Langsung ke konten utama

Riwayat Singkat Angku Yus Dt. Parpatiah



Ig @rumahkayupustaka | Yusbir “Yus” Datuak Parpatiah (7 April 1939 – 28 Maret 2026) adalah budayawan Minangkabau. Ia terkenal dalam upaya pelestarian budaya Minangkabau lewat karyanya dalam bentuk kaset pada dekade 80-an hingga 90-an. Saat ini, ia mengedarkan rekamannya dalam format video yang tersedia dalam bentuk VCD. Yus Datuak Parpatiah terlahir dengan nama Yusbir dari pasangan Abdul Jalil dan Syafiyah di Nagari Sungai Batang, Agam, Sumatera Barat. 

-------

Hari patang mantari turun, awan di barat merah sago, malam nan indak lamo lai.

O... nak kanduang sibirang tulang,
buah hati limpo bakuruang,
ubek jariah palarai damam,
sidingin tampa di kapalo.
Kamari-mari molah duduak,
ado rundiang ayah Sampaikan.
Yusbir "Yus" Datuak Parpatiah (7 April 1939 – 28 Maret 2026) adalah budayawan Minangkabau. Beliau terkenal dalam upaya pelestarian adat Minangkabau lewat karyanya dalam bentuk kaset rekaman pada dekade 80-an hingga 90-an. Saat ini, beliau mengedarkan rekamannya dalam format video yang tersedia dalam bentuk VCD. Angku Yus Datuak Parpatiah terlahir dengan nama Yusbir dari pasangan Abdul Jalil dan Syafiyah di Nagari Sungai Batang, Agam, Sumatera Barat.
Latar belakang
Masa kecil beliau dihabiskan di kampung halaman, dengan menamatkan SD pada 1955 dan SMP pada 1958. Beliau melanjutkan pendidikan SMA di Tanjung Balai Asahan, dan tamat pada 1961. Angku Yus merantau ke berbagai daerah, hingga akhirnya sampai di Jakarta pada 1976.
Beliau menjadi panungkek (wakil pemimpin)[1] dengan gelar Datuak Rajo Mangkuto mulai tahun 1965. Setelah menikah, beliau diangkat menjadi pangulu (pemimpin suku) suku Caniago dengan gelar Datuak Parpatiah pada tahun 1970.
KARIER
Angku Yusbir Dt. Parpatiah menulis drama awalnya hanya untuk mengisi waktu luang. Beliau mengajak karyawan konveksi miliknya untuk berlatih drama bersama. Para karyawan inilah yang nanti menjadi cikal bakal kelompok seni Grup Balerong yang dipimpinnya hingga saat ini. Kenalan Angku Yus asal Jambi, Haji Jhon, mengajak untuk merekam drama miliknya. Di saat itu, dunia rekaman di Sumatera Barat memang hidup meski banyak diisi pop Minang. Globe Record di Jakarta menjadi dapur rekaman pertama yang merekam drama miliknya dengan bayaran sebesar Rp1 juta pada Januari 1980. Awal 2000-an, beliau lebih banyak merekam monolog. Rekamannya membahas berbagai masalah dan solusi dari ketentuan adat. Bahasa sederhana yang dipergunakan tetapi sarat makna disukai banyak orang di Sumatera Barat.
KARYA-KARYANYA
Karya-karya dari Angku Yus Datuak Parpatiah antara lain, "Di Simpang Duo", "Maniti Buiah" dan "Kasiah Tak Sampai" yang berbentuk drama. "Rapek Mancik" dan "Bakaruak Arang" yang merupakan karya komedi. "Pitaruah Ayah", "Baringin Bonsai", "Diskusi Adat", "Panitahan Baralek", "Kepribadian Minang" serta "Pitaruah Pangulu" yang berbentuk petuah adat dan juga dua film yang diproduksi TVRI. Mulai 1980 hingga dekade 90-an, karya-karya tersebut beredar dalam bentuk kaset. Puluhan hingga ratusan ribu kaset tiap karya Yus Datuak Parpatiah menyebar ke berbagai pelosok Ranah Minang. Selain itu juga ke komunitas orang Minang di seluruh Indonesia dan berbagai negara.
WAFAT
Angku Yus Datuak Parpatiah meninggal dunia di Nagari Sungai Batang, Agam, Sumatera Barat pada 28 Maret 2026 pukul 16.30 WIB. Beberapa hari sebelum wafat, beliau sempat dibawa ke rumah sakit Yarsi Bukittinggi untuk mendapatkan perawatan atas penyakit yang dideritanya, setelah itu beliau dibawa pulang ke kediamannya.
Angku Yus Dt Parpatiah
Maestro Adat Bagi Orang Minang
7 April 1939 – 28 Maret 2026
=======
Catatan kaki oleh Admin:
[1] Terdapat tiga tingkatan penghulu; Pucuak, Bungka, dan Panungkek (Tungkek), Secara harfiah Panungkek dapat diartikan sebagai wakil. Adapun Pucuak atau Bungka sama-sama merupakan pengetua dan masing-masing mereka dapat memiliki Panungkek. Hanya sahaja posisi Pucuak lebih tinggi daripada Bungka.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...