Langsung ke konten utama

Perang Candu Abad Ke-19 di Minangkabau

FB Yusuf Makmum Samudra - Sedikit pencerahan dari Dr Emeraldy Chatra (Pengajar di Jurusan Komunikasi FISIP Unand). Hikayat Perang Candu di Tanah Minang pada abad ke-19 Masehi
Minangkabau pada sekitar abad ke-19 M, hampir mengalami kehancuran akibat maraknya peredaran candu (bahan memabukan yang dihisap bersama tembakau memakai cangklong panjang). Selain candu, daerah ini semakin rusak dikerenakan ramainya minuman tuak, perzinahan dan perjudian sabung ayam.
Kerusakan Tanah Minang, telah membuat Tuanku Nan Renceh, seorang ulama muda dari surau Naqsabandiyah di Kamang memimpin sebuah pasukan kecil untuk memerangi peredaran candu dan maksiat-maksiat lainnya di seputar Kamang.
Sejarah Perang Candu di Minangkabau
Candu yang beredar di Minangkabau, diimpor oleh Belanda dari India dan didistribusikan oleh tiga orang tokoh yang berdomisili di Tanah Datar. Ketiga orang inilah menjadi bandar besar narkotika yang dipelihara oleh Belanda. Kaki tangan ketiga tokoh itu bertebaran di seluruh wilayah Minangkabau. Banyak Ulama dan Penghulu Adat mencoba melawan, tapi tidak berhasil karena gerombolan pengedar candu sangat kuat.
Gerakan Tuanku Nan Renceh, lebih tepat disebut sebagai gerakan surau. Boleh jadi Tuanku Nan Renceh terinspirasi oleh gerakan Salafi yang marak di jazirah Arab, karena sejatinya kaum Naqsabandi lebih banyak memilih cara persuasif.
Perang melawan candu ini semakin kuat ketika tiga orang ulama Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji Miskin bergabung di dalam gerakan Tuanku Nan Renceh.
Akibat terdesak oleh gerakan anti candu, ketiga gembong narkoba memobilisasi kekuatan dan meminta pertolongan kepada Belanda. Belanda pun ikut campur urusan orang Minangkabau, dan melahirkan perang besar.
Perang melawan candu ini diteruskan oleh murid Tuanku Nan Renceh, yang bernama Tuanku Imam Bonjol. Perang ini kemudian meluas menjadi perlawanan terhadap kolonial Belanda, yang dikenal sebagai Perang Padri.

Emeraldy Chatra)
WaLlahu a’lamu bishshawab
Mungkin ada diantara sahabat sekalian yang memiliki informasi tambahan yang berkenaan dengan peristiwa ini.

Sebagai catatan, candu adalah salah satu produk yang dimonopoli pemerintah Hindia Belanda, selain garam, kopi dll 

===================

Baca Juga:

  1. Perang Candu di Minangkabau
  2. Nama Paderi Buatan Orientalis Sekuler
  3. Perang Kaum Putih/ Perang Candu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...