Langsung ke konten utama

MELAYU ITU SUKU ATAU BANGSA?

 

Gambar Ilustrasi: infosumbar

MELAYU ITU SUKU ATAU BANGSA?
Catatan Kecil : Yulfian Azrial ( Mak Yum)
"Melayu itu Suku atau Bangsa?" Demikian salah satu topik yang diangkat Grup Sejarah Dunia Dan Nusantara (SDN) Official, sebuah
Grup Publik besar yang beranggotakan sekitar 49,200 orang. Topik ini sebenarnya adalah 'percikan' dari sejumlah diskusi sebelumnya di Grup yang juga telah beberapa tahun mengamanahkan ke saya untuk turut menjadi adminnya.
Maka sebentar ini saya ikut menanggapi topik yang cukup fundamental dan penting ini. Berikut adalah tanggapan saya yang tentunya coba urun pendapat dari persepsi Alam MInangkabau.
________________
Dalam sistem tata kemasyarakatan di Pusat Alam Minangkabau, Malayu itu adalah sebutan untuk kampuang (kumpulan kaum) yang merupakan salah satu unsur dari kelompok 4 (empat) suku yang membentuk suatu nagari. Secara umum Malayu berada satu suku (satu kelompok kampuang) dengan Kampuang Bendang, Kampuang Kampa (Champa atau Kampa'i), Kampuang Mandailiang, Kampuang Panai, Kampuang Domo, dan di lain-lain nagari bisa juga dengan komposisi yang berbeza, yang lazim juga disebut sebagai Suku V Nan VII (Limo Nan Tujuah).
Seperti juga orang-orang dari Kampuang Mandalika, maka orang Malayu atau dari kampuang-kampuang dalam Suku Limo Nan Tujuah ini, sangat terkenal sebagai perantau-perantau yang tangguh serta sangat banyak menyebarkan peradaban bersawah dan berladang di berbagai tempat. Sebagai petani yang juga perantau maka mereka bahkan banyak membuka lahan ulayat yang sangat luas di luar Luhak Nan Tigo, sehingga akhirnya di luar Pusat Alam MInangkabau juga banyak dikenal dan ditemukan kampuang-kampuang Malayu, Kampuang Bendang, Kampuang Kampa (Champa atau Kampa'i), Kampuang Mandailiang, Kampuang Panai, Kampuang Domo, Kampuang Mandalika, dll.
Ini agak berbeda dengan Suku Nan Sambilan (Kampuang Tanjuang - Kampuang Paiobada, Kampuang Simabua - Kampuang Sipisang, Kampuang Sikumbang - Kampuang Picancang, Kampuang Koto - Kampuang Piliang) atau Suku Bodi Caniago (Kampuang Sumagek - Kampuang Sipak Napa, Kampuang Singkuang - Kampuang Lubuak Batang, Kampuang Bodi - Kampuang Caniago, Kampuang Supanjang - Kampuang Mandaliko, Kampuang Pauah - Kampuang Balai Mansiang, dll ) yang banyak bergerak di sektor perdagangan atau ebih banyak berperan untuk urusan mengelola sistem kemasyarakatan dan kepemerintahan.
Juga agak berbeda tentunya dengan Suku Ampek Niniak (Kampuang Pitopang, Kampuang Jambak, Kampuang Salo, Kampuang Kutianyie, Kampuang Bulu Kasok, atau Kampuang Banuampu, dll) yang merupakan kampuang-kampuang tertua di Minangkabau (sesuai hasil penelitian dan kajian yang di antaranya dibuktikan dengan kepemilikannya terhadap ulayat-ulayat yang sangat luas terutama di dataran tinggi) yang umumnya membuat mereka lebih banyak tetap menjaga kampung halaman.
Demikian urun pendapat dari saya. Salam Bersaudara
🙏

=====================

Sumber Asal DISINI

=====================

Baca Juga: 

  1. Minangkabau itu ialah Melayu Tua
  2. Istilah Melayu dalam Kronologi Sejarah


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...