, bahkan berjuang sebelum negara ini lahir dan melancarkan kelahirannya,"
Kaitannya dengan Kerajaan Islam Samudra Pasai
sebenarnya apa kaitan Lambang Kerajaan Islam Samudra Pasai, yang menurut sejarah telah berdiri sejak tahun 1267, itu dengan Garuda Pancasila?
Sebab, jika diperhatikan secara sekilas, Lambang Kerajaan Islam Samudra Pasai tampak mirip dengan Lambang Negara Republik Indonesia, Garuda Pancasila.
Jika Garuda Pancasila, memuat lambang sila-sila Pancasila dan tanggal-bulan-tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, lambang Kerajaan Islam Samudra Pasai berisikan Basmalah, Syahadat, dan Rukun Islam.
Sejarah mencatat bahwa Kerajaan Islam Samudra Pasai didirikan oleh Sultan Malik as-Saleh, pada tahun 1267. Keberadaan pemerintahan Islam di Nusantara ini pun tercantum dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Petualangan ke Timur) karya Abu Abdullah ibn Batuthah (1304-1368); seorang petualang dan penjelajah samudera yang namanya sudah tak asing lagi di telinga kita.
Lambang garuda itu dirancang oleh Sultan Hamid II atas perintah Bung Karno, Lambang Kerajaan Islam Samudra Pasai konon dirancang oleh Sultan Zainal Abidin, yang kemudian disalin ulang oleh Teuku Raja Muluk Attahashi bin Teuku Cik Ismail Siddik Attahashi.
Apakah suatu kebetulan belaka bahwa perancang kedua Lambang Negara/Kerajaan ini adalah dua orang Sultan yang beragama Islam? Sukar dipercaya bahwa antara kedua lambang itu sama sekali tak terkait satu sama lain. Sebaliknya, banyak kalangan percaya bahwa lambang Kerajaan Samudra Pasai ini merupakan inspirasi bagi Lambang Negara, Garuda Pancasila.
Jika pada lambang Garuda Pancasila, sila pertamanya berlambang “Bintang” (Ketuhanan Yang Maha Esa), pada Lambang Samudra Pasai berupa lafal kalimah Syahadat.
Bukankah keduanya mengandung filosofi yang sama; yakni pengakuan pada keesaan Tuhan, yang dalam terminologi Islam dikenal sebagai Tauhid? Apalagi, dengan adanya semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang diilustrasikan dalam cengkeraman kuat sang Garuda sebagai prinsip berbangsa, yang konon juga merupakan istilah lain bagi prinsip luhur Manunggaling Kawula Gusti-nya Syech Siti Jenar atau bahkan Wahdatul Wujud-nya Mansur al-Hallaj.
Apakah sebuah kebetulan juga bahwa letak lambang “Tauhid” ini sama-sama berada di dada kedua “burung” itu? Yang boleh jadi, bermakna simbolis bahwa keimanan kepada Dia Yang Maha Esa itu tak lain adalah di dalam dada kita adanya?
Meski harus diakui bahwa jawaban atas semua pertanyaan itu hingga kini masih belum jelas bagi kita, namun patut kita akui bahwa betapa cerdas, bijak dan wasis-nya para pendahulu kita dalam mempersiapkan “segala sesuatu” yang berharga bagi kehidupan berbangsa kita, baik sejak awal kemerdekaan, saat ini, maupun ke depan.
Berikut, penjelasan semua lafal yang ada pada Lambang Kerajaan Islam Samudera Pasai seperti gambar:
- Pada Sayap kanan (atas), awal kalimat Basmalah: Bismi
- Pada sayap sebelah kanan (bawah): Asyhadu an-laa ilaaha
- Pada ekor: Wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah
- Pada kepala dan sayap sebelah kiri (atas), kalimat Basmalah melengkapi kalimat pada sayap sebelah kanan (atas): Allahu Arrahmanir Rahiim
- Sayap sebelah kiri (bawah), kalimat syahadat melengkapi pada sayap sebelah kanan (bawah): illallah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...