Langsung ke konten utama

MENJEJAKI DARAH MINANGKABAU PADA PRESIDEN PERTAMA SINGAPURA, YUSOFF ISHAK


 Disalin dari kiriman FB A'Al


Berikut ini adalah buku berjudul "Mencari Bako" yang ditulis oleh Aziz Ishak, adik laki-laki dari Yusoff Ishak, presiden pertama Singapura yang secara nasab keturunan adalah orang Minangkabau. Bako ialah istilah dalam adat Minangkabau yang artinya "Keluarga Ayah".
Keluarga Yusoff Ishak dari pihak Ayah berasal dari Payakumbuh, Sumatra Barat. Mereka adalah generasi kelima dari bangsawan Pagaruyung, Minangkabau, yakni Datuk Jennaton, yang membuka Pulau Pinang, Malaysia, dengan membuka sebuah kampung kecil di Batu Uban, Pulau Pinang. Sampai sekarang sebuah masjid tua masih berdiri di Batu Uban, Pulau Pinang, Malaysia, sebagai bukti kedatangan orang-orang Minangkabau yang lebih dulu dan lebih awal lagi dibandingkan dengan kedatangan orang-orang barat yang diklaim membuka Pulau Pinang, yakni Francis Light. Tapi amat disayangkan nampaknya sejarah Malaysia kurang mencatatkan sejarah Datuk Jennaton ini dalam sejarahnya.
Generasi Datuk Jennaton banyak yang menjadi orang
hebat
dan tersebar di mana-mana, salah seorangnya ialah Yusoff Ishak, presiden pertama Singapura dan Aziz Ishak, adik laki-laki Yusoff Ishak, yang merupakan pejuang kemerdekaan Malaysia, wartawan, politisi, dan mantan menteri di Malaysia.
Saya sebagai orang Minangkabau, merasa senang dan salut kepada keluarga Yusoff Ishak, walaupun jauh di seberang tapi menyadari asal usul keluarganya yang datang dari Minangkabau. Bahkan mereka pernah mengadakan pertemuan atau perkumpulan generasi dan anak cucu Datuk Jennaton yang sangat banyak jumlahnya di Malaysia. Jati diri sebagai anak Minangkabau dan kebanggaan akan Minangkabau dari keluarga Yusoff Ishak sangat terasa apabila kita membaca buku "Mencari Bako" ini.
Dan dalam buku ini juga akan terungkap nama-nama penting dan keturunan bangsawan Minangkabau lainnya dari negeri-negeri lain di Malaysia yang terhubung dengan Datuk Jennaton yang berasal dari Payakumbuh, Minangkabau, tersebut.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...