FB Sejarah Maluku & Maluku Utara | Mahkota yang Terbuang: Luka Paling Dalam dari Ternate (Kisah Sultan Muhammad Djabir Syah ditodong Senjata TNI dan Diasingkan oleh Soekarno).

.............

Dituturkan oleh Yang Mulia Ou Hidayatullah Sjah saat menerima kunjungan silaturahmi konsulat Jenderal AS, Chris Green. Diplomat AS yang bertugas di Surabaya (22/4/26).

............

​Torang harus bicara jujur soal sejarah. Selama ini, buku sekolah cuma ajarkan soal proklamasi di Jakarta, tapi dorang tra pernah carita bagaimana air mata tumpah di Kadaton Ternate tahun 1950. Ini bukan sekadar cerita orang tua-tua, ini soal harga diri yang diinjak-injak.

​Waktu itu, Indonesia Timur masih badiri sebagai Republik Indonesia Timur (RIT), bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Sultan Muhammad Djabir Syah memasukkan Kesultanan Ternate ke dalam Negara Federal ini. Tapi ternyata Jakarta p mau lain. Soekarno datang ke Ternate, beliau rayu Sultan supaya gabung ke Indonesia (NKRI). Karena saat itu RIS diambang kehancuran, dan akan digantikan dengan NKRI.

Pasca penolakan Sultan atas permintaan Soekarno untuk bergabung dalam NKRI​, Malam itu di Hotel Jafar, sekarang kantor Kodim (depan Kadaton), Soekarno tunggu Sultan untuk makan malam. Tapi Sultan tra mau datang. Beliau utus Arnold Mononutu untuk kase pesan yang bikin Soekarno menyimpan dendam:

​"Sekali Federal, tetap Federal. Kalau tra pake sistem federal, kitorang tra akan bagabung!"

​Itu bukan suara sombong, itu suara pemimpin yang mo jaga dia p hak ulayat rakyatnya supaya tra ditarik semua ke Pusat.

​Tapi apa yang torang dapat? Sekitar bulan Maret atau April 1950, pasukan TNI dari Jawa datang ke Ternate, tepatnya ke kadaton. Dorang tra toki pintu bae-bae ba tabea, tapi dorang serbu maso ke dalam Kadaron Ternate, dong bikin interior kadaton ancor, ujungnya dorang todong senjata ke arah Sultan Muhammad Djabir Syah.

​Saat warga Ternate dengr kejadian ini, dorang langsung kepung Keraton. Samua so siap mati untuk kase selamat Sultan. Tapi Sultan Muhammad Djabir Syah ini dia p hati talalu besar. Beliau tra mau lihat rakyat Ternate mati konyol kana peluru.

​"Jang baku perang! Biar saya yang tanggung jawab," kata Sultan.

​Akhirnya Sultan dibawa lari ke Manado oleh TNI. Katanya ditaruh di rumah, nyatanya dorang kase tinggal di barak militer yang kotor. Mo pi buang air saja harus jalan kaki 20 meter. Sultan diperlakukan macam tawanan perang. Pas dorang dengar warga Ternate so naik kapal mau jemput Sultan di Manado, TNI langsung bawa lari Sultan ke Makassar.

​Di Makassar, Sultan diadili. Hakim tuduh Sultan mo bikin negara sandiri. Di situ Sultan marah besar, beliau tunjuk itu hakim p muka :

​"Kalian ini aneh! Ternate itu negara saya. Kalian paksa mau satukan dengan Indonesia, saya tidak mau. Kesalahan saya di mana, kalau saya tidak mau ?!"

​Sidang itu mentok. Dorang tra bisa buktikan Sultan salah. Akhirnya Sultan dibawa dan diasingkan ke Jakarta. Beliau bawa beliau p anak-anak termasuk anak tertua, Ibu Rini. Waktu itu Sultan Mudaffar Sjah masih kacil, baru umur 12 tahun, tapi kasian harus dapa lia beliau p orang tua dibuang dari tanah tumpah darah.

​Di Jakarta, nasib Sultan makin bikin sedih. Beliau luntang-lantung tra ada tempat tinggal yang layak. Untung ada Sultan p teman, Gibernur pertama Maluku, Johannes Latuharhary yg mau tampung Sultan deng anak-anak tinggal di beliau p garasi rumah. Bayangkan, seorang pemimpin basar dari Timur, akhirnya harus tinggal di garasi rumah Gubernur Latuharhary. Delapan anak Sultan tidur di situ.

​Pemerintah Belanda yang dengar sultan diperlakukan dibatavia dengan tra rasa hormat, langsung datang baku dapa deng sultan. Dorang tawarkan rumah untuk Sultan. Karena Pemerintah RI malu atas sikap Belanda kepada Sultan, barulah Pemerintah RI kase sultan rumah di Raden Saleh (Kantor DPP PKB sekarang). Dan Supaya Sultan terlihat "Republikan", Sultan dikase jabatan di Depdagri sebagai Pejabat Tinggi yang diperbantukan.

​Tapi Sultan Muhammad Djabir Syah punya prinsip tra bisa dibeli den jabatan. Selama karja, beliau tra pernah mau ambil gaji. Satu rupiah pun tra masuk di tenggorokan. Untuk kase makan anak-anak, Sultan jual beliau p tanah di Halmahera untuk modal berdagang. Beliau tra mau makan uang dari negara yang so kase malu beliau dan Kesultanan Ternate p harga diri.

Karena anak-anak Sultan banyak yang putus sekolah akibat pengasingan ini, Pemerintah Belanda kembali hadir dengan tawaran beasiswa. Salah satu putra Sultan, Om Tahir (yang kelak bekerja di PT Antam), dikirim kuliah ke Belanda dan menjadi sarjana Pertambangan pertama di Indonesia.

​Saat Sultan mau pensiun dari Depdagri, beliau kumpul beliau p anak-anak, dan berpesan : "Jangan pernah ada yang sentuh saya punya uang pensiun. Jangan makan itu uang!"

​Tahun 1952, rakyat Ternate sebenarnya so kumpul hasil kopra, hasil kopra ini untuk kirim utusan ke Jakarta agar minta Soekarno kase lepas Sultan. Tapi Soekarno tetap keras kepala. Sultan cuma dikase waktu 3 hari saja untuk lihat Ternate, Sula, dan Halmahera, habis itu harus balik ke Jakarta


Tidak ada komentar:

Posting Komentar