Langsung ke konten utama

Sangkak Karojan Sumua Nan Janiah Ampek Baleh Koto



 Disalin dari kirim FB Rang Minangkabau
Sangkak Karojan Sumua Nan Janiah, salah satu kerajaan di Alam Minangkabau, daerahnya terbentang dari tepian anak-anak sungai Batang Kuantan hingga tepian anak sungai Batang Hari. Yaitu tepian Batang Paru, Batang Binuang dan anak sungainya dan Batang Kariang (anak sungai Batang Kuantan) dan tepian Batang Timpeh (anak sungai Batang Hari).
Terdiri dari Empat Belas Koto yang kemudian berkembang menjadi lima Nagari, yaitu Nagari Paru, Sungai Batuang, Aia Amo, Kamang dan Timpeh. Nagari Paru (kec. Sijunjung, Kab. Sijunjung), Nagari Sungai Batuang, Aia Amo, Kamang (kec. Kamang Baru, kab. Sijunjung). Nagari Timpeh (kec. Timpeh, kab. Dharmasraya).
Keterangan gambar : Rumah Godang Sangkak Karojan Sumua Nan Janiah Ampek Baleh Koto, milik Datuak Andiko Rajo, suku Malayu di Nagari Aia Amo, Kec. Kamang Baru, Kab. Sijunjung, Sumatera Barat.

Tambahan Deskripsi Cagar Budaya Rumah Gadang Kerajaan Sangkak Karojan oleh BPCB Sumbar

Kerajaan Sangkak Karojan Sumua nan Janiah Ampek Baleh Koto berada di Nagari Aia Amo Kecamatan Kamang Baru. Konon, nenek moyang Nagari Aia Amo berasal dari Tanah Suci yang berlayar melalui Laut Merah, Laut Siguntang-guntang sampai ke Palembang lalu ke Batang Hari, Jambi dan terus ke Batang Kuantan dan Batang Binuang. Ninik yang di atas itu adalah Dt. Andiko Rajo, Dt. Rajo Lelo Katik (Kotik Bandaro) dan rombongan.

Pertama kali mereka menetap di suatu daerah ketinggian yang bernama Rumah Tinggi, dengan bertambahnya anggota keluarga maka menyebarlah mereka sampai ke 14 koto[1] yaitu: Limo Koto di mudiak, Ampek Koto di tangah dan Limo Koto di hilia [jumlah koto; 14]. Inilah kemudian yang menjadi wilayah Kerajaan Sangkak Karojan Sumua nan Janiah Ampek Baleh Koto. 

Sumua nan Janiah berarti setiap perselisihan yang tidak bisa diselesaikan di koto masing-masing maka diselesaikan/dijernihkan. Istilah setempat menyebutnya sebagai kegiatan Barapek[2] Kauah atau Bakauah Bermusyawarah, di Rumah Gadang Kerajaan Sangkak Karojan ini. Rumah Gadang ini sudah tidak dihuni sekitar lima tahun (terakhir dipakai Tahun 2012).(Deskripsi Cagar Budaya Tidak Bergerak Kabupaten Sijunjuang 2018. Hal. 40 No.11)

=================

Catatan Kaki oleh Admin:

[1] Koto merupakan tahap terakhir dari pertumbuhan sebuah nagari di Minangkabau; 1)Taratak 2) Dusun/ Kampuang 3)Koto 4)Nagari

[2] Barapek, berapat atau rapat atau bermusyawarah mufakat.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...