Langsung ke konten utama

Perantau "Malin Kundang"

Ilustrasi Gambar: Popmama

Disalin dari kiriman FB Feris Mediansa Putra

Sanak termasuk yang manakah??

Perantau Durhaka

Saat ini di media sosial marak carut-marut perantau yang terjebak macet di kampung halaman saat mudik Lebaran. Ada yang memaki-maki, menyalahkan orang kampungnya seperti kena'pa jalan tol tak jadi-jadi dan kenapa infrastruktur di kampung sangat buruk sekali eh, dua kali malah orang di kampung dituding egois karena enggan melepas tanahnya untuk dibuatkan jalan.
Mendengar carut-marut perantau ini, hamba jadi teringat kisah Malin Kundang. Laki-laki miskin yang ingin mengubah nasib di parantauan. Dia maminta doa restu kapada sang ibu. Dengan doa restu sang ibu, Malin sukses di rantau. Dia menjadi saudagar kaya raya.
Tibalah Malin Kundang pulang dari rantau. Di kampuang, ibunya yang miskin manyambut dengan suka cita. Tapi marasa manjadi orang
hebat
, Malin tak mangakui si perempuan miskin itu sabagai ibu kandungnya. Anak durhaka. Malin Kundang dikutuk ibunya menjadi batu.
Perantau yang mengomel kerana tarhambat macet di kampuang halaman yang manyalah-nyalahkan orang kampuangnya, malah.
Hati-hati.
[Para perantau Minang kini] hampir mirip pula dengan Malin Kundang. Jangan sampai nanti dikutuk manjadi parantau durhaka bisa batambah banyak sahaja nanti batu di Pantai Air Manis itu.

Tapi tentu ada sahaja labiah banyak parantau yang baiak budi. Mereka yang tak hanya berbondong-bondong, manyalah-nyalahkan. Tahu jalan di kampuangnya buruk, belum diaspal, mereka sektika mambuek jalan. Mambangun Masjid, surau, menyekolahkan anak-anak di kampungnya atau membuatkan madrasah, Pondok Pesantren serta mambuat Lubuk Larangan.
Perantau berbudi tak pernah mengomel kapada orang-orang kampuangnya. Memang ada jenis parantau 'Malin Kundang'. Bukan sahaja mereka ini terjebak macet di kampuang halamannya.
Munkin banyak pula yang sarupa di negeri lain selain Minangkabau ini?
Ada orang rantau yang mangaku berkampung halaman di Ranah Minang tapi kerjaannya di rantau adalah mamburuk-burukkan nagarinya, Minangkabau. Seperti ada yang tampak seseorang tokoh yang mangaku katurunan Minang tapi manyebut Sumatera Barat ini sabagai provinsi tidak Pancasilais. Ada pula parantau yang kaya raya di rantau. Ketika orang kampungnya berkunjung, si orang rantau kemudian pura-pura menjadi miskin. Begitulah perantau durhaka itu.

Merantau menjadi pola hidup orang Minang. Hanya saja, orientasi merantau itu kini telah banyak berubah. Hal itulah yang menyebabkan munculnya perantau durhaka. Perantau durhaka ini tidak saja durhaka kepada kampung halamannya, tapi juga durhaka kepada tanah rantaunya. Di mana bumi dipijak, di sana mereka selalu membuat masalah. Dalam sekeranjang mentimun, selalu ada sebuah-dua yang bungkuk. Di atas sepohon mangga, pasti ada sebuah agak dua yang timbuluk. Harus ada yang seperti Hanafi agar Salah Asuhan menjadi [kenyataan]

Kiriman Asli:

 Sanak masuak nan ma ko??

'Perantau Durhaka'
Saat ini di media sosial marak carut-marut perantau yang terjebak macet di kampung halaman saat mudik Lebaran. Ada yang memaki-maki, menyalahkan orang kampungnya seperti kena'pa jalan tol tak jadi-jadi dan kena'pa infra struktur di kampung sangat buruk sekali eh, dua kali malah orang di kampung dituding egois karena enggan melepas tanahnya untuk dibuatkan jalan.
Mendengar carut-marut perantau ini, hamba jadi takana kisah Malin Kundang. Laki-laki bangsaik nan ingin maubah nasib di parantauan. Inyo mamintak doa restu kapado sang ibu. Dengan doa restu sang ibu, Malin sukses di rantau. Inyo jadi saudagar kayo rayo.
Tibolah Malin Kundang pulang dari rantau. Di kampuang, ibunyo yang miskin manyambuik dengan suka cinto tapi, marasa manjadi orang
hebat
, Malin tak mangakui si perempuan miskin ko sabagai ibu kanduangnyo. Anak durhako. Malin Kundang dikutuak ibunyo menjadi batu.
Perantau yang manggarutu karano tahambek macet di kampuang halaman yang manyalah-nyalahkan orang kampuangnyo, malah.
Hati-hati.
Kito hampie mirip lo Malin Kundang. Jan sampai nanti dikutuak manjadi parantau durhako bisa batambah banyak sajo beko batu di Pantai Aie Manis tuh_
_tapi Tantu ado sajo labiah banyak parantau yang baiak budi. Mereka yang tak hanyo manggaduru dan manggaduru, manyalah-nyalahkan. Tahu jalan di kampuangnyo buruak alum ba aspal, mereka badoncek mambuek jalan. Mambangun Masajik, Surau, manyakolahkan anak-anak di kampuangnyo atau mambuekkan Madrasah, Pondok Pesantren sarato mambuek lubuak larangan.
Perantau berbudi tak pernah manggarutu kapadao orang-orang kampuangnyo.
Memang ado tipe parantau Malin Kundang. Bukan sajo mereka ko tajebak macet di kampuang halamannyo.
Munkin banyak lo yang sarupa di salain nagari Minang ko.
Ado orang rantau yang mangaku bakampung halaman di Ranah Minang tapi karajoannyo di rantau adolah mamburuak-buruakkan nagarinyo, Minangkabau. Takah ado nan nampak seseorang tokoh yang mangaku katurunan Minang tapi manyabuik Sumatera Barat ko sabagai provinsi indak Pancasilais. Ado lo parantau yang kaya rayo di rantau. Ketika orang kampungnya berkunjung, si orang rantau kemudian pura-pura menjadi miskin. Begitulah perantau durhaka itu.
Merantau menjadi pola hidup orang Minang. Hanya saja, orientasi merantau itu kini telah banyak berubah. Hal itulah yang menyebabkan munculnya perantau durhaka. Perantau durhaka ini tidak saja durhaka kepada kampung halamannya, tapi juga durhaka kepada tanah rantaunya. Di mana bumi dipijak, di sana mereka selalu membuat cikaraw. Dalam sekeranjang mentimun, selalu ada sebuah-dua yang bungkuk. Di atas sepohon mangga, pasti ada sebuah agak dua yang timbuluk. Harus ada yang seperti Hanafi agar Salah Asuhan menjadi


Baca Juga:

Lebaran di Sumbar: Andai Dahulu Jalur Kereta Tak Ditutup - Singgalang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...