Langsung ke konten utama

Tatkala Borjuis Merengek


Apa masalah tuan dan nyonya dengan Pedagang Kaki Lima (PKL)

Hai tuan-tuan dan nyonya-nyonya, ada masalah apa tuan dan nyonya dengan PKL? Kenapa hina betul rasanya PKL berjualan kembali di Bukit Tinggi ini?

Kenapa jijik betul tampaknya tuan dan nyonya dengan PKL ini berdagang di tempat pelancongan? Tuan dan nyonya ada berpenghasilan tetap setiap bulan, pasti yang akan dimakan.

Ya kan,.

Samentara PKL ini? Tolonglah tanya pada diri tuan dan nyonya.

Oh ya, kalau hendak berbelanja yang murah meriah, tuan dan nyonya jangan sampai pula berbelanja ke PKL. Jijik kita dengan mereka, mereka hina..

Ya kan,.

Satu lagi, jangan disangka tuan dan nyonya sahaja yang punya Bukit Tinggi ini, 45% ber-KTP Bukittinggi pula sebagian PKL.

Jadi, difikir dan direnungkanlah dahulu, apapun yang tertulis oleh tuan dan nyonya di medsos ini akan menjadi jejak digital dan dari sekarang kami ingatkan kembali kalau jejak digital itu kejam.

_______________________________________

Dimelayukan dari kiriman asli:

Apo Masalah Tuan Nyonya Samo Pedangang Kaki Limo ?
Hai tuan-tuan/nyonya-nyonya, ado masalah apo tuan nyonya samo pedangang kaki limo ?
Kok hino bana rasonyo kaki limo manggarik baliak di Bukittinggi ko ?
Kok jijik bana nampak nyo tuan nyonya samo pedangang kaki limo ko manggaleh di tampek wisata ?
Tuan nyonya lai bapenghasilan jaleh satiok bulan. Pasti nan ka dimakan.
Ya .. Kan
Samantaro nan pedagang kaki limo ko ?
Tolonglah tanyo ka diri tuan nyonya ...
Oh yo, kok ka babalanjo nan murah meriah tuan nyonya jan sampai pulo ka urang kaki limo dak, jijik wak .. ano hino lo ...
Ya .. Kan
Ciek lai, jan disangko tuan nyonya se nan punyo Bukittinggi ko. 45% lai ba KTP Bukittinggi pulo, sebagiannyo padagang kaki limo.

Jadi inok manuangan bana lah dulu ... apopun nan tatulih samo tuan nyonya di medsos ko ka jadi jejak digital ... dan dari kini di ingekkan baliak jejak digital itu kejam

Disalin dari kiriman FB: Dadang St.Batuah 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...