Langsung ke konten utama

Kemegahan Semu


Kabarnya bayak Pedagang Kaki Lima (PKL) ataupun pedagang asongan berjualan di taman Jam Gadang menuai lagi saling serang buntut dari Pilkada [Bukit Tinggi].

Apa kita tidak fair [adil] lagi melihat kenyataan bahwa pergantian kekuasaan belum dilakukan dan apakah kita tidak bisa menerima kenyataan hasil Pilkada...???

Bukankah, didunia ini semua bakatiko (adm: ada masanya) dan tidak ada yang abadi? Saya rasa pemikiran bodoh jika punya pikiran menganggap abadi seseorang di hati hanya karena berlebihan menyanjung dengan sematan berbagai gelar.

Apakah kita lupa bahwa mereka (adm: pedagang kecil) adalah saudara-saudara kita yang sedang berikhtiar untuk keluarga mereka. Mungkin saja selama ini ada diantara kita yang mengambil keuntungan dengan cara memuji-muji berlebihan atas tontonan kemewahan dan kemegahan kota ini, sementara kita tidak pernah berpikir apakah keluarga pedagang kecil itu ikut menikmati kemewahan dan kemegahan yang kita puji-puji itu.

Saya rasa kita terlalu egois memandang mereka. Kenapa tidak ada postingan yang menyerukan agar junjungannya tetap komit atas aturan yang dibuat sebelumnya sampai berakhirnya masa jabatan, jika memang ingin dikenang menurut sematan nama-nama pujian itu...???

Disinilah makanya perlu segera sportif mengucapkan selamat kepada pemenang karena otomatis juga mengucaokan selamat pada diri sendiri. Jika tidak, itulah bentuk syahwat politik yang akan menerkam jiwa para penguasa.
#Pedagang kecil itu untuk dilindungi bukan dijadikan bahan dendam politik.
#Kalah jangan menjadi kerdil, karena semua ini hanya permainan dunia.

Catatan: Kata dalam [] dan () ditambahkan admin

Disalin dari kiriman FB: Suhendri

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...