Langsung ke konten utama

Obituari Djohari Kahar: Intelektual Rendah Hati

Foto: Babe News


Hariansinggalang.co.id

2021/09/13 08:06

Oleh Khairul Jasmi

Rumah di jalan Palupuah no 9 Jati Padang itu, teduh. Saya duduk di ruang tamu. Di hadapan meja kecil dengan beberapa botol kue. Tak lama tuan rumah pun mancogok kembali, setelah tadi menghilang sebentar.

Beliau Djohari Kahar. Tawanya berat. Senyumnya khas. Ia punya pandangan luas. Kami mulai berkisah tentang ayahnya, Brigjen Polisi Kaharuddin Dt Rangkayo Basa. Ayahnya Kapolda dan kemudian jadi gubernur Sumbar. Saya dan Hasril Chaniago menulis biografi Kaharuddin.

Saya berkali-kali datang ke rumahnya. Kami kemudian akrab dengan tokoh Golkar dan pernah jadi ketua DPRD Sumbar. Usia makin tua tapi sekolah lanjut juga. Saya dengar Pak Djohari ambil S2.

Pak Djohari di mata saya adalah seorang intelektual ketimbang tokoh politik. Wawasannya luas terutama tentang sejarah Sumbar. Kami (saya dan Hasril Chaniago) kembali harus menggali cerita dan minta bacaannya, karena kami menulis buku polisi Sumatera Tengah.

Meninggal dunia

Innalillahi wainna ilaihi rojiun, tokoh bersuara bariton itu, dengan nama lengkap, H Djohari Kahar, SH, M.Si., Dt Bagindo berpulang ke rahmatullah padaMinggu, 12 September 2021 oukul 12.05 WIB di rumahnya. Saya terkejut demi mendengar kabar itu.

Djohari Kahar menjabat ketua DPRD Sumatra Barat selama dua periode dan satu periode sebagai anggota DPR-RI mewakili Sumatra Barat.

Sebagai tokoh Sumbar, Djohari selalu jadi tempat bertanya. Ia menyimpan banyak dokumen dan saya sudah membuktikannya.

Lahir di ko Solok 11 November 1930, merupakan anak ke-3 dari lima bersaudara dari pasangan Kaharuddin Dt. Rangkayo Basa dan Mariah yang berasal dari Bayur, Maninjau.

Kakak kandungnya Adrin Kahar juga seorang yang ramah dan suka bergurau. Saya beberapa kali pula datang ke rumahnya dekat kampus IKIP, sekarang UNP. Adrin seorang pejuang kemerdekaan, pengajar dan politisi, dan merupakan salah seorang pendiri dan rektor yang ke-2 Universitas Bung Hatta.

Adiknya, Amrin Kahar, pernah menjabat Dirjen Tanaman Pangan dan Hortikultura Departemen Pertanian, serta anggota DPR-RI mewakili Sumatra Barat dari tahun 1997-1999, tinggal di Jakarta. Bersama Hasil Chaniago saya mewawancarainya beberapa kali untuk keperluan biografi ayahnya.

Djohati adalah alumni SMA ABC Bukittinggi. Ia kuliah du FH Unand. Di sini Djohari pernah jadi ketua senat mahasiswa. Orang tua kita ini tak senang diam, saat hari tuanya malah kuliah S2.

Djohari sudah jadi guru pada 195 di SMP Udaya, Padang. Lalu di SMA 1 Padang pada 1957. Ia memprakarsai pembangunan SMA 2 Padang dan kemudian jadi kepala sekolah di sana pada 1961.e Ia banting sir tapi tak dibanting benar. Djohari mendaftar dan diterima sebagai PNS di Direktorat Jendral Industri Mesin dan Logam Dasar Departemen Perindustrian (1964-1987). Di masa itu, ia ditugaskan memimpin proyek Galangan Kapal Pelabuhan Teluk Bayur. Selama karir kepegawaiannya Djohari juga menjadi dosen luar biasa Fakultas Ekonomi Universitas Andalas, dosen tidak tetap di Akademi Koperasi Negara di Padang dan Akademi Keuangan Perbankan dan Pembangunan, dan merangkap jabatan sebagai Ketua Dewan Kurator.

Di dunia sebelahnya ia aktif di kegiatan sosial politik. Itulah yang kemudian mengantarkannya menjadi ketua DPRD Sumbar.

Almarhum menurut catatan, memperoleh penghargaan berupa Piagam Satya Lencana Karya Setia (25th) dari Presiden RI. Pada Agustus 2008 bersama beberapa tokoh Minang lainnya yang dianggap telah berjasa terhadap Sumatra Barat dianugerahi penghargaan oleh pemerintah provinsi Sumatera Barat yang diserahkan oleh Gubernur Sumbarketika itu, Gamawan Fauzi. Masih pada tahun yang sama, di bulan Oktober, Djohari Kahar bersama Lukman Harun, seorang tokoh Muhammadiyah, juga mendapatkan penghargaan dari Golkar atas perannya dalam perkembangan partai di Sumbar. Agustus 1981, ia memperoleh gelar Veteran Pejuang Kemerdekaan RI serta terdaftar sebagai anggota Legiun Veteran RI daerah Sumbar.

Tokoh jujur yang seperti ayahnya ini, disemayamkan di rumahnya dan hari ini dimakamkan di TPU Tunggul Hitam, Padang.

Kepergian Djohari Kahar menambah panjang daftar tokoh yang telah meninggalkan kita. Djohari wafat pada usia 91 tahun. Selamat jalan Pak Djohari. *


Lihat artikel asli

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...