Sisi Gelap Perkeretaapian di Sumbar akan Lenyap
FB Sumatrain via FBG BRN | KERUGIAN demi kerugian diderita Perumka (Perusahaan Umum Kereta Api) Eksploitasi Sumatera Barat (ESB). Sejumlah ruas jalan kereta api terpaksa ditutup. Stasiun kusam, tidak terawat. Bengkel semrawut. Pemeliharaan dan perbaikan terabaikan. Sumber daya manusia nyaris terlupakan. Karyawan seperti lesu darah. Tidak ada semangat kerja, kebanggaan merosot. Tidak ada kreativitas, tidak ada inovasi.
Itulah sebagian gambaran keriduan Perumka Sumbar selama empat dasawarsa terakhir. "Sebagai gambaran, kerugian Perumka ESB tahun 1991 Rp 4 milyar, 1992 Rp 5 milyar dan tahun lalu Rp 4 milyar," kata Ir Arief Muzaini, Kepala Perumka ESB.
Sisi gelap itu, kini boleh disimpan di lemari arsip. Untuk jadi kenangan generasi sekarang dan cermin generasi kemudian. Pengalaman pahit yang saling tumpang tindih masa lalu, diharap tidak akan terulang lagi. Tahun 1994 ini, merupakan awal kebangkitan kembali perkeretaapian di Sumatera Barat.
Ir Arief Muzaini mengungkapkan kepada Kompas, medio November tahun ini Perumka ESB diperkirakan mencapai titik impas. Titik impas atau pulang pokok jika pendapatan mencapai Rp 10,25 milyar/tahun. Ia memprediksikan, mulai tahun depan, Perumka ESB mulai meraih keuntungan. Perhitungannya itu, seiring dengan meningkatnya angkutan batu bara dan semen sebagai sumber pendapatan utama serta angkutan minyak sawit (CPO-Crude Palm Oil). Juga tersedia angkutan batu kapur dari Padangpanjang.
Saat ini di sumbar tidak ada KA antarkota yang mengangkut penumpang manusia. Cuma ada angkutan wisata pada hari Minggu dengan rute Padang-Malibou Anai yang berjarak lebih kurang 70 kilometer, dan Padang-Pariaman sejauh 50 kilometer. Menurut Arief, angkutan ini dari segi komersial, tak berarti.
OPTIMISMENYA bukan tanpa alasan. Sampai Oktober 1994, batu bara Ombilin yang diangkut Perumka telah mencapai 800.000 ton. Sebagai perbandingan, tahun lalu hanya 440.000 ton dan tahun 1992 sebanyak 400.000 ton. Angkutan semen juga melonjak, hingga Oktober tahun ini mencapai 1,3 juta ton. Sementara tahun lalu hanya 1,6 juta ton, tahun 1992 sebanyak 1,2 juta ton dan hanya 1,1 juta ton tahun 1991.
Khusus untuk angkutan semen dari Indarung ke Telukbayur, Perumka mampu mengangkut sampai 3,6 juta ton/tahun. Lebih dari itu, sudah harus rel ganda antara Indarung - Telukbayur yang jaraknya 15 km. "Artinya, jika Indarung V dengan produksi 2,3 juta ton mulai dibangun, Perumka juga sudah harus siap-siap membangun jalur ganda," kata Arief.
Hingga saat ini baru sekitar 50 persen atau 70 ton per hari produksi CPO dari PTP VI yang diangkut kereta api dari Naras ke Telukbayur. Potensi angkutan CPO ini cukup besar, karena di Pasaman dan Agam, masih dibuka perkebunan kelapa sawit. Begitu pula dengan Kabupaten Sawahlunto Sijunjung yang bisa diangkut dengan kereta api dari Muarakalaban atau dari Sawahlunto.
Sampai akhir Repelita VI, areal perkebunan kelapa sawit di Sumbar diperkirakan mencapai 300.000 hektar. "Tidak akan ada masalah dalam hal angkutan CPO. Peningkatan permintaan angkutan CPO siap dilayani. Perumka ESB saat ini memiliki 24 gerbong (10 ton per gerbong) dan dalam waktu singkat bisa didatangkan tambahan dari Sumut," kata Arief.
Secara terbuka, ia mengungkapkan tarif angkutan CPO dari Naras ke Telukbayur (70 Km), Perumka hanya memungut Rp 5.000/ton. Sedangkan tarif angkutan batu bara dari Sawahlunto ke Telukbayur Rp 6.500/ton.
PELUANG Perumka ESB untuk meraih keuntungan memang terbuka lebar. Hal itu tidak terlepas dari bantuan Pemerintah Swiss untuk Proyek Rehabilitasi Rel Gigi Kereta Api dan Pusat Perawatan Locomotive senilai 138,90 juta frank Swiss. Proyek perkeretaapian di Sumbar itu dimulai pembangunannya akhir 1991. Bantuannya terdiri dari tujuh unit lokomotif bergigi senilai 38,43 juta frank Swiss.
Penyediaan suku cadang dan perbaikan sembilan unit lokomotif lebih dari 32,10 juta frank Swiss, penyediaan peralatan gigi rel kereta api sepanjang 39 km senilai 27,93 juta frank Swiss, perbaikan dan penambahan peralatan bengkel di Padang dan Padangpanjang 7,71 juta frank Swiss, bangunan dan perbaikan lainnya serta asuransi dan ongkos angkut peralatan sekitar 32 juta frank Swiss.
Dengan adanya proyek bantuan Swiss itu, kata Arief, saat ini Perumka ESB memiliki 16 lokomotif gigi dan 18 lokomotif biasa. Untuk angkutan batu bara, Perumka Sumbar memiliki 29 unit lokomotif dan 316 unit gerbong dengan kapasitas 25 ton per unit. Untuk angkutan semen tersedia enam unit lokomotif, 93 unit gerbong dengan kapasitas 30 ton per unit serta untuk CPO ada 23 unit gerbong dengan kapasitas 10 ton per unit.
Saat ini Perumka hanya mengangkut batu bara PT BA Ombilin sebesar 1 juta ton setahun. Sedangkan batu bara produksi perusahaan swasta PT Allied Indo Coal (AIC) sebesar 600.000 ton per tahun belum diangkut kereta api. "Tahun 1995, produksi PT AIC diperkirakan meningkat menjadi satu juta ton per tahun. Negosiasi angkutan batu bara swasta ini sedang dilakukan," kata Kepala Perumka ESB. Selama ini batu bara produksi AIC diangkut ke Telukbayur dengan truk dengan ongkos Rp 9.500/ton. Selain biayanya mahal, juga sering menimbulkan kecelakaan lalu lintas.
Ia mengungkapkan, sebuah perusahaan Thailand yang segera membuka tambang batu bara di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung, telah menawarkan kepada Perumka untuk angkutan batu bara. Tahun pertama, yang diperkirakan mulai 1996, perusahaan itu memproduksi sekitar 300.000 ton batu bara dan secara bertahap akan mencapai dua juta ton. (nasrul thahar)
Sumber: Berita Koran Kompas 1 Desember Tahun 1994
Tags: Kereta Api
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar