Langsung ke konten utama

Ibrahim Mara Sutan Wafat - 1954

Mara Soetan Overleden

Na enkele dagen ziek te zijn gewest is der heer Ibrahim gelar Mara Soetan Dindsdag op 97-jarige leeftijd in Djakarta overleden. Zijn stoffelijk overschot werd Woensdagmiddag in Karet ter aarde besteld. Onder hen die wijlen Mara Soetan de laatste eer bewezen, bevond zich Moh. Sjafei, zijn aangenomen zoon, than parlementslid.

Ibrahim Mara Soetan, afkomstig uit Kajutanam in Midden-Sumatra was reeds voor 1900 een bekende letterkundige. Verscheidene van zijn werken o.a. “Pembuka Fikiran” en “Pelita”, zijn uitgegeven. In de latste tijd heeft wijlen Mara Soetan zijch toegelegd op het schrijven van kinderboeken.

***


Laporan surat kabar Het Neuwsblad voor Sumatra (Medan) edisi Jumat 2 April 1954 tentang wafatnya Ibrahim gelar Mara Soetan. (Lihat juga: De Locomotief (Semarang), 2-4-1954 dan Algemeen Indisch Dagblad: De Preangerbode (Bandung), 2-4-1954).

Ibrahim gelar Mara Soetan – mohon dibedakan dengan Taher gelar Marah Soetan (1890-1953)–adalah seorang intelektual Minangkabau, guru dan penulis buku yang terkemuka pada zamannya. Ia adalah ayah angkat Muhammad Sjafei, pendiri Indonesisch Nederlandsche School (INS) Kayu Tanam (1926). Namanya acap kali disebut dalam banyak sumber pertama tentang dunia intelektual Minangkabau pada akhir abad ke-19 dan paroh pertama abad ke-20, sering ditulis: “Toean/Engkoe Mara Soetan”. Fotonya dapat dilihat dalam Pandji Poestaka, No. 44, Thn X, 13 Mei 1932:678.

Ibrahim gelar Mara Soetan adalah seorang intelektual Minangkabau pekerja keras. Ayah angkat Mohammad Sjafei ini menulis cukup banyak buku untuk anak-anak sekolah, juga karangan-karangan lainnya. Beberapa buku karangannya kini masih tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, seperti Djalan ke Timoer (1928), Boenga Tjoelan  (4 Jilid) (1933), Pelita (2 jilid) (1938), dan Soear (1939). Oleh sebab itu namanya dikenal luas di kalangan guru-guru sekolah rendah pada zamannya.

Riwayat hidup Mara Soetan penuh lika-liku perjuangan dan sering berpindah-pindah. Setidaknya ia pernah bekerja di tiga pulau: Sumatera, Jawa, dan Kalimantan (Borneo).

Ada perbedaan dalam catatan tentang tarikh lahir Mara Soetan, Majalah Pandji Poestaka, No. 44, Thn X, 13 Mei 1932, hlm. 678 menyebutkan bahwa dia lahir di Padang tahun 1872. Sementara Tamar Djaja dalam Orang-orang Besar Indonesia [Djakarta: Bulan Bintang, 1966: 628] menyebutkan bahwa dia lahir di Kayu Tanam tahun 1863. Sedangkan Mohamad Sjafei yang menjadi editor kumpulan puisi karangan Marah Soetan sendiri yang berjudul Rindu dan Pudjaan (Padang: Sridharma, [1955]) mencatat bahwa Mara Soetan (yang dipanggil ‘Inyiak’ [Kakek] oleh Sjafei) lahir tahun 1853 tanpa menyebutkan tempat lahirnya. (lebh jauh lihat: https://niadilova.wordpress.com/2014/10/20/minang-saisuak-194-intelektual-minang-ibrahim-gelar-mara-soetan/). Dari sumber-sumbr lain yang disebutkan di atas, diketahui bahwa ibu Mara Soetan adalah seorang keturunan Jawa dari Pasuruan dan ayahnya adalah orang Minangkabau yang berasal dari Kayu Tanam. Oleh karena itu, dapat dipahami mengapa Mohamad Sjafei, anak angkat Mara Soetan yang berasal dari Kalimantan, mendirikan INS di Kayu Tanam, karena mungkin bentuk penghormatan kepada kampung halaman ayah angkatnya.

Jika kita berpedoman pada laporan koran Het Neuwsblad voor Sumatra di atas, maka Mara Soetan, yang memang disebutkan berasal dari kayu Tanam ([hij] afkomstig uit Kajutanam in Midden-Sumatra…), lahir pada tahun 1857, karena disebutkan dalam laporan di atas bahwa ia wafat dalam usia 97 tahun pada 1954. Laporan di atas secara tepat juga menjelaskan tarikh meninggalnya Marah Soetan, yaitu: hari Selasa (Dinsdag) 30 Maret 1954 di Jakarta, setelah beberapa hari menderita sakit karena usia tua. Disebutkan juga dalam laporan di atas bahwa jenazah Mara Soetan dikebumikan di TPU Karet Jakarta.

Demikian sedikit tambahan maklumat tentang Ibrahim Gelar Mara Soetan. Kiranya namanya patut pula dicatat dalam direktori orang Minangkabau di panggung sejarah.

Suryadi, MA, PhD – Leiden University, the Netherlands / Padang Ekspres, Minggu 22 Desember 2019
__________________________________

Disalin dari blog Engku Suryadi Sunuri: Niadilova.wordpress.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...