Langsung ke konten utama

Dukung Palestina! Jangan Gunakan Semangka

 


Logika nya kalau kita memakai semangka 🍉 instead of 🇵🇸 sama aja kita mengikuti kebiadapan Zionist!

Menurut kami ya tuan dan puan, gambar semangka ini selain melambangkan perlawanan terhadap Zionist namun juga memiliki arti "KETIDAK BERDAYAAN". Jadi tuan, siapa yang hendak lambang negaranya di gantikan dengan buah? Bendera semangka yang dikibarkan warga Palestina bukan berarti kita harus mengikutinya, justru mereka lebih suka ketika kita mengibarkan bendera asli mereka.

Bendera adalah lambang negara dan adalah hal yang penting. Maka dari itu Zionist Israel tidak mengizinkan warga Palestina mengibarkan bendera mereka. Saat ini mereka (Zionis) pasti tertawa melihat kita yang menggantikan bendera Palestina dengan semangka. Yang artinya kita juga tak berdaya untuk mengibarkan bendera Palestina. Bahkan kita lebih takut di shadow banned / dilarang hanya karena mengibarkan bendera Palestina daripada menegakkan dan memperjuangkan kedaulatan Palestina.

Setiap system pasti ada kelemahannya tuan, kalau kita mau, konten Palestina terus terblow up, kita bisa lakukan interaksi, "bisa dari share ke kawan atau mengirim ulang, komen atau memberi tanggapan, remix / stich dan tonton sampe habis reels juga di ulang ulang".

Dengan cara begitu sistem secara tomatis akan blow up konten berdasarkan algoritma.

credit: hamzali_abradinezad

Demikianlah ungkap salah seorang konten kreator terkait salah fenomena yang jamak kita temui menyangkut masalah Palestina pada masa sekarang. Semula kami sangatlah heran, kenapa kawan-kawan mengganti foto profil mereka dengan semangka, kenapa pula ramai orang mengunggah gambar semangka? Kami merasa ada yang aneh namun untuk sementara diam sahaja dahulu, tak hendak ikut-ikutan kalau belum jelas duduk ujung-pangkalnya.

Lalu tersualah postingan hamzali_abradinezad diatas, kamipun terkejut. Lalu kami coba mencari tahu awal mula (sejarah) penggunaan semangka dalam perjuangan rakyat Palestina. Tersualah apa yang dikatakan engku muda Hamzali dalam postingannya di atas, karena Israel melarang pengibaran bendera Palestina. Semuanya bermula dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967 yang dimenangkan oleh Israel terhadap negara-negara Arab. 

Semangka dipilih karena warnanya yang serupa dengan warna bendera Palestina, merah (daging), hijau (kulit), putih (isi dekat kulit), dan hitam (biji). Selain itu, semangka merupakan salah satu tanaman yang diproduksi oleh Palestina.

Oleh karena itu, agaknya kami sependapat dengan engku muda Hamzali, lebih baik mengibarkan bendera Palestina karena semangka dipakai di negeri yang sedang dikuasai penjajah. Sedangkan kita disini, sama sekali tak dilarang untuk mengibarkan bendera Palestina.

==============

Baca Juga: Palestina | Kata Data


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...