FB Anshari Taslim | Bagaimana tidak, lihatlah akun-akun seperti Avichay, Edy Cohen, Kapten Ela sang betina murtad. Mereka dengan penuh percaya diri tetap posting propaganda, meski 99 % isi komentar di akun mereka adalah mencaci maki mereka. Tapi mereka tidak peduli, mereka anggap semua angin lalu dan terus saja mempropagandakan kepentingan mereka.
Lihat pula bagaimana pemerintah Israel saat ini playing victim bahkan melaporkan Iran ke PBB karena telah menyerang perkampungan sipil. Sudah ribuan warga sipil Israel tewas dan ratusan ribu mengungsi, keadaan Israel saat ini benar-benar parah, mereka tak pernah menyangka itu terjadi pada mereka sejak kemenangan mereka di Youm Kippur mereka sudah yakin tak ada lagi ancaman bagi mereka di Kawasan Arab.
Pemerintah dengan percaya diri memperopgandakan mereka terzalimi, padahal mereka tahu dan sadar betul mereka telah melakukan hal yang sama di Gazza.
Itulah kegigihan para pembela kebatilan dalam membela kebatilannya.
Para pengaku Sunni padahal bukan bagaimana sikap mereka? Mereka juga gigih, saat Gazza diserang mereka gigih mempropagandakan kesesatan Hamas, bahkan memfitnah Hamas adalah Syiah dan buatan Yahudi. Tujuannya agar tidak ada yang bersimpati pada perjuangan itu dan harusnya kaum Sunni mengutuk segala bentuk perang kepada Israel. Tidak ada jihad yang Syar'i, lebih baik belajar Istinja` daripada mengetahui berita tentang Gaza. Salah satu dari mereka mengatakan kalian tidak akan ditanya tentang Gazza tapi kalian akan ditanya di alam barzakh kalau tidak bersih cebok.
Maka, para pembela kebenaran juga tak boleh lelah, padahal medan juangnya ringan, hanya jadi Keyboard Warrior tapi dampaknya tak akan disia-siakan oleh Allah (lihat ujung At-Taubah ayat 120).
------------
Tambahan di kolom komentar:
Caral Melawan Propaganda dan Fitnah Wahabi: Jangan Ikuti Permainan Mereka
Jika kita terus bermain di narasi mereka, mengejar setiap hoaks, Fitnah dan mengklarifikasi satu per satu kita akan selalu kalah. Karena mereka bisa memproduksi hoaks lebih cepat daripada kita meluruskannya.
Maka strateginya kita harus berubah:
Pertama, alihkan fokus ke hulu. Jangan hanya meluruskan hoaks, tetapi bongkar sumber pendanaannya. Tanyakan: siapa yang membiayai ustadz ini? Lembaga apa yang menaunginya? Dengan siapa mereka terafiliasi? Ketika publik tahu bahwa hoaks itu adalah produk dari kepentingan geopolitik negara asing, kredibilitasnya runtuh.
Kedua, bangun literasi kritis. Ajari masyarakat untuk tidak langsung percaya pada tuduhan Propaganda sektarian. Ajarkan tiga pertanyaan: apakah sumbernya utuh? apakah digeneralisir? siapa yang diuntungkan? Masyarakat yang kritis adalah benteng terkuat dalam melawan propaganda.
Ketiga, jangan habiskan energi untuk mereka. Kita tidak perlu menjawab setiap hoaks. Cukup buat dokumentasi sistematis (seperti 20 hoaks yang telah kita kumpulkan), lalu biarkan publik yang memverifikasi sendiri. Fokuskan energi pada isu-isu strategis: Palestina, keadilan sosial, pendidikan umat.
Kemenangan Perjuangan Kita Bukan Membungkam Mereka
Kita tidak akan pernah bisa membungkam propaganda. Selama ada dana dan kepentingan, hoaks akan terus diproduksi. Tapi kita bisa membuatnya tidak efektif.
Kemenangan sejati adalah ketika masyarakat tidak lagi mudah terpancing oleh narasi sektarian. Masyarakat sudah kritis. Ketika ada yang mengatakan "Syiah kafir", publik bertanya: "Siapa yang membiayaimu?" Ketika ada yang menyerang Iran, publik bertanya: "Apa hubungannya dengan Palestina?", "kamu lupa ya Saudi juga menyerang Yaman? ".
Kemenangan kita adalah ketika umat bersatu di atas kepentingan bersama, melawan penjajahan, melawan ketidakadilan, melawan kemiskinan dan tidak lagi sibuk saling mengkafirkan.
Mereka akan terus membuat hoaks. Tapi kita tidak perlu terus menjadi pemadam kebakaran. Kita bisa menjadi arsitek kesadaran yang membangun fondasi sehingga api propaganda tidak lagi mudah membakar.
Wallahu a'lam bish-shawab.
========
Komentar
Posting Komentar