Langsung ke konten utama

Provokasi Sepilis

gambar: hidayatullah

Keras! Buya Dr. Gusrizal: Menu Babi Diidentikkan Masakan Padang adalah Penghinaan terhadap Budaya Minangkabau


MINANGKABAUNEWS.COM, PADANG — Heboh Menu itu berasal dari Restoran Babiambo Nasi Padang Babi yang berada di Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara.

Bahkan dalam keterangan di akun instagram Babiambo, mereka yang pertama di Indonesia, menjual masakan Padang non halal. Menyikapi itu, Ketum MUI Sumbar Buya Dr. Gusizal Gazahar Dt. Palimo Basa sontak geram.

“Kita bukannya ingin berbicara secara tajam tentang mayoritas dan minoritas tapi rasa saling menghargai dan memahami antar kelompok masyarakat itulah yang sudah semakin tipis,” kata Ketum MUI Sumbar Buya Dr. Gusizal Gazahar Dt. Palimo Basa, Jumat, (10/6/2022).

“Kalau cara seperti itu dipakai sebagai promo gratis suatu produk dagang, alangkah naifnya kebersamaan yang katanya dibangun dengan rasa toleransi. Apakah memang dalam zaman yang mereka sebut sebagai era demokrasi ini, nilai-nilai dan kebanggaan yang menjadi simbol suatu kaum, tidak mendapatkan ranah penghormatan lagi?,” kata Buya Dr. Gusrizal

“Apakah demokrasi yang sedang dijalankan saat ini adalah demokrasi nihil dari rasa menghargai sesuatu yang bersifat keyakinan, kehormatan, identitas kebanggaan perkauman dan semisalnya ?”.

“Kalau itu yang sedang dijalani saat ini, berarti kita sedang menuju putusnya ikatan kebersamaan dalam suatu bangsa. Hendaklah seluruh tokoh yang merasa sebagai tokoh bangsa menyadari bahaya tersebut ! ” imbuh Buya

“Kalau tidak, saya berharap kepada seluruh pihak agar kembali kepada sikap saling menghargai dan menjaga yang telah terjalin dengan baik selama ini.

Penggunaan istilah Minangkabau seperti rendang yang tidak pada tempatnya padahal selama inj sudah sangat popular/termasyhur melekat kepada masyarakat Minangkabau yang di luar wilayah Sumatera Barat sering diidentikkan dengan ‘Padang”, merupakan tindakan provokatif dan merusak tatanan kebersamaan dalam berbangsa. Melekatkan dan menyandingkan suatu yang khas Minangkabau dengan sesuatu yang bertolak belakang dengan nilai-nilai philosopisnya, merupakan penghinaan terhadap nilai sosial, budaya dan bagi ulama Minangkabau merupakan suatu perusakan terhadap capaian dakwah.

Secara ekonomi, kata Buya, jelas sekali ini merupakan cara-cara ekonomi tak bermoral yang jauh dari ekonomi Pancasila.

“Jadi saya ingin pihak terkait yang menyandingkan rendang yang merupakan masakan asli Minangkabau dengan unsur yang diharamkan dalam keyakinan masyarakat Minangkabau agar menyadari kekeliruannya.dan berhenti sebelum masalahnya melebar kemana-mana !

Kepada pemerintah dari berbagai tingkatan Buya Dr. Gusrizal mengharapkan agar bergerak untuk memastikan cara seperti itu tidak berlanjut dan tidak terulang lagi. “Jangan sampai keabsenan pemerintah dalam masalah ini, memicu masyarakat untuk mengekspresikan ketersinggungan mereka dengan cara yang beresiko menimbulkan ketidakharmonisan hubungan antara sesama. Wallâhu a’lam,” tutup Buya Dr. Gusrizal.

====================

Baca juga:

  1. Galapua Rang Minang
  2. Provokasi SEPILIS
  3. Rendang Babi, Pesan untuk yang asal bicara
  4. Jawapan Ustad Adi Hidayat Soal Rendang Punya Agama
  5. Nasi Padang memanglah Tak Punya Agama
  6. Citra Halal Nasi Padang
  7. Rendang, Kelezatan, & Kehalalan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...