Langsung ke konten utama

PENGGULINGAN dan PENGASINGAN "Sultan Muhammad Ali, raja Gowa ke-18"

 

Foto: wikipedia
Disalin dari kiriman FB Makasar Hostory & Heritage


PENGGULINGAN dan PENGASINGAN
"Sultan Muhammad Ali, raja Gowa ke-18"
Selama periode ini Sultan Abdul Jalil hanya mendapat sedikit dukungan dari orang-orang Makassar, itu karena aliansinya dengan Arung Palakka. Banyak yang tetap setia kepada Sultan Muhammad Ali, saudara laki-laki Abdul Jalil yang digulingkan dari tahta sebagai raja Gowa yang ke-18.
Orang-orang Kampong Beru' mengacu pada Sultan Muhammad Ali dan loyalitasnya yang tinggal di pengasingan di kota baru ini, sebuah perkampungan di sebelah Fort Rotterdam. Mereka mengirim surat kepada Abdul Jalil menawarkan untuk membiarkan dia tinggal di perdamaian jika dia akan menyerahkan Sudanga kepada mereka. Ini sama saja dengan turun tahta sebagai penguasa di mata orang Makassar.
ANRI 16/6 mencatat :
penolakan Abdul Jalil, menambahkan bahwa 'tidak diberikan' oleh karaeng [Abdul Jalil]’ (natanisareanga ri karaenga).
Lihat Andaya 1981:198-201.
Salah satu kalompoang (regalia) paling suci di Gowa adalah pedang bernama Sudanga. Berdasarkan Lontaraq patturioloang Gowa, dibawa ke Gowa oleh Lakipadada, saudara laki-laki Karaeng Bayo yang menikah dengan Tumanurung. Keturunan mereka ini membentuk garis pemerintahan di kerajaan Gowa dan Sudanga tetap dipercaya oleh raja Gowa.
----------
28 Maret (S) 1676
kami ditentang oleh Tunisombaya
[Arung Palakka],
Pasca perang Makassar di Gowa
᨞kinasongkaang ri Tunisombaya᨞
sisala rioloanta ri Gowa᨞
Jum'at,
3 April 1676
orang-orang bertempur dan
Daengta Daeng Mamo terbunuh
᨞namaqbunduqmo taua᨞
naniposo Daengta Daeng Mamaro᨞
11 April 1676
Tumamenang ri Lakiung [Abdul Jalil]
pergi dari Gowa dan
terus ke Tunisombaya [Arung Palakka]
᨞namaqlampa ri Gowa Tuammenang ri Lakiun᨞ taqle ri Tunisombaya᨞
Senin,
27 April 1676
Tunisombaya [Arung Palakka]
terluka di paha kirinya
᨞namalokoq Tunisombaya᨞bongga kairinna᨞
Rabu,
13 Mei 1676
Sultan Muhammad Ali dan Arung Palakka disepakati oleh Belanda; 40 [malam] setelah bertengkar mereka setuju dan Karaeng Lambengi dibawa ke laut ke Ujung Pandang
᨞nanipasitaba ri Balandaya᨞ karaenga᨞ Tunisombaya᨞ 40 sisala nanipasitaba nanierang kalauq ri Jumpandang Karae
Lambengi
Rabu,
2 September 1676
Arung Palakka berlayar ke Luwu
untuk berperang
᨞namammise Tunisombaya
mantama ri Luwuq maqbunduq᨞
17 April 1677
Gowa diserang oleh Arung Palakka
akibat pertengkaran itu
᨞nanaosongi Gowa Tunisombaya᨞
sisala ribokota᨞
3 Mei 1677
Arung Palakka terluka oleh tombak
di daging pantatnya
᨞namalokoq poke Tunisombaya᨞
rappo pajama᨞
23 Mei 1677
Bisei (Sultan Muhammad Ali) dikuasai
dan Karaeng ri Agangjeqneq terbunuh
᨞nanibangka Bisei᨞
naniposo Karaengta ri Agangjeqneq᨞
Selasa,
27 Juli 1677 ;
Gowa ditaklukkan, Sultan Muhammad Ali
diusir oleh Belanda dan Sultan Abdul Jalil dimasukkan sebagai raja di Gowa
᨞nabeta Gowa᨞ nanipasuluq Tumatea ri Jakattaraq ri Balandaya᨞ naTuammenang ri Lakiun nipantama Karaeng ri Gowa᨞
Jum'at,
16 September 1678 ;
Sultan Muhammad Ali Tumatea ri Jakattaraq dibawa ke luar negeri ke Jakattaraq [Jayakarta],
411 orang Makassar bepergian bersamanya.
᨞nanierang kalauq ri Jakattaraq Tumatea ri Jakattaraq᨞ Mankasaraq naagaang sidongkokang 411᨞
7 Oktober 1678
Arung Palakka] berlayar ke luar negeri
ke Jakattaraq [Jayakarta]
᨞nasimombalaq Tunisombaya
kalauq ri Jakattaraq᨞
Jum'at,
28 Oktober 1678
Penduduk Kampung Beru pergi ke Sanrabone, untuk meminta Sudanga
dari Tumamenang ri Lakiung [Abdul Jalil]
᨞namanaiq ri Sanrabone tuKampong Berua᨞ ampalaki Sudanga ri Tuammenang ri Lakiun᨞
Sumber :
-The Makassar Annals
"William P. Cummings"
-Lontaraq Bilang
"Catatan harian Kerajaan Gowa dan Tallo"
Di sunting oleh :
ᨄᨍᨄ ᨅᨀᨙ
Pajappa Bangkeng


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...