Langsung ke konten utama

Datuk Puti, Abdi Rezim Ditanggkap di Mekkah

 “Orang pergi hadji jang ditangkap. Sepandjang kabar aneta dari Padang, Sum. Bode [koran Sumatra Bode] telah menerima kabar kawat dari Mekah, jang mewartakan bahwa t[oean] Datoek Poetih, bekas kepala district Solok, dan keloearganja, telah ditangkap atas perintah Radja Hidjaz, ja‘ni waktoe t. Dt. Poetih itoe sampai dikota tsb. Kabarnja ialah karena t. Dt. Poetih itoe mendjadi pengikoet pergerakan agama Ahmadijah, jang djoega terdapat di Soem[atera] Barat.”

Penangkapan t. Dt. Poetih di Mekah. Berhoeboeng dengan penangkapan t. Dt. Poetih oléh pemerintah di Hidjaz, karena kepertjajaannja tentang agama itoe, SumBode mendengar kabar bahwa menoeroet warta jang diterima oléh Goebernoer Soem. Barat dari Oetoesan Belanda di Djoedah, maka t. Dt. Poetih itoe dikirimkan kembali ketanah Hindia dengan kapal api Poelau Beras.”

***

Dua laporan dalam  majalah Pandji Poestaka, beturut-turut No. 62, Tahoen VIII, 5 Augustus 1930, hlm. 996 dan No. 72, Tahoen VIII, 9 September 1930, hlm. 1148 (rubrik Kroniek)  tentang penahanan Dt. Poetih (Datuak Putiah) dan keluarganya yang berasal dari Solok di Mekah atas perintah penguasa Negeri Hidjaz terkait dengan dugaan bahwa ia adalah pengikut Ahmadiyah di Sumatera Barat. Dt. Poetih dan keluarganya kemudian dideportasi ke Hindia Belanda. Surat kabar Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië terbitan Batavia menulis pula berita sebagai berikut:

Het Nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië, 30-07-1930-Datuak Putiah-penggerak Ahmadiyah di Minangkabau

Berita yang sama dimuat di harian De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad  terbitan ‘s-Hertogenbosch, Belanda, edisi 31 Juli 1930. Datuak Putiah dan Ahmadiyah . Ternyata Datuak Putiah ini adalah mantan demang Solok yang pada tahun 1927 sudah pernah juga berhadapan dengan pengadilan kolonial dalam kasus yang terkenal dengan sebutan “Perambahan-affaire” (Kasus Parambahan) (lihat: https://niadilova.wordpress.com/2017/01/30/ppm-93-datuak-putiah-dan-datuak-tongga-asal-solok-naik-banding-ke-betawi/).  Informasi ini termuat dalam surat kabar De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad terbitan ‘s-Hertogenbosch, Belanda, edisi 31 Juli 1930 sbb:

De Tijd [tt2] godsdienstig-staatkundig dagblad 31-07-1930-Datuak Putiah dan Ahmadiyah

Surat kabar Bataviaasch nieuwsblad edisi 6 Agustus 1930 memberitakan bahwa Datuak Putiah adalah salah seorang penganjur aliran Ahmadiyah di Minangkabau. Dia dan istrinya pergi ke Mekah melalui Qadian di Lahore, pusat gerakan Ahmadiyah di India bagian utara (sekarang masuk wilayah Pakistan) sebelum melanjutkan perjalanan mereka ke Mekah (lihat guntingan koran Bataviaasch nieuwsblad edisi 6-08-1930 berikut ini):

Bataviaasch nieuwsblad 06-08-1930-Datuak Putiah Ahmadiyah - Copy

Berita-berita yang berasal dari koran-koran yang disebutkan di atas menunjukkan bahwa paling tidak sejak 1930 aliran Ahmadiyah sudah diperkenalan di Minangkabau.

Suryadi – Leiden University, Belanda | Padang Ekspres, Minggu, 3 Mei 2015

=================

Disalin dari blog Suryadi Sunuri: niadilova.wordpress

=================

Baca Juga:

  1. Tak Boleh Melawan Pemimpin by Ahmadiyah
  2. Datuk Putih; Abdi Rezim Yang Baik


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...