Langsung ke konten utama

Ancaman yang belum disadari

Pada tahun 2000an sebagian besar orang Minangkabau masih ada yang berpendapat bahwa Baju Kurung merupakan Budaya Malaysia. Menurut mereka, Kebaya ialah pakaian mereka (yang populer dengan sebutan "Kebaya Nasional"). Apabila ada tersua perempuan memakai baju kurung makan akan dipandang aneh dan sebelah mata.

Dalam setiap undangan resmi akan tersua arahan "Pakaian laki-laki: batik nasional. Perempuan: kebaya nasional"

Dan kemudian anak-anak Minang diberi kesadaran, salah satunya ialah tentang jati mereka. Baju Kurung perlahan-lahan bangkit dan dipopulerkan dengan nama "Baju Kuruang Basiba" walau tak semua Baju Kurung itu basiba.

Namun, ini hari masih tersua sebagian orang yang berpandangan "Pakaian perempuan Minang itu ialah kebaya, tingkuluak, dan suntiang.." ditambah orang sekarang yang tergila-gila agar terkenal sehingga tatkala orang memprotes pakaian yang katanya pakaian Minang maka mereka membela "Semestinya kita berterima kasih karena pakaian Minang diperkenalkan ke mata dunia.."

Atau orang-orang yang tak mendapat pengajaran berpendapat "Kita mesti berfikiran terbuka, mengikuti perkembangan zaman.."

Telah lama orang-orang bertanya "Siapa yang menentukan perkembangan zaman itu?" dan "Kenapa bukan Syari'at yang dijadikan takaran (barometer) dalam menentukan perubahan atau perkembangan itu?"

Kemana semua ini akan berjalan? Seperti apakah hari esok?

Apabila keadaan nan berlaku kini dibiarkan, orang-orang semakin ramai berkiblat pada Jakarta, menerima budaya dan agama Nuswantoro. Maka tinggal menunggu waktu, perlahan-lahan anak kamanakan kita akan hanyut dibawa gelombang.

Seperti ungkapan orang dahulu, seperti membesarkan anak itu. Itulah nan kemudian berlaku.

Foto: Minang Tempo Doeloe


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...