Langsung ke konten utama

TAK SENGAJA

Ilustrasi Gambar: Hanum Bella



Seorang petani penduduk satu desa di negeri Antah Berantah, sebut saja Dun, ditangkap polisi dengan sangkaan mencuri sapi [jawi] penduduk sedesa dengannya, sebut saja namanya Din. Setelah ditahan, Dun kemudian diadili.

Hakim: Benarkan Saudara Dun telah mencuri jawi Saudara Din?

Dun: Tidak benar, Tuan Hakim.

Hakim: Tapi ada saksi yang melihat pada subuh itu Saudara membawa sapi Saudara Din, lalu menjualnya ke pasar ternak.

Dun: Kalau itu benar, Tuan Hakim.

Hakim: Lalu kenapa Saudara bilang tidak mencuri?

Dun: Itu TAK SENGJA Tuan Hakim.

Hakim: TAK SENGAJA bagaimana? Saudara sendiri mengaku menjual sapi itu ke pasar ternak.

Dun: Begini ceritanya Tuan Hakim. Pagi subuh itu awak hendak ke ladang untuk menyabit rumput buat makanan jawi saya. Lalu di kandang jawi di pinggir jalan saya lihat ada tali. Saya pikir tali itu perlu buat saya mengikat rumput. Lalu ketika tali itu saya tarik, eh ada jawi mengikut di ujung tali itu. Saya pikir ini rezeki nomplok, makanya saya terus saja ke pasar ternak. Jawi yang mengikut tali itu saya jual.

Hakim: Itu kan sama saja Saudara mencuri.

Dun: Ooh.., jelas tidak sama Tuan Hakim. Saya bukan mengambil jawi. Saya hanya mengambil tali, lalu TAK SENGAJA jawinya ngikut saya.

Hakim: Ah itu sama saja dengan mencuri.

Dun: Tidak Tuan Hakim. Kan TAK SENGAJA..

Hakim: Ya sudah. Nanti jaksa akan menuntut Saudara.

Jaksa yang selama sidang sering terakuk-akuk karena ngantuk (mungkin terlalu banyak sidang) tak jeli menyimak tanya-jawab hakim dengan terdakwa. Kata-kata yang sering ia dengar hanya "TAK SENGAJA". Kata-kata itu akhirnya yang muncul dalam tuntutannya.

Jaksa: Karena terdakwa hanya mengambil tali, dan TAK SENGAJA jawinya mengikut tali, maka Saudara Dun kami tuntut satu bulan kurungan, sama dengan masa tahanannya.

Hakim yang dalam putusan hukum tidak mau memvonis lebih tinggi daripada tuntutan jaksa, akhirnya menjatuhkan vonis:

Hakim: Karena menurut tuntutan jaksa Saudara Terdakwa telah "TAK SENGAJA" membawa jawi Sdr. Din ke pasar ternak, maka sesuai dengan tuntutan JPU, menjatuhkan hukuman satu bulan kurungan.

Secara TIDAK SENGAJA pula vonis hakim sama dengan masa tahanan terdakwa, makanya Dun otomatis bebas pada hari yang sama.

Din, pemilik sapi, yang hadir pada persidangan itu langsung berdiri dan protes; "Tuan Hakim, bagaimana mungkin orang mencuri jawi dan menjualnya, tapi mengaku TAK SENGAJA ... "

Karena sudah mengetuk palu, Hakim tidak menjawab protes pemilik jawi itu dan langsung meninggalkan meja hijau kembali ke ruang kantornya.

Akhirnya pengacara terpidana yang menjawab: "Sudahlah Din, dia kan TAK SENGAJA. Maafkan sajalah."

Bukan hanya Din, seluruh pengunjung sidang pun bingung semua. TAK SENGAJA. Gimana lagi. 


Disalin dari kiriman FB engku Hasril Chaniago


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...