Langsung ke konten utama

TENTANG PARIANGAN PD. PANJANG, SITUS MAHEK, DAN ISLAM.

 


TENTANG PARIANGAN PADANG PANJANG, SITUS MAHEK, DAN ISLAM.

Catatan Ringan :
Yulfian Azrial
(Mak Yum)
PAGI ini kebetulan saya membaca sebuah status di Grup Sejarah Dunia Dan Nusantara (SDN) Official, yang beranggotakan sekitar 39.300 orang. Status ini tentang peninggalan sejarah yang bertajuk "Pariangan Atau Mahek? Masyarakat Pertama Di Minangkabau" yang ditulis
Naufal Bagindo Malano
.
Antara lain ditulis Naufal, sebagai berikut :
Peninggalan sejarah yang paling tua dan sampai sekarang tetap dikaji di Minangkabau adalah menhir. Sebagai situs megalitikum yang diperkirakan sudah ada sebelum masehi.
Menhir yang umumnya berbentuk seperti gagang keris atau pedang dengan berbagai ornamen (geometris, sulur-suluran) ataupun tanpa hiasan (polos). Situs-situs ini.... tersebar di wilayah 50 [[Limo Puluah] koto di antaranya Situs Bawah Parit, Situs Mahat, Situs Guguk, Situs Bukit Apar (lihat Triwurjani, 2016 dan Yondri, 2014) dan di wilayah Tanah Datar terdapat di situs Gudam (lihat, Miksic, 2004).
Penelitian di situs menhir Bawah Parit berhasil menemukan tujuh rangka manusia pada kedalaman 125 cm hingga 195 cm di bawah menhir (Yondri, 2014).
Data-data yang diungkapkan oleh Yondri dari hasil penelitian sangat menarik di antaranya: (1) rangka manusia yang terkubur merupakan ras Mongoloid; (2) adanya jejak liang lahat; (3) tidak ditemukan bekal kubur; (4) orientasi kepala ke arah barat laut sementara kaki ke arah tenggara.

Yondri menyimpulkan bahwa sistem penguburan semacam ini sangat berbeda dengan sistem penguburan prasejarah di wilayah Indonesia lainnya bahkan sangat mirip dengan sistem penguburan Islam walaupun berbeda orientasinya (pemakaman Islam saat ini beriorientasi Utara-Selatan), Yondri berpendapat bahwa komunitas tersebut pada masa lalu pernah bersentuhan dengan kebudayaan Islam kemudian menyingkir ke pedalaman, mereka menyerap sistem penguburan yang ada dalam Islam.
Hal serupa juga ditemukan oleh Triwurjani (2016) di Situs Guguk, Hasil ekskavasi berhasil menemukan dua rangka manusia ras Mongoloid pada kedalaman sekitar 160-180 cm di bawah menhir. Selain itu juga diungkapkan:
(1) adanya jejak liang lahat dalam penguburan,
(2) rangka manusia dalam posisi terbujur dan dimiringkan dengan rusuk kanan berada di bawah,
(3) tidak adanya bekal kubur,
(4) orientasinya dalam arah barat laut-tenggara.

Temuan ini sangat mirip dengan temuan di situs bawah parit yang mengindikasikan mirip sistem penguburan Islam.
....... dst
Berikut ini adalah komentar saya baru saja di status tersebut :
PARIANGAN PADANG PANJANG.
Secara empirik, nagari pertama di Minangkabau itu sepertinya memang adalah Pariangan Padang Panjang, dengan pimpinannya antara lain Datuak Bandaro Kayo (Pariangan) dan Datuak Maharajo Basa (Padang Panjang). Berdiri nagari, berarti sudah ada sistem kemasyarakatan yang sudah sangat maju, yang kemudian menjadi acuan final nagari adat di Minangkabau hingga sekarang. Artinya pada Zaman berdirinya Nagari Pariangan Padang Panjang itu Minangkabau sudah berada di zaman kemajuan.
MAHEK DAN SEKITARNYA (LUHAK LIMOPULUAH)
Sementara situs di Mahek dan sekitarnya (Luhak Limopuluah) membuktikan bahwa kawasan tersebut telah dihuni manusia di sekitar tahun 4000 - 3000 SM.
Adanya budaya berkubur, tentu merupakan pengaruh budaya dari ajaran Islam yang berkembang sejak Zaman Nabi Adam As dan Nabiulllah Rasulullah selanjutnya hingga Nabi Muhammad SAW. (Dari Al-Qur'an terungkap kalau budaya berkubur ini bermula dari apa yang telah dilakukan Qabil terhadap jenazah Habil).
Kemudian menhir, sesuai dengan penelitian para pakar selain menjadi nisan kuburan juga sekaligus menjadi sarana penghormatan kepada leluhur (nenek moyang). Adapun sesuai dengan sejarah Islam, maka penghormatan kepada leluhur (nenek moyang). dan tetap menyembah Zat Yang Mahatunggal (Allah SWT) merupakan stressing utama dari Ajaran Islam pada Zaman Nabi Idris As.
Apakah masyarakat di sana (Mahek dan sekitarnya atau Minangkabau Lama) juga adalah penganut ajaran Islam yang disyi'arkan oleh Nabi Idris? Untuk memastikan hal ini tentu masih memerlukan kajian yang lebih komprehensif dan mendalam.
Sekian komentar saya
(Mak Yum) Yulfian Azrial

Disalin dari kiriman FB: Yulfian Azrial

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...