FB Januardi | Pada tahun 1937 Balai Pustaka menerbitkan sebuah buku catatan perjalanan. Buku klasik ini mendokumentasikan keindahan alam, budaya, dan sejarah Hindia Belanda (Indonesia) di masa kolonial. Judulnya “Berkeliling Hindia” dan ditulis oleh R. Ahmad Wongsosewojo, namun namanya sering ditulis Ahmad saja. Buku itu terdiri atas empat jilid yang mendokumentasikan perjalanan dari Aceh sampai Papua. Buku tersebut sangat kaya dengan foto foto berkualitas bagus
Dalam perjalanan keliling Hindia itu, penulisnya pernah melintasi Padang Panjang dalam perjalanan dari Padang ke Fort De Kock (Bukit Tinggi) yang diperkirakan pada awal tahun 30 an. Perkiraan awal tahun 30 an, karena penulis tentu butuh waktu bertahun tahun menyelesaikan perjalanan berkeliling Hindia Belanda di masa itu, yang dimulai dari Aceh sampai akhirnya buku itu diterbitkan pada tahun 1937.
Dalam catatan singkatnya melewati Padang Panjang menuju Fort de Kock setelah turun dari Kapal kepunyaan Koninklijke Paketvaart Maastschappij (KPM) di Emma Haven itu, R Ahmad Wongsosewojo menulis sebagai berikut. Catatan aslinya ditulis dalam ejaan Van Ophusyen
….
Melewati stasiun Kandang Ampat, barulah kereta api melintasi jembatan Batang Anai. Menderu dan berbusa air di bawahnya, meluncur dengan deras pada batu-batu besar yang ada di alirannya itu. Mulai dari tempat itu, pemandangan silih berganti. Sungai itu melingkar dan berkelok seperti ular. Demikian pula jalan raya yang mengikutinya, turun naik, berliku-liku.
Pada jembatan yang kedua, tercenganglah kami melihat air terjun. Hebat dan bergema ia terjun dari tempat yang 30 m tingginya ke bawah. Gemericik airnya ke serata tempat, seperti mutiara bertaburan, membasahi tanah yang subur. Maka terjadilah seperti kolam di bawahnya, penampung air yang tiada berhenti-henti tercurah, berbusa dan berbuih senantiasa itu. Amat subur segala tumbuh-tumbuhan yang ada berkeliling tempat itu, dari berbagai jenis pakis dan semak belukar.
Alangkah sejuk dan dingin gerangan udara di situ. Semua air itu membesarkan Batang Anai, yang sekali-kali mengadakan banjir yang maha hebat. Segala apa yang menghalangi jalannya habis rusak binasa. Terhanyut lalu, terbelintang patah. Remuk redam segala jalan besi dan jembatan kokoh itu, hasil pikiran dan kepandaian manusia yang tahan uji itu. Runtuh sekaliannya besar kecil. Sedangkan bongkahan batu yang serumah-rumah besarnya, terdorong juga ke mana-mana dan terbalik letak dan tempatnya.
Lembah Batang Anai tidak sama luasnya pada segala tempat. Terkadang ada yang lapang, dan ada yang sempit. Di situlah pemandangan yang secantik-cantiknya pada perjalanan itu. kemudian jalan kereta api melalui sebuah terowongan (tunnel) pada kaki bukit yang mendaki, kemudian menyeberangi sebuah jembatan yang panjang dan tinggi, di atas jurang Batang Anai itu.
Tidak berapa antaranya sampailah ke stasiun Padang Panjang, yaitu sebuah stasiun yang terbesar pada "Sumatra Staatsspoorweg" (S.S.S.) itu. Di sini jalan kereta api bersimpang dua. Sebuah ke Fort de Kock dan sebuah lagi ke Sawah Lunto, tempat tambang batu bara yang terbesar di Hindia ini. Jalan itu melalui tepi Danau Singkarak dan negeri Solok.
Negeri Padang Panjang 773 m tingginya dari permukaan air laut. Udara sudah mulai dingin di situ. Letaknya antara Gunung Singgalang (2.877 m) dan Gunung Merapi (2.891 m), di kaki Gunung Tandikat (2.438 m). Hampir setiap hari saja hujan gerimis di situ.
Pada tahun 1926, negeri itu binasa ditimpa bencana gempa yang maha hebat. Banyak rumah runtuh dan orang meninggal di dalam reruntuhan gedung-gedung batu. Tanah di jalan habis merekah. Sekarang orang sedang berangsur-angsur mendirikan kota itu kembali. Oleh karena itu, di sana banyak rumah didirikan dari kayu beratap seng.
Rumah adat (rumah gadang) di daerah negeri Padang Panjang banyak yang indah buatannya, dari kayu berukir-ukir dan beratap ijuk bergonjong, seperti tanduk kerbau. Tapi sayang! Sudah banyak atap ijuk itu berganti dengan atap seng.
Dari Padang Panjang ke Fort de Kock, jalan kereta api mendaki lagi memotong perantaraan tanah tinggi yang menyambung kaki Gunung Merapi dengan Gunung Singgalang dan Tandikat. Daerah ini amat rapat penduduknya. Bagus kelihatan rumah-rumah dengan rangkiang padinya. Dari stasiun Pasarrabo (Pasa Raba'a), nampaklah Danau Singkarak, sayup-sayup dilingkungi oleh kaki pegunungan, yang hijau biru warnanya.
Naik sedikit lagi, terbentanglah di hadapan dataran tinggi Agam yang permai itu. Kemudian kereta menurun ke stasiun Padang Luar dan terus ke stasiun Fort de Kock, melalui tengah sawah yang menyejukkan hati, dipukul angin sepoi-sepoi basah, melingkungi perkampungan laksana pulau di tengah-tengah lautan itu.
Kelihatanlah puncak-puncak menara masjid dan surau satu-satu kampung dari jauh, seolah meninjau dari dalam hutan kelapa dan pohon-pohonan yang rimbun. Putih dindingnya terbuat dari batu atau pelupuh (bambu yang dibelah pipih).
Sebentar kemudian kereta api berhenti di stasiun Fort de Kock. Turunlah kami bersama penumpang lain yang tidak meneruskan perjalanannya ke Payakumbuh.
Amat sedap udara di Fort de Kock, dingin dan nyaman perasaan badan menghirup udara yang bersih itu. Oleh karena termasyhur keindahan alamnya, serta baik dan sehat iklimnya, maka banyaklah bangsa asing — lebih-lebih orang Eropa — datang beristirahat dan bertamasya ke sana. Itulah pula sebabnya negeri itu menjadi ramai dan diperindah juga.
Di kota Fort De Kock kelihatan benar kehidupan Bumiputera yang banyak meneladan orang Eropa. Mereka sudah tahu tinggal di dalam rumah yang berperabot baik-baik dan rapi aturannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar