Langsung ke konten utama

Curaian tentang dasar adat Minang Kabau



Kalau tidak berbudi baik artinya Tak Beradat. Dalam pengertian tidak berprikemanusiaan. Jadi salah satu dasar adat Minangkabau itu adalah:

1.Perikemanusian
Oleh Karena Budi baik itu digali dalam Lembaga Mufakat di Balerong [balairung] Adat dengan hikmat kata sepakat dalam permusyawaratan di bawah pimpinan lembaga adat Minang Kabau, munculah dasar kedua;

2.Musyawarah terpimpin
Lantaran sidang permusyawaratan Kerapatan Adat itu terdiri dari bermacam suku yang berbeda Tapi bersatu dalam kesatuan nagari Minang Kabau, sifat kesatuan nagari itu berdasarkan yang ketiga;

3.Bhineka tunggal Ika
Bahwa golongan orang yang bekerjasama dalam sidang Kerapatan itu merupakan pekerjaan gotong royong menurut kata pepatah "Singkek bauleh, kurang tukuak manukuak" maka sifat musyawarah adat itu bersifat yang ke empat;

4.Gotong royong
Bahwa pembagian hasil diatas tanah kepunyaan suku menjadi Ulayat Pangulu itu di bagi secara adil menurut kata Pusako"banyak dibagi ba onggok, saketek dibagi bacacah"diantara anak kemenakan, maka sifat penghidupan masyarakat Minangkabau berdasarkan yang kelima;

5.Keadilan sosial
Bahwa Budi baik/perikemanusian yang jadi dasar lembaga adat itu, menurut pengertian agama Islam adalah sama dengan"Makarimal Akhlak", yang bertujuan memperbaiki akhlak dan Budi baik itu. Maka dengan mudah adat Minang Kabau menerima Islam sebagai kepercayaan Kepada Allah Yang Maha Esa. Dan agama Islam itu jadi jiwa adat Minang Kabau, dengan ini adat menjunjung tinggi dasar kepercayaan tersebut.

6.Bertuhan kepada Allah Yang Maha Esa
Anggang nan datang dari lauik,
Tabang sarato Jo mangkuto,
Dek baik Budi nan manyabuik,
Pumpun kuku patah paruahnyo

Dibukak buhua Deta datang,
Disamek kain saluak timbo,
Kok gapuak lamak tak dibuang,
Dek pandai alam Santoso
Kato adat pahamnyo aman
Malangkapi rukun bana Jo syarat
Kalau elok pegang jadi pedoman
Santoso dunia Jo akhirat
Nan mancancang nan mamampeh
Nan bahutang nan mambatua
Tali Jo tuhan kalau lapeh
Dunia anguih akhirat caieh

Terimakasih semoga ada manfaatnya,

Disalin dari kiriman FB

Dt. Panduko Reno

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...