Langsung ke konten utama

Sultan Termuda Yang Dilantik.


Sultan Termuda Yang Dilantik.

Kesultanan Deli adalah sebuah kesultanan Melayu yang didirikan pada tahun 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan di wilayah bernama Tanah Deli (kini Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, Indonesia). Kesultanan Deli masih tetap eksis hingga kini meski tidak lagi mempunyai kekuatan politik setelah berakhirnya Perang Dunia II dan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia.
Jumat (22/7/2005), Aria Mahmud Lamanjiji, seorang bocah berumur 8 tahun dinobatkan sebagai Sultan Deli XIV menggantikan ayahnya, Letkol Tito Otteman yang tewas akibat kecelakaan pesawat CN-235 di Bandara Malikus Saleh, Lhokseumawe.
Meski masih bocah mata Aria Lamanjiji tampak awas memandangi semua hadirin yang menyaksikan prosesi upacara penting itu, termasuk empat datuk yang melantiknya.

Upacara pelantikan Aria berlangsung sekitar pukul 10.40 WIB. Pelantikan berlangsung di Balairung Istana, persis di hadapan peti mati ayahnya. Pelantikannya memang harus begitu, karena dalam adat Melayu Deli, ada pameo, "Raja Mangkat Raja Menanam". Artinya yang mengebumikan raja, haruslah juga raja. Berarti harus ada raja baru yang mesti mengebumikan raja lama.

Prosesi berlangsung singkat hanya sekitar 15 menit. Pertama, dibacakan Surat Ceri yang merupakan hasil putusan pertemuan empat datuk tanah Karo yang menentukan Sultan berikutnya. Yakni :

1. Datuk Adil Freddy Aberham Sembiring Pelawi yang disebut Datuk Sepuluh Dua Kuta.
2. Datuk Seifi Ikhsan Karokaro Soerbakti, gelar Datuk Sunggal Serba Nyaman.
3. Datuk Ahmad Fauzie Morias Karokaro Sekali, gelar Datuk Suka Piring.
4. Datuk Wan Buhari Muslim Baroes gelar Datuk Kejuruan Sinembah Deli.
Setelah pembacaan Surat Ceri tadi, selanjutnya Datuk Ahmad Fauzie Morias Karokaro Sekali gelar Datuk Suka Piring memberikan Pedang Bawar kepada Aria yang menggunakan pakaian putih-putih berikut penutup kepala putih.

Setelah diterima, pedang itu lalu dikeluarkan dari sarungnya. Segera setelah pedang itu dihunus, sah-lah Aria menjadi sultan. Lalu diberikan juga kepadanya keris berlapis emas dengan gagang gading yang diselipkan di pinggangnya. Sementara gelar yang diberikan kepada Aria selaku Sultan Deli XIV adalah "Sultan Mahmud Lamanjiji Perkasa Alam".
Karena Aria masih belum akhil baligh, belum dewasa dalam ajaran Islam, maka tampuk kepemimpinan dipegang oleh Raja Muda Deli. Tengku Hamdy Osman Deli Khan, yang masih terhitung kakeknya, dipercaya sebagai Raja Muda Deli. Tengku Hamdy Osman Deli Khan sudah memegang jabatan Raja Muda Deli, atau raja pengganti, selama puluhan tahun.
Menurut seorang kerabat kesultanan, sultan termuda sebelumnya adalah Sultan Ma'moen Al Rasyid (1873-1924), yang diangkat pada umur 15 tahun. Namun dengan adanya Sultan Deli XIV, maka rekor termuda jadi berpindah tempat.

Adapun Sultan-sultan Deli sebelumnya adalah
(1) Tuanku Panglima Gocah Pahlawan, tahun 1632 - 1669,
(2) Tuanku Panglima Parunggit, tahun 1669 - 1698,
(3) Tuanku Panglima Padrap, tahun 1698 - 1728,
(4) Tuanku Panglima Pasutan, tahun 1728 - 1761,
(5) Tuanku Panglima Gandar, Wahid tahun 1761 - 1805,
(6) Sultan Amaluddin Mangendar tahun 1805 - 1850,
(7) Sultan Osman Perkasa Alam, tahun 1850 - 1858.
(8) Sultan Mahmud Al Rasyid, tahun 1858 - 1873,
(9) Sultan Ma'moen Al Rasyid, tahun 1873 - 1924,
(10) Sultan Amaluddin Al Sani Perkasa Alamsyah, tahun 1924 - 1945,
(11) Sultan Osman Al Sani Perkasa Alamsyah, tahun 1945-1967,
(12) Sultan Azmy Perkasa Alam Alhaj, tahun 1967-1998,
(13) Sultan Otteman Mahmud Perkasa Alam, sejak 4 Mei 1998 hingga 21 Juli 2005.
Karena Kesultanan Deli dibentuk dengan persetujuan dan dukungan empat datuk tanah Karo, maka kesemua sultan-sultan Deli tsb. turun temurun harus dilantik oleh 4 datuk dari tanah Karo, yakni :
1. Datuk Sepuluh Dua Kuta.
2. Datuk Serba Nyaman.
3. Datuk Suka Piring.
4. Datuk Kejuruan Sinembah Deli.
Praktis keempat datuk tsb juga berfungsi sebagai Dewan Menteri yang bersama dengan Sultan menetapkan undang-undang serta peraturan bagi masyarakatnya.

