Langsung ke konten utama

BAGAIMANA PENJAJAH BELANDA MEMPERLAKUKAN TUANKU IMAM BONJOL?

Ilustrasi Gambar: Human Rights


 Oleh Hasril Chaniago


Tiba-tiba saja saya ingin mengetahui (lagi) bagaimana penjajah Belanda memperlakukan tokoh-tokoh Indonesia yang angkat senjata melawan penjajah Belanda. Saya baca ulang buku "Perang Paderi" karya Muhamad Radjab yang diterbitkan Balai Pustaka tahun 1964. Satu-satunya buku yang mengisahkan Perang Paderi secara lengkap dan rinci sampai hitungan tanggal, hari bahkan sampai jam kejadiannya, dan mengisahkan setiap peristiwa secara detail.
Perang Paderi adalah perang melawan penjajahan terbesar dan terlama yang terjadi di Nusantara (1803-1838) di mana Belanda harus mengeluarkan biaya yang sangat besar dan mengerahkan pasukan sampai 32.000 (lebih 40 batalion).
Sekitar 15 tahun terakhir Perang Paderi tentara Belanda berusaha keras hanya untuk merebut benteng Bonjol (Bukit Tajadi) dan untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol. Usaha tersebut tak pernah berhasil bahkan setelah korban di pihak Belanda jatuh sangat banyak. Imam Bonjol baru bisa ditangkap melalui tipu muslihat berupa ajakan perundingan yang ternyata jebakan.
Setelah Tuanku Imam Bonjol ditangkap, ditawan, dibawa ke Padang, lalu diasingkan ke Batavia dan selanjutnya ke Cianjur (sebelum akhirnya ke Ambon dan ke Lotak di dekat Manado). Pengasingan Tuanku Imam Bonjol diatur dengan sebuah besluit (surat keputusan) Pemerintah Hindia Belanda No. 3 tanggal 23 Januari 1838, di mana ditetapkan:
1. Tuanku Imam Bonjol harus diam di satu tempat di Keresidenan Priangan, tepatnya ke Tjiandjoer (Jawa Barat sekarang) dan tidak boleh lagi tinggal di tengah rakyat bangsanya (Minangkabau)
2. Tuanku Imam Bonjol diberi tunjangan hidup sebesar Rp50 (50 gulden) sebulan (jumlah yang cukup besar mengingat gaji seorang guru kepala masa itu hanya lk. 20-30 gulden sebulan).
3. Memerintahkan kepada Residen Priangan, bila tunjangan itu tidak cukup, maka boleh dimintakan tambahan sepantasnya (kepada pemerintah pusat).
Kalau dipikir-pikir sekarang, pemerintah kolonial Belanda memperlakukan Tuanku Imam Bonjol secara cukup berkemanusiaan (tidak ada dilaporkan beliau diborgol). Hanya saja beliau memang tidak dibolehkan lagi tinggal di tengah (suku) bangsanya karena pengaruhnya sangat besar dalam menentang Belanda. Malah dilaporkan, bila ada anggota keluarga atau pengikut Imam Bonjol yang mau mengiringkan beliau di pengasingan, seluruh biaya hidup mereka ditanggung oleh pemerintah.
Nah itulah antara lain yang saya temukan dari membaca ulang "Perang Paderi" Muhammad Radjab. Rupanya masih ada juga baiknya pemerintah penjajah itu dalam memperlakukan para pemimpin bangsa Indonesia yang menentangnya.


Disalin dari kiriman FB Hasril Chaniago




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...