Langsung ke konten utama

Angku Yus Dt. Parpatiah Berpulang



Innalillahi wa inna ilaihi raji'un.

IG bukittinggipressclub | Telah berpulang ke Rahmatullah urang tuo, inyiak/angku kito, Maestro Minangkabau, Tokoh Adat Alam Minangkabau, Angku Yusbir Datuak Parapatiah, di Rumah Tuo Suku Sikumbang, Jorong Nagari, Kanagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sabtu, 9 Syawal 1447 H/ 28 Maret 2026, pukul 16.30 WIB.

Semoga amal ibadah beliau diterima disisi Allah dan ditempatkan yang terbaik. Diampuni segala dosa-dosanya dan diterima amal ibadahnya. Aamiin Yaa Rabbal Aalamin.

Insya Allah jenazah Almarhum akan dimakamkan di Sungai Batang, Almarhum dikebumikan besok Minggu pagi (29/3/2026) di Dekat Masjid Syekh Muhammad Amrullah, Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat.

======

IG rundiang.id | Kepergian Angku Yus Datuak Parpatiah Guguak bukan sekadar duka, tapi adalah jeda sunyi dalam denyut kebudayaan Minangkabau.

Gurindam, pituah, dan petatah-petitih yang ia wariskan kini menjadi gema yang terus hidup, menyeberangi waktu dan ruang.

Dalam ingatan kolektif ranah dan rantau, ia tak benar-benar pergi melainkan berdiam dalam setiap kata bijak yang menuntun pulang pada jati diri.

======

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un

IG @info_agam | Langit Ranah Minangkabau kembali berduka. Telah berpulang ke rahmatullah urang tuo kito, sesepuh kita bersama, Maestro Minangkabau sekaligus Tokoh Adat Alam Minangkabau, Angku Yus Datuak Parapatiah (Angku Yusbir).

Beliau menghembuskan nafas terakhir di Rumah Tuo Suku Sikumbang, Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, pada Sabtu, 28 Maret 2026 pukul 16.30 WIB.

Kepergian beliau bukan sekadar kehilangan sosok, namun juga hilangnya satu sumber petuah, tuntunan adat, dan kebijaksanaan yang selama ini menjadi pelita bagi masyarakat Minangkabau.

Semoga segala amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT, diampuni segala dosa-dosanya, serta ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

Insya Allah, jenazah almarhum akan dikebumikan pada Minggu pagi (29 Maret 2026) di sekitar Masjid Syekh Muhammad Amrullah, Jorong Nagari, Kenagarian Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Selamat jalan, Angku…
Petuahmu akan tetap hidup, dan namamu akan selalu terpatri dalam adat dan hati urang Minangkabau.

========






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Adat Minang tak Bertentangan dengan Syari'at

Ilustrasi Gambar: kumparan Disalin dari kiriman FB Putra Al Minangkabawy Aldiyansyah Batapa Geli nya saya melihat Beberapa Orang yg tak faham adat MINANG ( Adat Datuk Perpatih ) tapi Berkomentar membawa & menyebut adat Minang bersebrangan dengan Syariat,kerana alasan Adat Minang lebih kepada Perempuan. Saya Sebagai Anak Jati Minang sunguh saya tak suka dengan Pikiran dangkal seperti itu. di sini saya perjelas sekalian berbagi ilmu kepada semua orang yang tak faham adat Minang, agar bisa memahami,agar tak sembarangan menghina Adat2 orang yang belum di Fahamkam. 1.Adat minang bersebrangan dengan Islam kerana MATRILINEAL/Lebih kepada Perempuan ?? 2. Harta pusaka lebih ke Perempuan ? Jangan Menghukum adat dengan Agama bila tak faham keduannya. "ADAT MINANG TIDAK ADA YANG BERSEBERANGAN/ BERTOLAK PADA SYARIAT KITABULLAH". Adat Minang inilah yang sangat istimewa , Mengapa ? Kerana hanya di adat Minang kedudukan Perempuan di hormati & diberikan hak-Haknya ,bukan direndahkan. ...

Ketika Sejarah Minang Ditulis oleh orang Jahil

    Tulisan ini ditulis oleh akun anonim yang menggunakan nama sangsekerta ( Pu Hyang) , tidak ada identitas lengkap mengenai sang penulis. Dilihat dari tulisan yang dibuat (dengan asumsi tulisan ini berasal dari buah pemikirannya sendiri) maka terdapat beberapa kemungkinan:  Pertama  Pu Hyang (sang penulis) bukan orang Minang dan dapat dimaklumi dengan perspektif  sentralistis  yang digunakannya dalam tulisan ini.  Kedua   Pu Hyang (sang penulis) ialah orang yang berasal dari ibu Minang namun tidak dibesarkan dengan Adat Minang, tidak mempelajari serta memahami adat Minang, layaknya kebanyakan orang yang mengaku Minang karena beribu Minang. Ia lebih banyak mengandalkan sumber dari para orientalis, arsip Kolonial, dan tulisan dari sarjana yang menulis dari perspektif yang sama sekali berbeda bahkan bertolak belakang dengan Adat Minang, ditambah dengan halusinasi dirinya tentang kebesaran Kerajaan di Minangkabau. Persis dengan salah seorang Penulis...

KISAH KETURUNAN CHE.

Foto: reseachgate  Disalin dari kiriman FB Eddy Ezwan KISAH KETURUNAN CHE. Majoriti populasi penduduk Kelantan terdiri dari kalangan bangsa Melayu, sejarah kerajaan dan kesultanan Kelantan pun sangat tua walau kesultanan pada hari ini cuma diasaskan pada pertengahan kurun ke-16, bagi melambangkan mereka dari golongan bangsawan Kelantan ramai yang memakai gelaran tersendiri bagi mengekalkan identiti mereka. Di Kelantan, gelaran mereka istimewa seperti gelar Nik, Wan, Tuan, Tengku, namun ada satu gelaran di Kelantan iaitu Che, gelaran ini seringkali menjadi polemik dikalangan yang membicarakannya. Untuk satu tempoh, ada keluarga dalam masyarakat Melayu Kelantan menggunakan gelaran Che dalam keluarga mereka seolah ia adalah gelaran bangsawan juga. Ada orang mengatakan gelaran Che ini adalah bagi golongan yang baru memeluk Islam, namun agak mengarut apabila direnung kembali adalah suatu perkara yang asing menggunakan gelaran ini secara berterusan dari bapa turun kepada anak seterusnya ...