Dewan menteri ini juga mirip dg kedudukan dan fungsi "Basa Ampek Balai" di Kerajaan Pagaruyung.
Dan juga mirip dg fungsi dan kedudukan Dewan Menteri pada Kesultanan Siak Sri Indrapura.
Dewan menteri Kesultanan Siak Sri Indrapura terdiri dari:

1. Datuk Tanah Datar.
2. Datuk Limapuluh.
3. Datuk Pesisir.
4. Datuk Kampar.
------
👉
Rangkuman jawaban dari beberapa komentar yg bisa kucoba jawab.
PERTANYAAN
Riah Ukur Sinuraya
menurut sejarah dan buku yg saya baca aultan pertama org india gocah pahlawan nikah dgn putri karo tapi anehnya ko jadi melayu mari kita bingung hehehe
Riah Ukur Sinuraya
Jodi Kembaren ia tau tur tapi nyatanya si gocah kan india istrinya suku karo ko turunannya jdi melayu coba .jelaskan dan cari dulu solusinya ?atau. Jawabannya .
Jodi Kembaren
Riah Ukur Sinuraya lupa kacang akan kulitnya.
Kita selama ini telah dipecah belah.
Sinulingga Julius Riandi
Pertanyaan nya adalah?kenapa sultan deli harus diangkat oleh para datuk 4 urung orang karo?
------
JAWABAN :
Kesultanan Deli dan masyarakat Melayu Deli tidak akan pernah terbentuk jika tidak atas kesepakatan 4 datuk urung tanah Karo yg mendukung penuh Panglima Gocah Pahlawan utk mengasaskan Kesultanan Deli.

Karena sebelumnya 4 datuk urung tanah Karo itu sudah Islam, berbudaya melayu dan bagian inti Kesultanan Haru yg belum lama runtuh, maka dg sendirinya Kesultanan Deli yg baru terbentuk tetap berbudaya Melayu dan disebut Kesultanan Melayu Deli.

Secara etnis, geneologis, keturunan mereka adalah Suku Karo, namun secara adat dan agama mereka adalah Melayu dan Islam. Itulah hakikat sebenarnya dari masyarakat Melayu Deli.

Berbeda dg Kesultanan Haru yg juga Islam tapi adat istiadat Istananya menganut dua adat bersamaan yakni adat Melayu dan adat Karo. Kerajaaan Haru (Sebelum jadi Kesultanan) juga diasaskan oleh suku Karo bersama 4 datuk urung tanah Karo. Islam masuk, mereka menjadi Islam dan Kerajaan Haru berobah menjadi Kesultanan.

Adat Melayu masuk menjadi adat istiadat Istana, disamping Adat Karo yg tetap ada karena mayoritas masyarakatnya masih menganut agama Pemena Karo. Penganut Pemena dan Islam hidup berdampingan sebagai rakyat Kesultanan Haru Karo.
Lalu kenapa yg sudah Islam harus beradat Melayu.? Kenapa tidak tetap beradat Karo saja.?

Sebabnya adalah karena adat Melayu identik dg agama Islam. Sementara adat Karo identik dengan agama Pemena. Adat Karo dan agama Pemena hakikatnya adalah satu paket. Dan adat istiadat Karo hanyalah atribut duniawi dari ajaran agama Pemena yg sudah tentu tidak lagi boleh diikuti oleh yg sudah menganut agama Islam dan tunduk pada ajaran dan tauhid Islam.
Karena penganut Islam hanya minoritas maka pilihan dari otoritas Kesultanan Haru saat itu adalah membiarkan adat istiadat Karo tetap utuh tanpa tekanan dari ajaran Islam. Adat Karo dan agama Pemena Karo tetap sebagaimana adanya. Sementara untuk yg sudah menganut Islam akan mengadopsi adat istiadat Melayu.

Karena keluarga Sultan dan mayoritas perangkat Kesultanan Haru Karo termasuk 4 datuk urung tanah Karo sudah menganut Islam maka sudah tentu adat istiadat Istana didominasi oleh adat Melayu. Ini alami.

Sementara rakyat Haru Karo yg mayoritas beragama Pemena tetap menganut adat istiadat Karo. Dan bagi rakyat Haru Karo yg kemudian beralih menjadi Islam otomatis akan berganti adat menjadi beradat Melayu.

Jadi definisi Melayu disini bukanlah penunjuk keturunan yg menjadi suku, melainkan hanyalah karena adat dan budaya yg kemudian menjadi identitas.

Geneologis keturunannya tetap keturunan suku Karo.
Negerinya adalah Negeri Haru Karo.
Tanahnya adalah Taneh Karo Simalem Bumi Turang.
Bukanlah Karo sembarang Karo.
Bukan pula Haru sembarang Haru.
Tapi Haru sudah menjadi Melayu.
Itulah Melayu Deli.
Sama halnya dg Kesultanan Siak Sri Indrapura tidak akan pernah terbentuk jika tidak atas kesepakatan 4 datuk Riau daratan yg mengusung dan mendukung penuh Raja Kecil (Raja Kecik) untuk mengasaskan Kesultanan Siak Sri Indrapura.

Sementara Raja Kecil sendiri bukanlah orang Siak asli, melainkan hanyalah tokoh fenomenal dan petualang yg dibesarkan dan dididik langsung oleh Bundo Kanduang di Istana Pagaruyung Minangkabau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...