Langsung ke konten utama

ORANG PETALANGAN DALAM KERAJAAN PELALAWAN


 Disalin dari kiriman FB A'AL

Pada masa Kerajaan Pelalawan, pebatinan Kurang Oso Tigo Puluah menerima pengakuan formal dari pemerintah, dan mendapatkan hak memiliki serta hak menggunakan 29 kawasan teritorial yang berbasis suku, Utan-tana Pebatinan Kurang Oso Tigo Puluh (Hutan-tanah Pebatinan Kurang Satu Tiga Puluh). Masing-masing wilayah diperintah oleh seorang batin (pemimpin adat), dan disebut ‘kawasan budaya’ atau ‘wilayah hutan tanah’. Hutan-tanah itu tersebar di empat wilayah kedatuan kerajaan yaitu:
1. Kedatuan Datuk Laksamana Mangku Diraja, berpusat di Pangkalan Kuras yang berpusat di Sorek Satu.
2. Kedatuan Datuk Engku Raja Lela Putera, berpusat di Langgam.
3. Kedatuan Datuk Kampar Sama Diraja, berpusat di Pangkalan Bunut.
4. Kedatuan Bandar Setia Diraja berpusat di Teluk.
Keempat kedatuan, kecuali Datuk Engku Raja Lela Putera (mantan penguasa Pelalawan-Johor terakhir), adalah para bangsawan Pelalawan. Masing-masing mereka adalah kepala dalam setiap wilayah Kedatuan, yaitu kedudukan politik di bawah kesultanan Pelalawan. Setiap datuk membawahi beberapa batin yang menjadi penguasa suatu hutan tanah ulayat. Kerajaan tidak berhubungan langsung dengan rakyat Petalangan, melainkan melalui batin-batin yang dibantu oleh ketiapan-ketiapan.
Ketika Indonesia merdeka pada tahun 1945, Sultan Pelalawan terakhir mengundurkan diri secara formal dan menyatakan kesultanannya berada di bawah pemerintahan Republik Indonesia. Pebatinan (wilayah berbasis suku) terpecah menjadi unit administratif desa. Batin digantikan oleh kepala desa yang ditunjuk oleh pemerintah.
Menurut tradisi lisan, asal-usul Orang Petalangan dari Johor yang datang menggunakan perahu, dan membuka hutan di pemukiman mereka sekarang ini. Mereka kemudian menjadi anak negeri Kerajaan Kampar. Di bawah pemerintahan Kesultanan Pelalawan mereka mendapat pengakuan hak atas wilayah hutan mereka (Hutan Tanah Perbatinan Kurang Satu Tiga Puluh) atau 29 pebatinan, yang
dipimpin oleh batin.
Pelalawan dan Orang Petalangan pernah berada di bawah berbagai kekuasaan politik besar, mulai dari kekuasaan kerajaan Pagaruyung (terutama di zaman pemerintahan Adityawaran 1347-1476), kerajaan Melaka (di zaman Sultan Mansyursyah 1456-1477), kerajaan Johor (kelanjutan dari Melaka sejak sekitar 1511), kerajaan Pelalawan (1789-1946), dan terakhir sekali diserahkan kepada Republik Indonesia pada tahun 1946.
Wilayah yang didiami Orang Petalangan berada di bagian selatan Sungai Kampar dari Langgam di barat sampai ke Teluk Meranti di timur. Dalam salah satu cerita rakyat disebutkan bahwa wilayah Petalangan sampai ke Dayun di utara Siak dikenal dengan sebutan wilayah pebatinan Kurang Oso Tigo Puluh (Pebatinan 29). Wilayah Petalangan, adalah salah satu ke-Andiko-an dibawah Andiko Nan 44 yang berpusat di Muara Takus dan Mahat, di bawah naungan Pagarruyung, Minangkabau.
Nenek moyang Pebatinan Kurang Oso Tigo Puluoh datang dari tiga wilayah dan terdiri dari tiga gelombang. Gelombang pertama datang dari Johor. Ada empat orang, yaitu Nek Ikal Bone Ikal, Nek Saripado Pandak Tangan, Nek Ayo Panjang Gigi dan Nek Demang Serail. Keempat mereka disebut nenek datang dari laut dan datang dari Johor. Gelombang dua terdiri dari Nek Bauk, Nek Mambang Kuning, Nek Kucing Congok Cincilak Padang (Nek Sompu Gaga) dan Nek Biya Basusu Tunggal. Keempat mereka disebut nenek dari darat dan datang dari Gunung Ledang.
Gelombang ketiga terdiri dari Batin Muncak Rantau tinggalnya di Hulu Sungai Sai Nilo, Pateh Jambuano tinggalnya antara Delik dan Dayun dan Rajo Bilang Bungsu tinggalnya dalam Segati Tambak. Mereka bertiga disebut nenek yang bertiga datang dari Gunung Hijau, Pagaruyung Minangkabau.
Orang Petalangan terbagi dalam suku-suku (matrilineal lineage group), yaitu Sengerih, Lubuk, Pelabi, Medang, Piliang, Melayu, Penyabungan, dan Pitopang (menurut tombo Petalangan, Suku Penyabungan, Suku Pitopang, dan Suku Piliang diyakini berasal dari Minangkabau di Sumatera Barat).
Pebatinan di Pelalawan:
1. Batin Tambak (Datuk Rajo Bilang Bungsu)
2. Batin Mudo Langkan
3. Batin Mudo Penarikan
4. Batin Sotul
5. Batin Pelabi
6. Batin Badaguh
7. Penghulu Besar Langgam
8. Batin Rantau Baru
9. Batin Kerinci
10. Batin Lalang
11. Antan-Antan
1. Batin Dayun ( Datuk Patih Jambuano)
2. Batin Delik
3. Batin Telayap
4. Penghulu Sungai Buluh
5. Batin Bunut
6. Batin Payung
7. Penghulu Biduando
1. Batin Batang Nilo (Datuk Monti Raja)
2. Batin Muncak Rantau
3. Batin Hitam Sungai Medang
4. Batin Putih Air Hitam
5. Batin Tuo Napu
1. Batin Panduk
2. Batin Air Suluh di Laut
3. Teluk Meranti
4. Batin Tanah Air Kerumutan
Sumber: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia
Sumber rincian pebatinan: Dt. Rajo Bilang Bungsu


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...