Langsung ke konten utama

HUBUNGAN BANGSA MAKASSAR & MINANG KABAU

Foto: rumusbilangan.com
Disalin dari kiriman FB Makasar History & Heritage

HUBUNGAN BANGSA MAKASSAR & MINANG KABAU
Hubungan Makassar dan Minangkabau terjalin pada masa abad Silam.
Datuk Ri Bandang yang bernama asli Abdul Makmur dengan gelar Khatib Tunggal adalah seorang ulama dari Koto Tangah, Minangkabau yang menyebarkan agama Islam di Kerajaan Gowa dan Tallo
Dalam Catatan Naskah Lontaraq Patturioloang Gowa berbunyi ;
ᨆᨈᨆᨕᨗ ᨑᨗᨈᨕᨘ ᨈᨘᨍᨘ ᨊᨆᨁᨕᨘ ᨕᨑᨙ ᨀᨒᨙᨊ ᨕᨗᨕᨀᨘ ᨆᨅᨔᨘ ᨊᨗᨀᨊ ᨕᨗ ᨆᨂᨑᨂᨗ ᨕᨑᨙ ᨄᨆᨊ ᨕᨗ ᨉᨕᨙ ᨆᨑ ᨅᨗᨕ ᨕᨑᨙ ᨕᨑᨊ ᨊᨗᨀᨊ ᨔᨘᨖ ᨕᨒᨕᨘᨉᨗ ᨊᨔᨄᨘᨒᨚ ᨈᨕᨘ ᨕᨑᨘᨕ ᨆ ᨁᨕᨘ ᨊᨆᨈᨆ ᨕᨗᨔᨗᨒ, ᨆᨑᨀᨅᨚ ᨕᨄᨔᨖᨉᨀᨗ ᨀᨚᨈ ᨓᨂ ᨕᨑᨙᨊ ᨄᨑᨔᨂᨊ ᨀᨈᨙ ᨈᨚᨁᨒ ᨕᨑᨙ ᨀᨒᨙᨊ ᨕᨆᨙᨄᨚᨄᨗ ᨑᨗᨕᨄ ᨊ ᨄᨆᨈᨚᨕ ᨑᨗᨈᨊᨍ ᨊᨊᨗᨀᨊᨆᨚ ᨕᨗ ᨉᨈᨚ ᨑᨗ ᨅᨉ ᨊᨄᨈᨆᨂ ᨕᨗᨔᨗᨒ ᨀᨑᨕᨙᨂ ᨔᨒᨄ ᨅᨂᨗᨊ ᨅᨘᨒ ᨍᨘᨆᨉᨙᨒᨙ ᨕᨓᨒ ᨑᨗᨕᨒᨚᨊ ᨍᨘᨆᨀ ᨆᨙᨔᨙᨊ ᨔᨙᨈᨙᨅᨙᨑᨙ ᨑᨘᨕᨄᨘᨒᨚ ᨕᨑᨘᨕ ᨖᨙᨍᨙᨑᨊ ᨊᨅᨗᨕ ᨔᨒᨒᨖᨘ ᨕᨒᨕᨗᨖᨗ ᨓᨔᨒ.
"Mantamai ritaung tudju nama’gau’ areng kalenna, iangku mabassung nikana I Mangngarangi areng paman’na I Daeng Manra ‘bia areng Ara ‘na nikana sulthan Alau ‘ddin, nasampulo taung anrua ma ‘gau ‘ namantama Isilang, Marangkabo ampasahadaki, kota Wanga arenna para’sanganna, Katte Tonggala ‘areng kalenna, ammempopi riappa ‘na Pammatoang ritanaja nanikanamo I Dato ‘ri Bandang; napantamanga Isilang Karaenga salapang bangnginna bulan Djumadele ‘ awwala’, riallona Djumaka, mese’-na Septembere ‘ ruampulo anrua, hejera’na Na ‘bia Sallalahu alaihi wasallang "

[Bahasa]
" Ia (Raja Gowa) mengendalikan pemerintahan semasih berumur tujuh tahun, nama kecilnya, semoga saya tidak berdosa menyebutkannya, adalah I Mangngarangi, nama daeng-nya adalah I Daeng Manra’bia, nama Arabnya adalah Sultan Alauddin. Setelah ia memerintah dua belas tahun, ia masuk Islam yang dibawa oleh orang dari Koto Tangah, Minangkabau. Orang inilah yang mengajarkan kepadanya kalimat syahadat. Ia digelar Datuk ri Bandang setelah ia bertempat tinggal di Kampung Pammatoang (Bandang). Raja (Gowa) masuk Islam pada hari Jumat, 9 Jumadil Awal bertepatan dengan 22 September. "
• Maqam Datuk Ribandang kini berada di jl. Sinassara', Kaluku bodoa kec. Tallo. Kota makassar. Sulawesi-Selatan.
===========================
Jejak Hubungan Makassar dan Minangkabau juga dapat dilihat di sebuah makam kuno di Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar.
Di komplek makam kuno ini, terdapat dua makam yang berdampingan. Kedua makam tersebut “dibungkus’ dengan bangunan tembok. Di makam sebelah Utara, terkubur jazad salah seorang ulama yang yang berasal dari Minangkabau, datang ke Sanrobone untuk menyebarkan ajaran Islam. Nama Ulama ini diketahui bernama; Datuk Mahkota Sultan Pagaruyung, Th. 1010 H/1589 M, karena jelas tertulis di batu nisan kuburan tersebut.
Makam lain yang berada di sebelah makam yang pertama, juga berukuran besar. Jelas makam ini mengandung jazad seorang wanita, karena di batu nisan makam tersebut tertulis: Siti Mohana, Isteri Datuk Mahkota Sultan Mahmoed Iskandar.


Baca jug:

  1. Datuk Mahkota Sulthan Pagaruyung


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...