Langsung ke konten utama

Jawapan Ustad Adi Hidayat Soal Rendang Punya Agama

 


KLIKPOSITIF  Ustaz Adi Hidayat atau UAH menjawab pertanyaan tentang rendang padang dan Minangkabau, terkait polemik yang muncul dalam beberapa waktu terakhir.

UAH memberi jawaban atas pertanyaan terkait sejak kapan rendang punya agama?.

Terkait pertanyaan itu, Ustaz Adi Hidayat menyebut agar tak mengecilkan tradisi yang sudah lama melekat di masyarakat.

Termasuk makanan rendang yang merupakan produk makanan masyarakat Sumatera Barat atau minangkabau.

UAH menjelaskan tradisi masakan rendang halal di Minangkabau dengan tradisi dan budaya lain seperti angklung, calung, dan batik.

Penjelasan tersebut terdapat dalam kajian UAH tentang Al-Quran Sunnah Solution (AQSO): Lanjutan Serial Tafsir Surah Al-Baqarah, pada menit 1.53.00.

UAH memulai dengan pernyataan jangan pernah mengecilkan siapapun, apalagi kalau sudah menjadi tradisi.

“Ada pertanyaan sejak kapan rendang itu punya agama, apa jawabannya? Sejak batik, calung, angklung punya kewarganegaraan,” jawab Ustaz Adi Hidayat, melansir kanal Youtube Adi Hidayat Official, Sabtu, 19 Juni 2022.

UAH menganalogikan jika tradisi dan budaya seperti batik, angklung, dan lain-lain diklaim negara lain, maka orang Indonesia akan menolak hal tersebut.

Pentanyaannya sama sejak kapan batik punya kewarganegaraan? Kan sama saja. Artinya itu adalah pertanyaan tidak berfaedah karena itu sudah menjadi bagian dari budaya yang melekat,” ujarnya.

Rendang itu produk masyarakat Minang, budaya Minang, falsafahnya berbunyi ‘adat bersanding syarah, syarah bersanding kitabullah‘”

Karena itu setiap yang keluar dari Minang lekat dengan syariat, walaupun, produk makanan,” ujar Ustaz Adi Hidayat.

UAH menambahkan, jadi jangan tanyakan agamanya, kalau pertanyakan agama kepada makanan itu pertanyaan kurang kerjaan.

Penggalan video jawaban UAH tersebut juga telah diunggah ulang oleh akun media sosial instagram Ikatan Keluarga Minang (IKM) @dpp_ikm

Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansyarullah juga pernah menanggapi hebohnya penjualan rendang babi Padang.

Mahyeldi menegaskan apapun masakan yang mengatas namakan Padang atau Minangkabau itu harus halal.

“Kalau ada yang membuat nama-nama masakan dengan embel-embel kata Padang namun tidak halal itu kurang positif untuk masyarakat Padang,” kata Mahyeldi, Kamis (10/6/2022).

Hal tersebut karena Minangkabau menganut filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ASBK).

Menurut gubernur, setiap masakan yang ada embel-embel Padang-nya, harusnya halal.

=======================

Baca juga:

  1. Galapua Rang Minang
  2. Provokasi SEPILIS
  3. Rendang Babi, Pesan untuk yang asal bicara
  4. Jawapan Ustad Adi Hidayat Soal Rendang Punya Agama
  5. Nasi Padang memanglah Tak Punya Agama
  6. Citra Halal Nasi Padang
  7. Rendang, Kelezatan, & Kehalalan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...