Taufik Abdullah: Pasca PRRI, Orang Minang Seperti Kehilangan Sesuatu pada Dirinya
----------
Dalam buku Audrey Kahin yang berjudul, "Dari Pemberontakan Ke Integrasi Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926-1998" tepatnya pada bagian pengantar, sejarawan asal ranah Minang, Taufik Abdullah mengisahkan bagaimana perjalanan pulangnya, sepulangnya menuntut ilmu dari luar daerah, dan tentu saja cukup melankolis apabila dibaca dan diresapi, mari coba kita lihat, kepulangannya itu pada awal tahun 1961. Mari kita lihat, apa kata Taufik Abdullah?
Sudah lebih empat tahun saya tidak menginjak tanah kelahiran ini. Kini saya pulang, meskipun orang tua dan adik-adik telah pindah. Mereka tak lagi tinggal di kota tempat saya dan adik-adik dibesarkan. Mereka telah pindah ke propinsi lain,. Tetapi saya ingin sekali melihat dan mengunjungi "alam Minangkabau", yang kini harus mengobati luka-luka sejarah yang telah menimpa dirinya. Bagaimana keadaan Sumatra Barat setelah mengalami peristiwa pemberontakan PRRI?
Dengan harap-harap cemas saya turuni kapal yang telah membawa saya dari Tanjung Priok ke Teluk Bayur. Orang ramai hilir-mudik, tetapi tidak seorang pun yang saya kenal. Entah mengapa, tiba-tiba saja saya merasa sebagai seorang perantau yang sedang singgah di negeri orang, bukan anak muda yang kembali ke kampung halaman setelah sekian lama merantau di negeri orang.
Saya memutuskan saja untuk mencari bis yang akan membawa saya ke kota Padang. Betapa saya ingin berandai-andai dengan para penumpang bis ini. Tetapi dengan siapa? Terasa seakan-akan hanya saya saja yang sendirian tanpa teman. Duduk di kursi paling belakang, akhirnya saya ringankan saja mulut untuk berkata pada kenek bis, "Sudah empat tahun tak pulang," kata saya sambil tersenyum minta simpati. Tetapi sayang ia hanya mengangguk dan memberi komentar pendek. "Biasa!" Dan, saya pun kehilangan bahan pembicaraan. Betapa besar harapan saya agar ia mau saja bertanya meskipun sambil lalu saja, "mengapa?" Dan saya pun tentu akan ceritakan sekadarnya dan akan bertanya ini dan itu. Sayang percakapan itu hanya bermain dalam khayal saya saja.
Dalam perjalanan saya melihat dengan jelas betapa supir dan kenek bis, yang selalu saya bayangkan sebagai para pemberani dan cenderung sinis, dengan begitu saja telah kehilangan semuanya bila saja bis distop oleh prajurit.
Bukan keramahan mereka yang saya persoalkan, tetapi ketakutan yang terpancar dari wajah yang biasanya tegar dan kekikukan bahasa tubuh yang biasanya membayangkan kepastian gerak. Sekian keanehan lain masih mengalir begitu saja. Apakah orang Minang telah kehilangan sesuatu yang selalu mereka banggakan kepercayaan diri yang tinggi di kampung halaman sendiri?
Maka mestikah diherankan kalau saya, yang sempat "besar kepala" karena telah menjadi asisten dosen dan wakil ketua senat mahasiswa di "negeri orang", tiba-tiba saja merasa kecut juga. Langkah dan kata-kata saya pun mulai saya jaga, "Masalahnya," kata para penasehat saya di Padang (orang-orang yang menasehati Taufik Abdullah di Padang), "kedongkolan dan kemarahan tidak akan ditujukan kepada kamu, karena kamu mahasiswa dari Jawa, tetapi pada sanak saudara yang tinggal di kampung."
Saya pun paham juga jadinya mengapa sang kenek bis hanya menjawab "biasa" ketika saya mengatakan saya telah lama tak pulang kampung. Meskipun Minangkabau entah sejak abad keberapa telah dikenal sebagai daerah yang banyak menghasilkan para perantau, tetapi secara statistik "diaspora" yang sesungguhnya orang daerah ini barulah terjadi setelah peristiwa PRRI/Permesta meletus. "Restoran Padang" menjadi bagian dalam kehidupan nasional, baru bermula sejak krisis ini pula.
Sumber:
Taufik Abdullah, "Pengantar," dalam Audrey Kahin, Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926–1998.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar