Langsung ke konten utama

Buzzer Z10N15

 




Perang pada masa sekarang tak hanya mengandalkan senjata belaka melainkan juga kekuatan para Tukang Fitnah atau lebih dikenal dengan julukan Buzzer. Namun sayangnya, hal ini bertentangan dengan pengertian dari Buzzer itu sendiri yaitu seseorang atau sekelompok orang yang dibayar atas jasanya untuk meiklankan, mengkampanyekan, atau mengekspresikan sesuatu. Dan mereka ini biasanya digunakan sebagai tenaga dalam pemasaran seperti periklanan, strategi bisnis untuk mepromosikan suatu produk.

Di republik ini, istilah ini sendiri populer dimasa pemilu presiden pada tahun 2019, dimana peran dari orang-orang yang dikenal sebagai Buzzer ini sangat berperan dalam mempengaruhi keputusan pemilih dalam menentukan pilihan mereka. Dimasa inipulalah berbagai kabar dusta, fitnah, dan hujatan ramai berlalu-lalang di ranah maya.

Demikian juga hari ini, Zionis sebagai penguasa teknologi dan tentunya media, benar-benar memanfaatkan kekuatan dan kekuasaan mereka. Sebenarnya tanpa peranan buzzerpun mereka telah memulai agenda cuci otak dan fitnah terhadap lawan-lawan mereka. Hal ini sangat mencolok dalam filem-filem dan lagu-lagu yang mereka hasilkan. 

Di ranah mediapun merekapun melakukan hal serupa, menempatkan Islam dan Umat Islam sebagai tokoh antagonis, hal mana telah mereka lakukan dalam filem-filem buatan mereka. Hampir seluruh pemberitaan yang mereka kuasai menempatkan Israel sebagai korban dan Palestina sebagai teroris.

Layaknya nenek moyang mereka, para Zionis tidak pernah puas dengan apa yang telah mereka dapatkan. Mereka juga mengikat para artis mereka dengan kontrak mati. Setiap tampilan, pendapat, ataupun ekspresi pribadi mereka haruslah mendukung Zionis. Apabila para artis menolak maka karir mereka akan dihabisi.

====================




====================

Credit: IG @shiftmedia.id



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...