Langsung ke konten utama

BANGSA 'KARO'

 

Gambar Ilustrasi: RMOL Sumut

Disalin dari kiriman FB Muhammad Idrus al Langkati

Bangsa Karo hidup dan berkembang di alam Provinsi Sumatera Utara, dan merupakan rumpun Batak diantaranya, Batak Toba, Batak Simalungun, Batak Mandailing, dan lain lain.
Mengapa saya katakan 'bangsa' terhadap Karo, sebab, apa yang syaratkan oleh PBB akan syarat suatu negara, semua ada pada Bangsa Karo, bahkan apa yang disyaratkan PBB sudah ketinggalan zaman, dan lebih dulu dimiliki oleh bangsa-bangsa yang ada di Sumatera, kenapa tiba-tiba dianggap kaum/suku"
1. Ada Rajanya.
2. Ada Rakyatnya.
3. Ada Wilayah takluk jajahannya, bahkan ketika Kerajaan Aru dipuncak Kejayaannya malah wilayahnya sepanjang Tamiang, Langkat, hingga Sungai Rokan Riau.
4. Ada Hukum Adatnya, sekarang disebutlah Undang undang Dasar Negara.
5. Ada Bahasa tersendiri, Seni, Adat, dan Budaya.
6. Bahkan salah seorang Putri Raja Karo, ada yang berkawin dengan Sultan Malaka. Kalau sekarang diistilahkan Pengakuan Negara Asing, kalau dulu ditandai dengan Perkawinan antar diraja/perkawinan Gahara, namanya.
Agama.
Sampai hari ini dalam masyarakat Karo masih terdapt agama Semula Jadi, yaitu kepercayaan kepada alam, seperti keyakinan adanya kuasa Magis pada sungai, batu batu besar, gunung, pokok besar, tapi ada juga yang Islam, Kristen, dan lain-lain.

Bahkan Panglima Dalam masa kerajaan Aceh banyak yang diambil dari Orang Karo seperti PANGLIMA MANAN SUKA GINTING, sedangkan Panglima Luar Aceh banyak yang berasal dari Parsi, India dan lain-lain.
Bahkan Kota Rantau Prapat di Labuhan Batu, pernah dijadikan sebagai lokasi transaksi para Pendekar Aru untuk dijadikan Hulu Balang bagi kerajaan kerajaan Melayu hingga ke Malaka, oleh Duarte Barbarosa 1260 menyebutkan bahwa Aru tempat melahirkan para orang orang Kanibal.

Dynasti Yuan, telah menerima upeti dari Kerajaan Aru pada 1282. Bahkan pada 1540 dalam Tomba keluarga kami ada menyebutkan bahwa Aceh dipukul Johor ditanah Aru. Dan pada 1564 perang habis habisan antar Aru dengan Aceh, Aru hampir punah oleh pasukan Sultan Riayatsyah Alkahar 1537-1568. Tahun 1612 Gocah Pahlawan membabat habis Aru.

632-1669 Gocah Pahlawan@ Hisyamuddin @ Kodja Bintan @ Percut Sungai Lalang, berkuasa dan pengusa kerajaan Delhi pertama dengan mengawini NANG BALUAN bermarga Surbakti (bangsa KARO) anak kepada Raja di Sunggal.
Atas perkawinan itu maka BERCANTUMLAH KEMBALI ANTAR KARO DENGAN INDIA. KARO YANG JUGA BERASAL USUL DARI KAWASAN (HI) MALAYA, INDIA, DAERAH 'MELEYEN' SEDANGKAN GOCAH PAHLAWAN - ATOKNYA - BERASAL DARI 'OLD DELHI' INDIA,
KEUNIKAN BANGSA KARO.
BANGUN, adalah salah satu Marga orang Batak Karo. Orang Karo sangat dekat dengan kejadian alam, dan ada salah seorang sahabat saya sebagai Guru Besar di USU bernama Prof. DR Payung Bangun MSc. Mungkin nama ini kedengarannya lucu yaitu 'Payung'. Adalagi teman saya waktu SMP, bernama TERLAMBAT BANGUN.
Ada tata sopan orang Karo yang pelik, andaikata seorang menantu sudah menyiapkan hidangan untuk mertua, maka si menantu, tidak mengajak bapak mertua makan secara "pak makan..", atau "pak makanan sudah siap..." tapi mereka akan berkata, 'kursi' makan lah sudah siap, atau 'meja'makanlah.
Jadi, dengan cara itu dapat kita ilhami bahwa Orang Karo lah bangsa pertama yang BEREKSPANSI datang ke Alam Melayu kemudian ke Asia Tenggara dan selanjutnya BEREVOLUSI.

Terbukti
1 cara meraka beradaptasi dengan alam.
2 kemudian menjadikan tanda tanda alam sebagai aba aba dalam penamaan anak.
3 Marga MELIALA misalnya, masih banyak yang pandai berbahasa Urdu India, dan menulis tulisan India.
Jadi, apa yg kita pelajari mengenai tulisan Sansekerta, atau tulisan Jawa Kuno, ternyata bukan asli tulisan orang Jawa tapi tulisan yang diguna pakai, pada hal kalau kita ke Pulau Jawa, tak ada kita jumpai kawasan Jawa Kuno. Sedangkan Karo punya aksara tersendiri, walaupun berasal usul dari India.

Maka dengan uraian diatas TERBUKTI BAHWA KARO LAH BANGSA PERTAMA YANG MENDIAMI SUMATERA PANTAI TIMUR. BUKAN ORANG MELAYU, SEDANGKAN MELAYU MASIH TERUS BERPROSES, BAHKAN TAK SATUPUN ADA YANG BERANI MENGATKAN, SIAPA MELAYU YANG SEBENAR BENAR MELAYU

__________________

Sumber: Bagian 1 & Bagian 2


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...