Langsung ke konten utama

AL BATTANI, ILMUAN DI BALIK KETENTUAN JUMLAH HARI DALAM SETAHUN

 


Disalin dari FB Melawan Lupa

Ia adalah seorang ilmuwan yang berjasa menemukan hitungan jumlah hari dalam setahun. Al-Battani dijuluki dengan sebutan Albategnius oleh orang Eropa. Ia lahir di kota Battan pada tahun 858 M. Al-Battani dikenal sebagai ahli astronomi dan matematika terbesar di dunia pada abad pertengahan.
Semasa hidupnya, Al-Battani pernah tinggal di kota Anthakiyyah. Kota tersebut terletak di utara Suriah. Di kota itu, Al-Battani membuat sebuah teropong bintang yang dikenal dengan "Teropong Al-Battani". Teropong inilah yang membantu ia melakukan pengamatan terhadap benda-benda langit.
Melansir dalam buku "12 Ilmuwan Muslim yang Terkenal di Dunia" oleh Izzah Annisa, Al-Battani telah menghasilkan banyak penemuan di bidang astronomi, yang terbukti lebih tepat dibandingkan dengan penemuan Claudius Ptolemaeus.
Bahkan pengamatan Al-Battani yang dijadikan rujukan oleh para ilmuwan Barat adalah mengenai terjadinya gerhana bulan dan matahari. Para ilmuwan Barat menggunakan penemuannya tersebut untuk menghitung kecepatan bulan ketika bergerak.
Penemuan-penemuan Al-Battani di bidang astronomi tentunya sangat bermanfaat bagi manusia. Salah satu di antaranya adalah sebagai acuan untuk membuat kalender, menentukan kapan terjadinya perubahan musim, pergantian bulan dan sebagainya.
Kecerdasan Al-Battani tak lain adalah belajar dari sang ayah, Jabir Ibnu Sin'an. Dalam "Sains dan Penemuan yang mengubah Dunia" oleh Abu Nuha Hanifah, Al-Battani menghitung jumlah hari dalam satu tahun berdasarkan perhitungan waktu yang digunakan bumi untuk mengitari matahari.
Dari penelitiannya tersebut, ia memperoleh angka 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Hasil perhitungan Al-Battani tersebut mendekati perhitungan menggunakan perangkat canggih yang digunakan oleh ilmuwan abad ini.
Selain sebagai ilmuwan, Al-Battani juga seorang ahli matematika antara lain menemukan rumus-rumus persamaan trigonometri, cara mengetahui titik pada garis bengkok dengan tabel matematika serta melakukan perbaikan-perbaikan dalam ilmu aljabar.
Al-Battani sangat aktif menuliskan pemikirannya, teori-teorinya dan pengalamannya selama mengamati bintang-bintang ke dalam buku atau kitab. Az-Zaij Ash-Shabi yang ditulisnya pada 1900 M jadi karyanya yang paling terkenal. Dalam buku tersebut, Al-Battani menjelaskan tentang alasan mengapa ia tertarik mempelajari dan mendalami ilmu astronomi.
"Ilmu yang paling mulia kedudukannya adalah ilmu perbintangan. Sebab, dengan ilmu itu dapat diketahui lama bulan dan tahun, waktu, musim, pertambahan dan pengurangan siang dan malam, letak matahari dan bulan, gerhana, serta jalannya planet ketika berangkat dan kembali." (Al-Battani).

=====================

Baca juga:

  1. Al Battani, Astronom muslim penentu jumlah hari dalam setahun


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...