Langsung ke konten utama

Rangkayo Hitam

 

🚩
RANGKAYO HITAM,
Pahlawan terkenal dari Kerajaan Jambi.

Lirik lagu 'Rangkayo Hitam'. (Lagu Jambi).
Ciptaan : Firdaus Khatab
Rangkayo Hitam gagah perkaso
Namonyo agung dimano-mano
Sampai Mataram orang ngenali
Usahkan Pulo di Batanghari
Ayah bernamo Datuk Berhalo
Turunan Turki asal bagindo
Putri Pinang Masak namo ibunyo
Dari Pagaruyung pulo ibunyo
Reff:
Sutooo....
Rangkayo Hitam agung dimano-mano
Keris Siginjai senjato yang utamo
Rangkayo Pingai dulur yang tuo
Yang bijaksano mimpin negeri
Kedataran namo dulur yang mudo
Hulubalang Sebo dio dikenali
Mayang Mengurai istri setio
Anak Tumenggung Merah Mato
Meriam Sijimat penjelmaannyo
Egung Sitimang pulo ibunyo
------
Disalin dari kiriman FB Sutan Bandaro Sati

Ikke nurjanah artis dangdut Indonesia yang membawakan lagu ini berkata bahwa Lagu Rangkayo Hitam ini adalah salah satu lagu magis dan sakral yang pernah dibawakannya. Beliau berkata begitu mungkin karena merasakan sesuatu yang mistik saat menyanyikannya. Mungkin bulu kuduknya merinding saat menyanyikan lagu itu.
Rangkayo Hitam adalah seorang pahlawan Negeri Jambi, ceritanya melegenda hingga sekarang. Kalau kita simak dari setiap bait lagu ini.. Menjelaskan tentang sisi silsilah keluarga Rangkayo Hitam.
Rangkayo Hitam itu sendiri merupakan anak dari Datuk Paduko Berhalo dan Puti Salaro Pinang Masak yang merupakan pemimpin Jambi pada masanya. Mereka berdua awalnya bertemu di Pulau Berhala saat Puti Salaro Pinang Masak memimpin pasukannya menjelajahi berbagai wilayah guna membuka negeri baru. Setelah mereka berdua menikah lalu bersama-sama memudiki Sungai Batanghari dan membuka negeri baru yang mereka beri nama JAMBI.
Datuk Paduko Berhalo adalah pedagang pengembara dan pendakwah Islam asal Turki yang berlabuh dan menetap di pulau Berhala. Puti Salaro Pinang Masak adalah seorang panglima perang, cucu perempuan dari Maharaja Adityawarman dari Kerajaan Pagaruyung.[1]
Anak kedua dari Ananggawarman (Rajo Baramah Sanggowano / Rajo Dewang Baramah Sanggowano / Raja Mauliwarmadewa) dengan isterinya Puti Reno Dewi Jalito.
Bersaudara kandung dengan Puti Reno Bungsu Silinduang Bulan dan Puti Panjang Rambut I.
Di istana Pagaruyung, Puti Salaro Pinang Masak dikenal sebagai putri bangsawan pembuat onar, mewarisi kesaktian kakeknya Maharaja Adityawarman, sehingga membuat beliau menjadi seorang putri bangsawan Pagaruyung yang berwatak keras, cenderung ganas seperti Maharaja Adityawarman, gemar berperang dan gemar menjelajah bersama pasukannya ke berbagai negeri.
Sifat, watak keras, ganas, dan suka berperang dari Puti Salaro Pinang Masak inilah yang kelak diwarisi oleh putra keduanya yakni Rangkayo Hitam.
Sementara Rangkayo Pingai lebih mewarisi watak kalem, suka mengalah dan penyabar dari Datuk Paduko Berhalo yang suka mengaji Alqur'an dan berdakwah.

================

Catatan kaki oleh admin:

[1] Tidak disebutkan siapa ayah bunda dari Puti Selaro Pinang Masak atau biasa dipanggil dengan Puti Pinang Masak. Hikayat hanya menyebutkan bahwa beliau berasal dari Pagaruyuang, hanya itu. Adapun perihal Adityawarman tidak terdapat dalam sumber asli Minangkabau, nama ini dimunculkan oleh 'Para Ahli' dan 'dipaksakan' untuk diterima oleh orang Minangkabau.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...