Langsung ke konten utama

Perang Candu bukan Paderi

Ilustrasi gambar: ceknricek
OLEH Dr Emeraldy Chatra (Pengajar di Jurusan Komunikasi FISIP Unand)

Istilah Perang Padri diciptakan oleh Prof Veth, seorang orientalis Belanda yang tidak pernah berkunjung ke Sumatera Barat. Ia hanya mengandalkan laporan-laporan pegawai dan tentara kolonial yang berada di medan perang.

Padri itu julukan Prof Veth untuk kaum Islam di Minangkabau. Jelas ini pengistilahan yang sangat keliru, karena asal kata padri adalah "padre"(Spanyol) yang berarti pendeta. Kaum Islam di Minangkabau tentu bukan pendeta.

Selama ini kita menjadikan cerita Veth sebagai rujukan tentang perang yang berkobar mulai 1809 sampai 1837 itu. Selain terdapat pengistilahan yang keliru, jalan cerita yang dikarang Veth juga amburadul.

Tidak banyak diketahui, sebenarnya ada versi lain yang diceritakan turun temurun oleh orang Minangkabau, khususnya kaum penghulu. Saya dapat versi lain ini dari penghulu di Agam.

Versi lokal tidak menyebut perang itu Perang Padri, tapi "Perang Candu". Mengapa? Karena peperangan itu dipicu oleh maraknya peredaran candu (bahan memabukan yang dihisap bersama tembakau memakai cangklong panjang) di Minangkabau.

Tidak hanya candu yang marak. Seiring dengan peredaran candu, orang Minang – tentu saja kebanyakan penghisap candu – juga suka berjudi "sirambuang" , minum tuak, dan mengadu ayam. Perzinahan pun sudah menjadi hal biasa.

Demikian rusaknya masyarakat Minang akibat maksiat, sehingga Tuanku Nan Renceh (TNR), seorang ulama muda dari surau Naqsabandiyah di Kamang sangat murka. Ia memimpin sebuah pasukan kecil untuk memerangi peredaran candu dan maksiat-maksiat ikutannya di seputar Kamang.

Inisiatif memerangi candu itu murni dari TNR. Gurunya sendiri, Tuanku Nan Tuo di Canduang tidak sepakat melakukan tindakan kekerasan sebagaimana dilakukan muridnya.

Siapa di belakang peredaran candu dan berbagai praktik maksiat di Minangkabau? Candu diimpor oleh Belanda dari India dan didistribusikan oleh tiga orang tokoh adat yang berdomisili di Tanah Datar. Dalam istilah sekarang, merekalah bandar besar narkotika yang dipelihara oleh Belanda.

Soal nama ketiga orang ini bagi saya masih perlu diverifikasi, karena itu tidak akan saya sebutkan. Bisa ribut orang Minang.

Kaki tangan ketiga tokoh adat itu bertebaran di seluruh wilayah Minangkabau. Jadi tidak semua penghulu adat terlibat dalam urusan candu. Bahkan banyak yang melawan, tapi tidak berhasil karena gerombolan pengedar candu sangat kuat. Pembakaran pasar Pandai Sikek oleh Haji Miskin yang dipicu oleh candu-judi-tuak melibatkan seorang penghulu terkenal dari Tanah Datar.

Gerakan TNR lebih tepat disebut sebagai gerakan surau. Boleh jadi TNR terinspirasi oleh gerakan Wahhabi karena sejatinya kaum Naqsabandi tidak menyukai jalan kekerasan, tapi tidak ada bukti bahwa beliau benar-benar Wahhabi. Istilah Wahhabi yang dilekatkan kepada Perang Padri juga berasal dari Prof. Veth.

Menurut versi lokal, tidak benar gerakan surau memerangi candu diinisiasi oleh Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji Miskin (nama lain dari Haji Pamansiangan). Sewaktu mereka pulang ke Minangkabau mereka sudah menemukan banyak kerusuhan yang disebabkan oleh gerakan surau-nya TNR. Kemudian mereka bergabung dengan TNR, membuat gerakan surau menjadi masif.

Akibat terdesak oleh gerakan surau TNR, ketiga gembong candu memobilisasi kekuatan dan meminta pertolongan kepada Belanda. Belanda pun ikut campur urusan orang Minangkabau, melahirkan perang besar.

Perang inilah yang dikatakan secara keliru oleh Prof Veth sebagai perang Kaum Wahhabi melawan Kaum Adat. Tapi kita maklum, orang Belanda memang sering salah menulis, kadang disengaja untuk tujuan mengadu domba.

Campur tangan Belanda tidak menyurutkan semangat Kaum Surau. Perang makin sengit karena para penghulu adat yang anti-candu bergabung dengan Kaum Surau.

Bergabungnya penghulu adat inilah yang kemudian melahirkan perang orang Minang melawan Belanda. Tuanku Imam Bonjol adalah murid TNR yang paling terkenal, paling kuat, tapi juga yang mengakhiri perlawanan terhadap Belanda setelah beliau ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Ambon, lalu ke Lotar, Sulawesi. 

=================

Baca Juga:

  1. Perang Candu di Minangkabau
  2. Nama Paderi Buatan Orientalis Sekuler
  3. Perang Kaum Putih/ Perang Candu


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...